banner 970x250
RELIGIEdisi Ramadhan

Dzulkifli, Nabi yang Mengalahkan Iblis dengan Kesabaran

19
×

Dzulkifli, Nabi yang Mengalahkan Iblis dengan Kesabaran

Sebarkan artikel ini

TOMBAKRAKYAT: RAMADHAN

 

Sambil nunggu sahur, kopi dulu. Jangan banyak gula. Biar hidup terasa pahit sedikit, supaya ingat kalau sabar itu bukan teori, tapi latihan. Alarm sudah bunyi tiga kali. Mata masih 10 watt. Grup WhatsApp keluarga sudah ribut kirim stiker “SAHUUURR!”. Di tengah suasana setengah sadar itu, mari kita ngobrol santai tentang satu nama yang jarang jadi bahan kuis Ramadan: Nabi Dzulkifli AS.

 

Namanya mungkin tidak seterkenal Nuh dengan bahteranya atau Musa dengan tongkatnya. Tapi ia disebut langsung dalam Al-Qur’an, Surah Al-Anbiya ayat 85 dan Surah Shad ayat 48. Disebut sebagai orang yang sabar dan saleh. Itu bukan pujian biasa. Itu rekomendasi langsung dari langit.

Baca Juga  Haul Mbah Soleh Zamzami Digelar Khidmat di Ponpes Kebon Syarif Cibogo Cirebon, Gubernur Jabar Dedi Mulyadi Berhalangan Hadir

 

Dzulkifli diyakini hidup setelah Nabi Ilyasa dan sebelum Nabi Yunus, sekitar abad ke-8 sebelum Masehi di wilayah Irak kuno. Sunyi dari sorotan sejarah, tapi harum dalam catatan keimanan. Bahkan sebagian ulama mengaitkannya dengan Yehezkiel dalam tradisi Bani Israil—meski ini masih jadi perbedaan pendapat.

 

Namanya berarti “yang memegang tanggung jawab” atau “penanggung amanah.” Dan amanah yang ia pegang bukan recehan. Ia berjanji untuk berpuasa di siang hari, salat di malam hari, dan—ini yang berat—tidak marah saat memutuskan perkara.

 

Coba bayangkan. Kita saja kadang belum imsak sudah emosi karena gorengan kurang satu. Dzulkifli? Memimpin masyarakat, menghadapi persoalan, tapi tidak boleh marah. Ini bukan sekadar sabar level antre bensin. Ini sabar level pemimpin yang diuji tiap hari.

Baca Juga  Khitan Massal “Sambut Berkah Ramadhan 1447 H” Hadirkan Kepedulian Sosial untuk Warga Cirebon

 

Ada kisah tentang iblis yang mencoba memancing emosinya. Datang mengganggu, mengusik, berharap Dzulkifli terpancing. Mungkin iblis sudah siap tepuk tangan kalau beliau naik darah. Tapi tidak. Dzulkifli tetap tenang. Iblis pulang dengan wajah lelah. Salah target.

 

Mukjizatnya bukan membelah laut. Bukan juga menghidupkan yang mati. Mukjizat terbesarnya adalah konsistensi. Menepati janji. Menjaga emosi. Teguh dalam ibadah. Di zaman sekarang, itu sudah terasa seperti keajaiban.

 

Usianya tidak diketahui pasti. Ada riwayat Israiliyat menyebut antara 75 sampai 100 tahun. Tapi yang lebih penting bukan berapa lama ia hidup, melainkan bagaimana ia hidup. Tenang. Teguh. Tidak meledak-ledak.

Baca Juga  Kisah Ismail: Tenang Seperti Zamzam, Abadi Sepanjang Zaman

 

Di tengah dunia yang sedikit-sedikit tersinggung, Dzulkifli seperti bisikan lembut saat sahur: kuat itu bukan yang paling keras suaranya, tapi yang paling mampu menahan diri. Puasa bukan cuma menahan lapar, tapi juga menahan komentar pedas, menahan jempol agar tidak sembarang balas.

 

Jadi sambil menyeruput kopi sahur ini, kita belajar satu hal: kadang mukjizat terbesar bukan membelah laut, tapi membelah ego sendiri. Kalau pagi ini kita bisa menahan marah karena nasi kurang hangat, mungkin itu langkah kecil meneladani Dzulkifli.

 

Imsak sebentar lagi. Kopi hampir habis. Sabar jangan ikut habis.

 

Penulis :

Irwan Alimuddin Batubara, S.Sos.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *