SOCIAL & BUDAYA

“Maten” Meriahkan Hajatan Pernikahan di Kampung Madura, Surabaya.

57
×

“Maten” Meriahkan Hajatan Pernikahan di Kampung Madura, Surabaya.

Sebarkan artikel ini

SURABAYA, TOMBAKRAKYAT.com : Selasa (20/1/26) ~  Tradisi “maten”, lomba domino masih terus dilestarikan oleh masyarakat Madura, khususnya saat digelarnya hajatan pernikahan. Tradisi ini tidak hanya menjadi hiburan rakyat, tetapi juga menjadi sarana mempererat silaturahmi antar warga.
Dalam pelaksanaannya, para peserta yang umumnya berasal dari tetangga dan kerabat dekat beradu strategi dalam permainan domino. Suasana penuh keakraban terlihat jelas, dengan tuan rumah menyediakan tempat dan suguhan serta hadiah sebagai bentuk penghormatan kepada tamu yang hadir. Lebih dari sekadar perlombaan, maten mencerminkan nilai kebersamaan, gotong royong, dan keguyuban yang masih kuat dijaga dalam budaya masyarakat Madura. Tradisi ini menjadi simbol hidupnya interaksi sosial di tengah masyarakat, terutama pada momentum sakral seperti pernikahan.

Baca Juga  Bukber Komunitas Budaya Arahiwang Moncer Gelar Ketoprak Milenial

 

Di kawasan Pasar Ikan Pabean, tradisi maten juga digelar oleh masyarakat Madura perantauan. Meski jauh dari tanah kelahiran, mereka tetap mempertahankan tradisi leluhur sebagai bentuk identitas budaya sekaligus perekat kebersamaan di lingkungan perantauan.

Pasar Pabean, pasar ikan di tengah kota Surabaya, dikenal sebagai kawasan yang mayoritas dihuni dan diwarnai oleh masyarakat Madura. Mulai dari pedagang, pekerja bongkar muat, petugas kebersihan hingga petugas parkir, sebagian besar berasal dari Madura dan telah lama menggantungkan hidup di kawasan tersebut.

Baca Juga  Pengajian Rajaban dan Isra Mikraj di Desa Kaligono Purworejo, Warga Diajak Hijrah Sosial dan Jaga Kerukunan

 

Kentalnya budaya Madura membuat Pasar Pabean kerap disebut layaknya “kampung Madura” di tengah Kota Surabaya. Bahasa Madura digunakan dalam percakapan sehari-hari, tradisi leluhur tetap dijaga, dan solidaritas antar warga terbangun kuat.

 

Kondisi ini menjadikan Pabean bukan sekadar pusat aktivitas ekonomi, tetapi juga ruang hidup budaya bagi masyarakat Madura perantauan di Surabaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *