TombakReligi
Bulan Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an. Di dalamnya, umat Islam berlomba-lomba membaca, mengkhatamkan, bahkan menghafal ayat-ayat suci. Namun terkadang lupa bahwa ada satu peringatan penting dari Rasulullah ﷺ yang harus kita renungkan serta kita cermati : jangan sampai Al-Qur’an hanya berhenti di tenggorokan kita saja, tanpa menyentuh hati dan merubah perilaku kita.
Rasulullah ﷺ bersabda :
الْحَمْدُ لِلَّهِ، كِتَابُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاحِدٌ فِيهِ الْأَحْمَرَ وَالْأَسْوَدَ، اقْرَءُوا، اقْرَءُوا، اقْرَءُوا، قَبْلَ أَنْ يَجِيءَ أَقْوَامٌ يُقِيمُونَهُ كَمَا يُقَامُ الْقَدَحُ، لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ، يَتَعَجَّلُونَ أَجْرَهُ وَلَا يَتَأَجَّلُونَهُ
“Segala puji bagi Allah (Alloh). Kitab Alloh ‘Azza wa Jalla adalah satu, di dalamnya terdapat (petunjuk bagi) orang yang berkulit merah maupun hitam. Bacalah, bacalah, bacalah, sebelum datang kaum yang menegakkannya sebagaimana menegakkan anak panah, tidak melewati tenggorokan mereka. Mereka menyegerakan pahalanya dan tidak menunda pahalanya.” (H.R. Abu Ubaid dalam Fadho’ilil Qur’an no. 68–69)
Hadits ini menggambarkan fenomena yang juga disebut dalam riwayat lain tentang kaum Khowarij. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa mereka membaca Al-Qur’an namun “tidak melewati tenggorokan mereka.” Artinya, bacaan itu tidak masuk ke hati, tidak melahirkan pemahaman yang benar, dan tidak berbuah amal soleh.
Makna “Tidak Melewati Tenggorokan”
Para ulama menjelaskan bahwa maksudnya adalah bacaan yang hanya sebatas lisan saja. Ibnu Hajar al-Asqolani menerangkan bahwa bacaan seperti ini tidak terangkat nilainya di sisi Allah (Alloh) karena tidak diiringi iman dan penghayatan.
Fenomena ini tampak ketika seseorang fasih membaca Al-Qur’an, hafal banyak ayat, bahkan pandai berbicara tentang agama secara lancar, tetapi akhlaknya tidak berubah. Ia mudah marah, pandai menjudge, gemar merendahkan orang lain, menganggap dirinya lebih tau tentang agama islam, bahkan sangat berani mengkafirkan sesama Muslim yang berbeda pendapat. Inilah ciri ilmu yang kering : ilmu sebatas di mulut, sedikit di hati.
Perintah Membaca dan Merenungkan
Dalam hadits di atas, Nabi ﷺ mengulang perintah, “Bacalah!” “Bacalah!” “Bacalah!” sebanyak tiga kali. Ini menunjukkan sangat pentingnya interaksi dengan Al-Qur’an. Namun membaca yang dimaksud bukan sekadar melafalkan huruf, melainkan juga memahami dan merenungkan setiap detail makna yang terkandung di setiap ayat Al-Qur’an.
Alloh SWT berfirman :
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
“Maka apakah mereka tidak merenungkan Al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci?” (Q.S. Muhammad: 24)
Ayat ini menegaskan bahwa tujuan membaca adalah tadabbur, yaitu merenungkan makna ayat. Hati yang tidak mau merenung diibaratkan hati yang terkunci.
Dalam ayat lain Alloh SWT berfirman :
كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ
“(Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka merenungi ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran.” (Q.S. Shad: 29)
Jelaslah bahwa Al-Qur’an diturunkan bukan hanya untuk dibaca saja, tetapi juga untuk direnungi dan diamalkan dengan hati penuh ketawadhu’an.
Bahayanya Mengejar Pahala Instan
Rasulullah ﷺ juga menyebutkan bahwa akan ada kaum yang “menyegerakan pahalanya.” Maksudnya, mereka hanya fokus pada pahala setiap huruf, tetapi melupakan tujuan yang sangat besar di dalam kandungan Al-Qur’an, yang mana sebagai petunjuk dalam kehidupan.

