RELIGIEdisi Ramadhan

Saat Laut Terbelah oleh Tongkat Nabi Musa, Fir’aun Kehilangan Kuasa

70
×

Saat Laut Terbelah oleh Tongkat Nabi Musa, Fir’aun Kehilangan Kuasa

Sebarkan artikel ini

TOMBAKRAKYAT RAMADHAN

 

Jam 03.47. Alarm sudah bunyi tiga kali. Mata masih 10 watt. Kopi lebih dulu bangun daripada semangat. Sambil nunggu sahur, mari kita ngobrol tentang satu nabi yang kisahnya penuh adegan dramatis—lebih menegangkan dari film aksi mana pun: Nabi Musa AS.

 

Dalam Al-Qur’an, nama Musa paling sering disebut. Bukan tanpa alasan. Hidup beliau seperti rangkaian episode panjang penuh ujian, keberanian, dan plot twist yang tak masuk logika manusia.

 

Beliau diperkirakan hidup sekitar abad ke-13 SM, di masa kejayaan Mesir Kuno yang sering dikaitkan dengan kekuasaan Ramses II. Saat itu, satu nama berdiri di atas segalanya: Fir’aun. Penguasa absolut. Otoriter. Dan sangat takut pada mimpi buruknya sendiri—lahirnya seorang bayi laki-laki dari Bani Israil yang akan meruntuhkan kekuasaannya.

 

Maka keluarlah perintah kejam: semua bayi laki-laki harus dibunuh.

 

Di tengah situasi mencekam itulah Musa lahir. Ibunya mendapat ilham untuk menghanyutkannya ke Sungai Nil. Secara logika? Mustahil selamat. Tapi takdir Allah bekerja dengan cara yang sering membuat kita terdiam. Bayi yang hendak dibunuh itu justru ditemukan dan dibesarkan di istana Fir’aun sendiri.

Baca Juga  Pondok Pesantren Al-washilah Siap Cetak Santri Berdaya Saing di Era Modern

 

Yang ingin membunuh, malah jadi “orang tua asuh”.

Empat puluh tahun pertama, Musa hidup dalam kemewahan istana. Namun darah Bani Israil tetap mengalir di hatinya. Sampai suatu hari, dalam upaya membela kaumnya, ia tanpa sengaja membunuh seorang lelaki Mesir. Panik? Tentu. Takut? Jelas. Ia pun melarikan diri ke Madyan.

 

Dari anak istana menjadi penggembala. Turun jabatan? Mungkin secara dunia. Tapi justru di padang penggembalaan itulah Allah sedang membentuk kesabarannya. Di sana ia bertemu jodohnya—putri Nabi Syu’aib—dan menjalani fase hidup yang lebih tenang. Empat puluh tahun kedua: fase belajar rendah hati.

 

Lalu di usia 40 tahun, di sekitar Bukit Sinai, hidupnya berubah total. Allah memanggilnya menjadi rasul. Musa sempat ragu. Ia merasa tidak fasih berbicara. Ia bahkan meminta saudaranya, Harun, untuk mendampinginya. Ini menarik—seorang nabi pun pernah merasa tidak percaya diri. Bedanya, ia membawa rasa takut itu kepada Allah, bukan ke media sosial.

Baca Juga  Polresta Cirebon Lakukan Patroli Monitoring Vihara Imlek 2577 Kongzili Pastikan Situasi Kondusif 

 

Misi besar dimulai: kembali ke Mesir, menghadapi Fir’aun.

 

Tongkatnya berubah menjadi ular. Tangannya bercahaya. Para penyihir kerajaan takluk. Tapi Fir’aun tetap keras kepala. Puncaknya? Laut Merah terbelah. Di saat Bani Israil panik melihat pasukan di belakang dan laut di depan, Musa berkata tenang, “Sesungguhnya Tuhanku bersamaku.”

 

Kalimat yang ringan diucap, tapi berat saat keadaan genting.

Fir’aun dan tentaranya tenggelam. Kekuasaan yang sombong runtuh oleh kuasa Allah.

 

Empat puluh tahun terakhir Musa diisi dengan memimpin Bani Israil, menerima Taurat di Gunung Sinai, dan berdialog langsung dengan Allah. Karena itu ia mendapat gelar Kalimullah—yang diajak berbicara oleh Allah.

Baca Juga  Nabi Ilyasa’: Penjaga Api Tauhid di Negeri yang Hampir Lupa Tuhan

 

Musa adalah sosok tegas, berani, kadang emosional, tapi sangat dekat dengan Rabb-nya. Hidupnya mengajarkan bahwa perjuangan tidak selalu nyaman. Kadang kita harus melewati istana, padang pasir, penolakan, bahkan kejaran “Fir’aun” dalam hidup kita sendiri.

 

Ramadan ini, mungkin kita tidak sedang membelah laut. Tapi mungkin kita sedang berdiri di depan masalah besar yang terasa mustahil. Belajar dari Musa: tugas kita hanya taat dan melangkah. Soal laut terbelah atau tidak, itu wilayah Allah.

 

Dan kalau hari ini hidup terasa pahit seperti kopi sahur tanpa gula, ingatlah—Musa pun ditempa 40 tahun demi 40 tahun sebelum sampai pada puncak misinya.

 

Sabar. Berani. Percaya.

 

Karena sering kali, justru di depan laut yang tampak buntu, pertolongan Allah sedang menunggu perintah-Nya turun.

 

Penulis :

Irwan Alimuddin Batubara, S.Sos.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *