TOMBAKRAKYAT RAMADHAN
Bayangkan suasana sahur yang masih setengah mengantuk. Kompor di dapur berbunyi “cesss”, nasi goreng belum matang, dan mata masih 20 watt. Sendok jatuh sedikit saja bunyinya sudah seperti konser drum. Dalam kondisi seperti ini biasanya obrolan bisa ke mana saja—dari harga cabai yang naiknya seperti roket, sampai kisah para nabi yang penuh keajaiban. Nah, sebelum kopi kedua habis, mari kita ngobrol tentang satu tokoh yang kalau hidup di zaman sekarang mungkin CV-nya bikin HRD langsung minta duduk dulu: raja, hakim agung, panglima perang, penyanyi rohani, sekaligus tukang besi. Paket komplit. Dialah Nabi Dawud AS.
Nabi Dawud diutus kepada Bani Israil dan diperkirakan hidup sekitar abad ke-10 sebelum Masehi, kira-kira sekitar tahun 1000 SM. Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa beliau wafat pada usia sekitar 100 tahun. Ia bukan hanya seorang nabi, tetapi juga raja yang memimpin kerajaan dengan keadilan yang terkenal. Dalam Al-Qur’an, Allah menggambarkannya sebagai pemimpin yang diberi hikmah, kekuatan, dan kemampuan memutuskan perkara dengan sangat adil.
Kalau dibuat daftar kemampuan, Nabi Dawud mungkin termasuk manusia dengan “paket lengkap plus bonus”. Ia seorang pemimpin negara, ahli ibadah, sekaligus seniman spiritual. Allah memberinya suara yang sangat merdu. Ketika beliau melantunkan pujian kepada Allah, alam seakan ikut larut. Gunung-gunung dan burung-burung disebut ikut bertasbih bersamanya. Bayangkan konser alam semesta tanpa panggung, tanpa sound system, tanpa lampu sorot. Tidak ada tiket VIP, tidak ada penonton selfie. Hanya seorang hamba yang memuji Tuhannya, dan alam ikut menyahut seperti paduan suara raksasa.
Kepada Nabi Dawud juga diturunkan kitab suci Zabur. Isinya penuh dengan doa, pujian, dan nasihat spiritual yang mengajak manusia untuk selalu mengingat Allah. Kalau diibaratkan, Zabur itu seperti kumpulan refleksi hati yang dalam—bukan ceramah yang menggurui, tapi suara jiwa yang mengajak manusia kembali kepada Tuhannya.
Yang lebih menarik lagi, Nabi Dawud punya mukjizat yang cukup unik: besi menjadi lunak di tangannya. Tanpa api, tanpa tungku besar, tanpa palu segede galon. Besi bisa beliau bentuk menjadi baju zirah yang kuat dan ringan. Jadi selain raja dan nabi, beliau juga bisa dibilang tukang besi paling legendaris di zamannya. Kalau ada pameran teknologi militer waktu itu, mungkin stan Nabi Dawud paling ramai.
Salah satu kisah paling terkenal tentang Nabi Dawud terjadi ketika ia masih muda. Saat itu pasukan Bani Israil menghadapi seorang raksasa perkasa bernama Jalut (Goliath). Posturnya besar, senjatanya lengkap, auranya seperti “bos terakhir” dalam permainan. Banyak prajurit gentar melihatnya. Bayangkan saja, lawannya seperti menara berjalan.
Namun Dawud yang masih muda justru maju menghadapi Jalut hanya dengan ketapel dan batu. Dari luar kelihatannya seperti pertandingan yang tidak seimbang: raksasa perang melawan pemuda dengan alat yang biasa dipakai anak kampung buat nembak mangga.
Tapi sejarah sering berubah oleh keberanian yang lahir dari iman. Dengan satu batu dari ketapelnya, Dawud berhasil menjatuhkan Jalut. Sekali lempar, langsung tamat. Kemenangan itu membuat namanya dikenal luas, dan dari situlah perjalanan kepemimpinannya dimulai.
Setelah menjadi raja, Nabi Dawud terkenal sebagai pemimpin yang sangat adil. Ia sering memutuskan perkara rakyat secara langsung. Bahkan Al-Qur’an menceritakan bagaimana beliau pernah diuji melalui sebuah perkara perselisihan tentang kambing. Dari perkara kecil seperti itu justru terlihat betapa teliti dan bijaksananya beliau dalam menegakkan keadilan.
Namun yang membuat Nabi Dawud benar-benar istimewa bukan hanya keberanian atau kekuasaannya. Ketika malam datang dan kerajaan sudah tenang, beliau bangun untuk beribadah. Bayangkan kontrasnya: siang hari memimpin negara, malam hari menangis dalam doa.
Dari kisah Nabi Dawud kita belajar bahwa kekuatan sejati tidak hanya datang dari otot, senjata, atau jabatan. Kekuatan sejati lahir dari hati yang selalu mengingat Allah. Ia adalah sosok yang mampu menjadi pejuang, pemimpin, ahli ibadah, sekaligus seniman spiritual.
Dan kalau suatu pagi sahur Anda masih mengantuk sambil menunggu telur dadar matang di wajan, ingatlah satu hal: dalam sejarah umat manusia pernah ada seorang raja yang suaranya begitu indah hingga gunung dan burung pun ikut memuji Tuhan bersamanya.
Penulis :
Irwan Alimuddin Batubara, S.Sos.