Memang benar, setiap huruf bernilai pahala. Namun jika orientasi kita hanya kuantitas bacaan tanpa perubahan diri serta perubahan sikap, maka kita kehilangan inti dari Romadhon itu sendiri. Al-Qur’an seharusnya mengubah sikap kita menjadi lebih sabar, jujur, lembut, dan adil tanpa menggurui serta mengkomentari secara instan, apalagi mudah menjudge menurut pemahaman kita sendiri, belum cukupkah hikmah pelajaran dari kisah azazil yang dulu begitu mulianya dan di tulis di berbagai riwayat dan kisah-kisah tafsir dimana Azazil digambarkan sebagai makhluk yang memiliki kedudukan yang sangat tinggi sebelum kejatuhannya, dan rincian mengenai julukannya tersebut :
- Ahli Ibadah dan Ahli Ilmu : Azazil dikenal beribadah dengan penuh keikhlasan kepada Alloh SWT selama lebih dari 185.000 tahun atau 40.000 tahun dalam beberapa riwayat. Ia juga dikenal sebagai makhluk yang memiliki ilmu pengetahuan yang sangat luas dan mendalam (Ahli Riwayat /Ahli Ilmu).
- Bendahara Surga (Al-Khozin) : Azazil pernah dipercaya sebagai penjaga atau bendahara surga (Al-Khozin) selama puluhan ribu tahun.
- Imam/Pemimpin Malaikat: Azazil adalah pemimpin para malaikat (sering disebut sebagai Panglima Besar Malaikat) dan imam malaikat KAROBIYYUN (kelompok malaikat yang menempati tingkat tertinggi di sisi Alloh SWT, bertugas utama membantu serta mendampingi malaikat Mikail. Mereka dikenal sebagai malaikat yang selalu bertasbih, menyucikan Asma Alloh, dan sebagian dari mereka termasuk penyangga Arsy (Hamalatil Arsy).. Dia juga pernah menjadi penasehat para malaikat selama puluhan tahun.
- Gelar di Langit : Disebutkan bahwa di setiap langit, Azazil memiliki julukan yang begitu mulia.
- Penyebab Kejatuhan : Semua kemuliaan itu hilang seketika ketika ia menolak perintah Alloh untuk bersujud kepada Nabi Adam AS karena sombong, merasa dirinya lebih baik. Setelah penolakannya tersebut, Azazil diusir dari surga dan diubah namanya menjadi Iblis, serta dilaknat hingga hari kiamat.
Mengapa Penghayatan Al-Qur’an Itu sangat Penting?
Pertama, Al-Qur’an membentuk karakter. Jika dibaca dengan hati penuh ketawadhu’an, ia akan melunakkan jiwa dan memperbaiki akhlak.
Kedua, Al-Qur’an menenangkan hati. Janji dan peringatan Alloh memberi harapan dan rasa takut yang seimbang.
Ketiga, Al-Qur’an menjadi pedoman hidup. Ia membimbing dalam urusan ibadah, keluarga, muamalah, hingga akhlak sosial tanpa menggurui apalagi menjudge secara langsung.
Keempat, Al-Qur’an mendekatkan kita kepada Allah (Alloh). Setiap ayat adalah firman-Nya, dan ketika kita memahaminya, kita sedang berdialog dengan sang Robbul Izzati (رب العزة) yang berarti “Tuhan Yang Maha Perkasa” atau “Tuhan Yang Memiliki Keagungan serta Kemuliaan”.
Langkah Praktis di Bulan Ramadhan
Agar Al-Qur’an tidak hanya berhenti di tenggorokan, ada beberapa langkah sederhana dan paling simpel :
- Baca Al-Qura’an dengan lembut serta gunakan makhorijul tajwidnya dengan baik sesuai kemampuan, lalu lanjutkan membaca terjemahnya. Jangan hanya mengejar khatam, tetapi enggan untuk memahami arti serta kandungan dari pada ayat yang telah ia baca.
- Luangkan waktu untuk tadabbur. Meski hanya lima ayat, renungkan maknanya dan hubungkan dengan kehidupan sehari-hari kita.
- Pelajari tafsir dari ulama terpercaya (sangat di sarankan mengkaji secara tatapmuka lansung). Ini membantu memahami konteks dan pesan yang terkandung dalam setiap ayat Al-Qur’an secara baik.
- Amalkan dalam kehidupan sehari-hari meskipun itu sedikit. Misalkan kita sehabis membaca ayat Al-Qur’an tentang sedekah, maka usahakan sekecil apapun praktikkanlah. Jika membaca tentang sabar, latih diri untuk menahan emosi.
- Berdoa memohon pemahaman. Mintalah kepada Alloh SWT agar hati kita dibukakan terhadap Al-Qur’an.
Ramadhan tahun 2026 ini marilah kita jadikan sebagai momentum terbaik untuk memperbaiki hubungan hati diri kita dengan Al-Qur’an. Jangan biarkan ia hanya menjadi lantunan merdu di lisan kita saja, tetapi jadikanlah ia cahaya yang masuk ke hati, mengubah pikiran, dan membimbing perbuatan. Semoga kita termasuk hamba yang membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an, sehingga bacaan kita benar-benar melewati tenggorokan dan menetap di dalam hati serta membumi dalam kehidupan sehari-hari.
Oleh : Mohamad Saifulloh, S.H., C.MDF., CPP., CIJ., CPW.












