Anjatan_ Indramayu, TOMBAKRAKYAT.COM— Mendekati hari raya Idul Fitri, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia selalu menantikan tradisi yang penuh makna dan kehangatan, salah satunya adalah Prepegan. Tradisi ini bukan hanya sekadar kegiatan jual beli atau pameran kebutuhan menjelang Lebaran, tetapi juga menjadi cerminan kebersamaan, kekompakan, serta menjaga warisan budaya dari generasi ke generasi.
Prepegan sendiri merupakan sebuah tradisi yang sudah mendarah daging dalam budaya masyarakat Jawa dan sekitarnya. Di Indramayu, khususnya di Kecamatan Anjatan dan Haurgelis, kegiatan ini selalu dinantikan setiap tahun. Pasar tradisional ini berlangsung di Pasar WANGUK, Kedungwungu Anjatan, yang dipenuhi oleh berbagai penjual dan pengunjung sejak subuh hingga menjelang waktu sholat Jumat. Keberadaannya tidak hanya menarik warga lokal, tetapi juga dari daerah tetangga seperti Bongas, Anjatan Utara, Desa Bogis, dan sekitarnya.
Kegiatan ini biasanya berlangsung selama dua hari. Pada hari pertama dikenal sebagai Prepegan kecil, sementara hari kedua disebut Prepegan besar. Dalam dua hari tersebut, pasar tradisional ini dipenuhi oleh berbagai kebutuhan lebaran mulai dari kembang api hingga perlengkapan hari raya lainnya. Ada pula penjual makanan khas Lebaran yang menyemarakkan suasana pasar dengan aroma menggoda dan sajian khas yang tak terlupakan.
“”Gunawan, seorang warga Kedungwungu sekaligus pengunjung setia tradisi Prepegan, berbagi cerita bahwa kegiatan ini hampir selalu diadakan setiap tahun menjelang Lebaran. Ia mengatakan bahwa suasana prepegan bukan hanya tentang transaksi ekonomi semata, tetapi juga mempererat hubungan sosial antar warga. “Ini menjadi momen berkumpulnya keluarga besar dan tetangga untuk saling berbagi kebahagiaan, jarnya dengan senyum ramah.

Lebih jauh lagi, sejarah tradisi Prepegan berakar dari budaya Jawa yang kental. Dahulu kala, desa Wanguk dan Kedungwungu mayoritas penduduknya berasal dari Brebes dan Tegal. Seiring waktu berjalan, kegiatan prepegan berkembang menjadi pasar tradisional tahunan yang penuh warna dan semarak. Bahkan saat ini, kegiatan tersebut telah menjadi bagian penting dari ritual menyambut Hari Raya Idul Fitri bagi masyarakat setempat.
Selain sebagai bentuk persiapan fisik dan spiritual untuk menyambut Lebaran, tradisi Prepegan memiliki nilai edukatif dalam menjaga kekompakan sosial serta melestarikan budaya lokal. Melalui kegiatan ini pula, masyarakat belajar untuk saling membantu dan menghormati satu sama lain dalam suasana penuh kedamaian.
Dalam pandangan saya sebagai bagian dari komunitas ini yang telah menyaksikan langsung kemeriahan dan kebermaknaan tradisi Prepegan selama bertahun-tahun, tradisi ini harus terus dilestarikan. Sebab selain memperkuat ikatan kekeluargaan dan gotong royong antar warga, Prepegan juga menjadi daya tarik wisata budaya yang mempromosikan kekayaan warisan leluhur bangsa Indonesia.
Dengan semangat kebersamaan yang terus dijaga dan rasa hormat terhadap nilai-nilai budaya lokal yang mendalam, Tradisi Prepegan tetap relevan sebagai simbol harmonisasi antara modernitas dan adat istiadat lama. Semoga kedepannya kegiatan ini dapat semakin berkembang dan mampu mempertahankan identitas budaya Indonesia di tengah arus globalisasi yang semakin pesat.












