KENDAL,TOMBAK RAKYAT.COM – Di sebuah sudut sempit Gang Bonan, Kelurahan Langenharjo, debu tanah liat kering tampak menyelimuti lantai kayu.Di sana, seorang pria senja bernama Rusmadi (74) duduk bersimpuh, kedua tangannya yang legam tampak cekatan mengelus permukaan dingin sebuah vas bunga besar yang sedang ia bentuk.
Meski peluh membasahi dahi, sorot matanya tetap fokus. Bagi Rusmadi, tanah liat bukan sekadar hamba, melainkan napas kehidupan yang telah ia jalani sejak tahun 1976.Namun sayang, napas kerajinan gerabah di Langenharjo kini kian tersengal, berada di ambang kepunahan.
Kejayaan yang Tergerus Zaman
Dahulu, Langenharjo adalah sentra kerajinan yang berdenyut kencang.Pada masa keemasannya di era 80-an hingga awal 90-an, ada sekitar 150 pengrajin yang tak henti memutar meja perajin.
Kini, jumlah itu merosot tajam. Hanya tersisa sekitar 15 orang yang masih setia, termasuk Rusmadi, generasi ketiga di keluarganya.
“Dulu pesanan mengalir setiap hari dari berbagai daerah. Sekarang sepi, paling hanya pot besar atau barang-barang yang menyerupai antik,” keluh Rusmadi pelan saat ditemui pada Jumat (10/4/2026).
Penyebabnya klasik namun menyakitkan: gempuran produk modern berbahan aluminium, logam, dan plastik. Masyarakat kini lebih memilih peralatan yang dianggap lebih praktis dan tahan banting, menggeser peran gerabah tradisional ke sudut gudang yang berdebu.
Perjuangan Demi Dapur Tetap Ngebul
Proses pembuatan gerabah bukanlah perkara mudah. Rusmadi harus berkutat dengan tanah liat persawahan yang perlu dibersihkan, direndam, dicampur pasir sungai, hingga diinjak-injak dengan tenaga ekstra agar teksturnya sempurna.

Dalam sehari, ia mampu menghasilkan 20 gerabah kecil atau 3 buah ukuran besar. Harganya pun sangat merakyat, mulai dari Rp5.000 hingga Rp400.000. Namun, setelah dipotong modal, Rusmadi hanya mampu membawa pulang keuntungan bersih sekitar Rp1 juta per bulan.
Angka yang sangat minim untuk memenuhi kebutuhan keluarga di tengah harga pokok yang kian melambung.
Harapan di Tangan Generasi Keempat
Di tengah situasi sulit ini, secercah harapan muncul dari sang anak, Rosyid Ridho (30).Pemuda ini memutuskan pulang kampung pada 2020 lalu untuk belajar langsung dari sang ayah.
Sebagai generasi keempat, Rosyid merasa memikul beban sejarah agar warisan nenek moyangnya tidak hilang ditelan zaman.Pemerintah setempat melalui Plt Kepala Kelurahan Langenharjo, Jupriyono, menyatakan dukungannya.
Pihak kelurahan mulai mendorong promosi digital melalui media sosial dan pelibatan dalam pameran UMKM untuk mencari pasar baru.
“Perlu dukungan semua pihak agar kerajinan gerabah di Langenharjo tidak hilang,” tandas Jupriyono.
Bagi Rusmadi dan pengrajin yang tersisa, setiap putaran meja perajin bukan lagi soal mengejar kekayaan, melainkan cara mereka menjaga martabat tradisi sembari menyambung hidup di tengah sunyinya pesanan.












