
Banda Aceh – Tombak Rakyat.com , Selasa (09/12/2025) — Pasca bencana banjir bandang dan longsor yang melanda Kabupaten Aceh Tenggara, Provinsi Aceh, antrean panjang bahan bakar minyak (BBM) terjadi di sejumlah SPBU selama lebih dari satu pekan terakhir. Forum Membangun Desa (Formades) mencatat antrean mengular terjadi di empat SPBU di wilayah Aceh Tenggara.
Samsul Bahri, SH, Kepala Bidang Hukum dan HAM DPC Formades Aceh Tenggara, menyampaikan bahwa pihaknya mengajak Forkopimda Aceh Tenggara untuk segera mengambil langkah bersama mencari solusi mengatasi situasi tersebut.
“Kami mengajak Forkopimda Aceh Tenggara segera mengambil langkah solusi. Bencana ini bukan hanya tanggung jawab Bupati, tetapi tanggung jawab kita bersama. Jangan biarkan Bupati mengurus bencana ini sendiri,” ujar Samsul.
Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak boleh berlama-lama dalam menangani persoalan BBM, terutama karena ada temuan harga BBM bersubsidi dijual melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET). Menurutnya, kondisi ini dapat membuat ekonomi masyarakat terdampak bencana semakin terpuruk.
“Kami juga korban. Kalau ekonomi masyarakat kolaps, siapa yang salah?” tambahnya.
Formades meminta agar Polres, Satpol PP, TNI, Kejaksaan, dan unsur terkait lainnya dikerahkan untuk melakukan penertiban di setiap SPBU. Samsul juga mengusulkan beberapa mekanisme pengaturan, antara lain:
Kendaraan yang sudah mengisi BBM pada hari itu tidak diperbolehkan mengisi lagi keesokan harinya.
Setiap pengisian BBM wajib didokumentasikan untuk bukti.
Kendaraan dilarang antre sebelum mobil tangki BBM tiba di SPBU.
“Jika langkah-langkah seperti ini tidak dilakukan, kami patut curiga ada permainan kotor dalam situasi bencana ini dan Forkopimda seolah tutup mata. Sangat disayangkan bila ada oknum mengambil keuntungan di tengah musibah,” ucapnya.
Samsul menegaskan bahwa pihaknya tidak bermaksud membela Bupati Aceh Tenggara. Ia mengakui bahwa Bupati telah menerbitkan surat pembatasan pengambilan BBM di SPBU, namun kondisi di lapangan masih belum normal.
“Kami yang terdampak banjir dan longsor juga membutuhkan perhatian. Kendaraan kami harus tetap bisa digunakan untuk mencari nafkah—baik sopir angkot, tukang becak, maupun pedagang keliling,” katanya.
Di akhir pernyataan, Samsul meminta para oknum yang memanfaatkan keadaan untuk segera menghentikan praktik penjualan BBM bersubsidi di atas HET.
“Tidak ada alasan logis bagi masyarakat harus antre berjam-jam. Hentikan permainan ini,” tutupnya.












