RELIGIEdisi Ramadhan

Seni Menjaga Api: Kepemimpinan Teduh ala Nabi Harun di Tengah Ujian Kaum

51
×

Seni Menjaga Api: Kepemimpinan Teduh ala Nabi Harun di Tengah Ujian Kaum

Sebarkan artikel ini

TOMBAKRAKYAT RAMADHAN

 

Nungguin sahur matang, kompor masih bunyi “cesss” pelan, mari kita ngobrol santai tentang satu sosok yang sering berdiri di samping layar, tapi jelas bukan figuran. Inilah kisah Nabi Harun AS—saudara seperjuangan Nabi Musa, penyejuk di tengah panasnya istana Fir’aun.

 

Kalau Musa dikenal tegas seperti palu sidang yang diketok tiga kali langsung sunyi, maka Harun itu ibarat ketukan sendok di gelas kopi—lembut, tapi bikin semua orang fokus. Ia putra Imran, saudara kandung Musa dari Bani Israil, keturunan Nabi Ya‘qub. Usianya lebih tua sekitar tiga tahun. Ketika Musa menerima perintah berdakwah, beliau tak gengsi berdoa, “Ya Allah, jadikan Harun pendampingku, karena lisannya lebih fasih.” Doa itu dikabulkan. Dari awal, misi ini bukan solo karier, tapi duet maut—versi langit.

 

Bayangkan suasana istana Fir’aun: marmer mengilap, pengawal berlapis seperti bawang, dan seorang penguasa yang percaya diri mengaku tuhan. Lalu masuk dua bersaudara dari kalangan tertindas. Presentasi paling menegangkan sepanjang sejarah—audiennya merasa Mahakuasa! Musa menyampaikan risalah dengan tegas, Harun menguatkan dengan tutur yang jernih. Ketika tongkat berubah jadi ular dan tangan bercahaya, para penyihir sampai bengong seperti salah bawa trik. Mukjizat memang sering dinisbatkan kepada Musa, tapi Harun berdiri di garis depan—bukan bayangan, melainkan penguat frekuensi dakwah.

Baca Juga  Nabi Ilyasa’: Penjaga Api Tauhid di Negeri yang Hampir Lupa Tuhan

 

Namun ujian terbesar Harun justru datang bukan dari istana, melainkan dari grup internal—kaumnya sendiri. Saat Musa naik ke Sinai menerima wahyu, Bani Israil tergoda menyembah patung anak sapi buatan Samiri. Tekanan sosialnya sudah seperti trending topic nomor satu. Harun menasihati, mengingatkan, menenangkan. Tapi massa yang sudah terbakar emosi kadang lebih susah didinginkan daripada wajan habis goreng tempe. Ia bahkan hampir dibunuh karena menolak kemusyrikan itu.

Baca Juga  Ansor–Banser Jogoroto Dirikan Posko Mudik 2026 untuk Layani dan Amankan Arus Mudik

 

Di sinilah dilema kepemimpinan Harun: bersikap keras dan berisiko memecah belah, atau menahan diri sambil terus mengingatkan? Ia memilih menjaga persatuan tanpa menyerah pada kebenaran. Ketika Musa kembali dan marah melihat penyimpangan itu, Harun menjelaskan bahwa ia sudah berusaha sekuat tenaga, hanya tak ingin kaumnya tercerai-berai. Itu bukan tanda lemah—itu seni menakar dampak. Kadang menjaga api agar tak makin membesar butuh keberanian yang sunyi, yang tak viral tapi vital.

 

Harun wafat sekitar usia 123 tahun, tak lama sebelum Musa. Anak-anaknya kelak menjadi garis pemimpin agama di kalangan Bani Israil. Namanya mungkin tak selalu disebut pertama, tapi jejaknya panjang dan dalam—seperti aroma kopi yang tertinggal meski cangkirnya sudah kosong.

Baca Juga  UNWAHAS Refleksikan Spirit Isra Mi'raj dan Harlah NU ke-100: Rektor Ajak Pegawai Tingkatkan Kualitas Pelayanan

 

Dari Harun kita belajar, perjuangan tak selalu soal siapa paling lantang atau paling sering tampil di depan kamera. Ada yang perannya meneduhkan saat suhu debat naik. Ada yang berdiri di samping, memastikan misi tetap lurus ketika emosi mulai belok. Dunia butuh Musa yang tegas, tapi juga butuh Harun yang lembut.

 

Dalam keluarga, kantor, atau tongkrongan sahur, mungkin kita bukan yang paling vokal. Mungkin kita adalah Harun—yang merapikan kata, merawat hati, dan menjaga agar langkah besar tak goyah oleh ego sesaat.

 

Seruput kopi terakhir sebelum azan berkumandang. Kalau hari ini terasa berat, ingatlah: menjadi penenang bukan berarti kalah sorotan. Kadang justru di situlah letak kekuatan yang paling dibutuhkan—tenang, tapi menentukan.

 

Penulis :

Irwan Alimuddin Batubara, S.Sos.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *