TAPANULI SELATAN, TOMBAKRAKYAT.com. (11/5/2026) — Di ujung Kecamatan Arse, di antara dinginnya pegunungan dan sunyi hutan yang panjang, berdirilah sebuah desa kecil bernama Dalihan Natolu. Desa itu lahir dari tiga kampung—Tanoponggol, Nangguluon, dan Aek Nabara—yang menyatu di punggung bukit seperti tiga saudara yang sepakat bertahan di tempat tinggi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2020, hanya sekitar 256 jiwa tinggal di desa terpencil tersebut. Jumlah yang kecil, tetapi perjuangan hidup mereka begitu besar.
Dalihan Natolu berada di ketinggian sekitar 1.109 meter di atas permukaan laut, di perbatasan Kecamatan Arse dan Kabupaten Padang Lawas Utara. Desa ini bukan hanya jauh dari kota, tetapi juga terasa jauh dari perhatian. Perjalanan menuju ke sana seperti ujian kesabaran yang tak selesai-selesai. Dari ibu kota kecamatan, jarak sekitar 33 kilometer dapat berubah menjadi perjalanan panjang yang melelahkan. Jalan berbatu, tanjakan licin, dan lumpur membuat kendaraan tak mampu mencapai seluruh wilayah desa.
Sepeda motor memang masih bisa digunakan menuju desa itu, tetapi hanya dengan kondisi jalan seadanya. Ketika ada warga sakit, masyarakat terpaksa berjalan kaki melewati jalan setapak di lereng pegunungan sambil menandu pasien secara bergantian. Di kanan dan kiri, hutan membentang sunyi. Kabut turun perlahan bersama udara dingin yang menusuk tubuh.
Mayoritas warga Dalihan Natolu hidup sebagai petani. Mereka menjalani hari-hari sederhana dengan semangat gotong royong dan saling menjaga satu sama lain. Namun di balik kesederhanaan itu, tersimpan kenyataan pahit: akses kesehatan masih menjadi perjuangan panjang.
Desa tersebut belum memiliki tenaga kesehatan yang menetap. Meski bidan dari Puskesmas Arse rutin berkunjung, kondisi geografis membuat pelayanan medis tidak mudah dijangkau setiap waktu. Saat ada warga sakit mendadak, terutama pada malam hari atau ketika hujan turun, masyarakat hanya bisa berharap keadaan tidak semakin buruk.
Sabtu pagi, 9 Mei 2026, harapan dan kecemasan bercampur di Dusun Aek Nabara. Seorang ibu hamil bernama Mastuti Daulae, 35 tahun, harus segera dibawa keluar desa untuk mendapatkan pertolongan medis. Sudah beberapa hari ia mengalami kontraksi dan pecah ketuban. Karena sulitnya akses menuju fasilitas kesehatan, proses persalinan sempat dicoba secara mandiri di rumah.
Sekitar pukul 08.00 WIB, Mastuti ditandu warga menyusuri jalan setapak pegunungan. Bersama keluarga, kepala desa, Babinsa Koramil 03/Sipirok, dan didampingi koordinasi tenaga kesehatan dari Puskesmas Hanopan, perjalanan panjang itu dimulai. Langkah demi langkah dilewati dengan tenaga seadanya. Tanjakan curam, jalan licin, dan dingin pegunungan menjadi saksi bagaimana warga bergotong royong memikul harapan seorang ibu.
Babinsa Koramil 03/Sipirok, Erwin Harahap, mengatakan proses evakuasi dilakukan bersama masyarakat dengan penuh keterbatasan medan.
“Medannya sangat berat dan hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki. Kami bersama warga berusaha semaksimal mungkin membawa ibu Mastuti agar segera mendapatkan penanganan medis. Ini menjadi perhatian serius karena menyangkut keselamatan masyarakat di daerah terpencil,” ujarnya.
Enam jam kemudian, sekitar pukul 14.00 WIB, rombongan tiba di Dusun Hasahatan, Desa Dolok Sordang, Kecamatan Sipirok. Dari sana Mastuti dibawa menggunakan mobil menuju RSUD Sipirok dengan pendampingan bidan Nirma Julinda Nasution.
Namun harapan itu perlahan runtuh ketika pemeriksaan dilakukan. Sekitar pukul 16.00 WIB, hasil USG menunjukkan detak jantung janin sudah tidak ada lagi. Menurut keterangan Mastuti, janin tidak bergerak sejak sehari sebelumnya. Pukul 16.30 WIB, bayi pun lahir dalam keadaan meninggal dunia. Tiga puluh menit kemudian plasenta berhasil dilahirkan lengkap dan penanganan medis selesai dilakukan.
Peristiwa ini bukan hanya kisah tentang seorang ibu yang kehilangan bayinya. Ini adalah potret nyata tentang bagaimana warga di pelosok masih harus mempertaruhkan waktu, tenaga, bahkan nyawa demi mendapatkan layanan kesehatan dasar. Di Dalihan Natolu, jarak bukan lagi dihitung dengan kilometer, melainkan dengan rasa lelah, kecemasan, dan kemungkinan kehilangan yang mengintai di setiap perjalanan.
(IAB)












