Grobogan, Tombakrakyat.com — Harapan warga Dusun Nanggungan, Desa Jatiharjo, Kecamatan Pulokulon, kian menipis. Jalan penghubung yang dijanjikan akan dibetonisasi hingga kini belum juga tersentuh pembangunan, meski sudah lebih dari dua tahun berlalu sejak komitmen itu disampaikan pemerintah desa.
Jalan yang dimaksud merupakan akses penting yang menghubungkan Dusun Nanggungan dengan wilayah Dusun Gangen, Desa Jetaksari. Akses ini bukan sekadar jalur lalu lintas biasa, tetapi menjadi urat nadi aktivitas warga—mulai dari mobilitas harian hingga distribusi hasil pertanian. Namun realitas di lapangan menunjukkan ketimpangan: wilayah Gangen telah lebih dulu menikmati betonisasi, sementara sisi Nanggungan masih tertinggal dalam kondisi jalan yang memprihatinkan.
Kepala Desa Jatiharjo, Eko Agus Prasetyo, sebelumnya disebut telah menjanjikan pembangunan jalan tersebut. Janji itu bahkan diperkuat dengan adanya kesepakatan antara pemerintah Desa Jatiharjo dan Desa Jetaksari. Dalam kesepakatan tersebut, warga—khususnya para petani—diminta merelakan sebagian lahan sawah mereka untuk dijadikan akses jalan umum yang menghubungkan kedua dusun.
“Dulu kami diminta ikhlas memberikan lahan untuk jalan. Katanya mau dibangun beton supaya akses lebih mudah. Tapi sampai sekarang belum ada realisasi,” ungkap salah satu warga Nanggungan yang enggan disebutkan namanya.
Pengorbanan warga yang telah melepas sebagian lahannya kini terasa seperti janji yang menggantung tanpa kepastian. Di satu sisi, pembangunan di wilayah Gangen telah rampung, sementara di sisi lain, warga Nanggungan harus terus berjibaku dengan jalan yang sulit dilalui, terutama saat musim hujan tiba.
Kondisi ini memicu keresahan dan kekecewaan. Warga menilai adanya ketimpangan dalam pelaksanaan pembangunan, sekaligus mempertanyakan komitmen pemerintah desa terhadap kesepakatan yang telah dibuat bersama.
“Kalau memang sudah direncanakan sejak awal, seharusnya dibangun secara merata. Jangan hanya sebelah saja yang jadi, sementara kami yang sudah berkorban justru ditinggalkan,” lanjut warga tersebut.
Desakan pun mulai menguat. Warga berharap pemerintah desa segera memberikan kejelasan sekaligus realisasi konkret atas janji betonisasi jalan tersebut. Selain demi kenyamanan, akses jalan yang layak juga menjadi faktor penting dalam menunjang keselamatan dan perekonomian warga setempat.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi terbaru dari pihak Pemerintah Desa Jatiharjo terkait alasan keterlambatan pembangunan maupun kepastian waktu pelaksanaannya.
Jika janji pembangunan terus berlarut tanpa realisasi, yang dipertaruhkan bukan hanya akses jalan, tetapi juga kepercayaan publik terhadap pemerintah desa. Sebab dalam pembangunan desa, yang paling dibutuhkan bukan sekadar rencana—melainkan bukti nyata di Warga Nanggungan Resah: Janji Betonisasi Jalan Tak Kunjung Terealisasi Lebih dari Dua Tahun
Grobogan, Jawa Tengah — Harapan warga Dusun Nanggungan, Desa Jatiharjo, Kecamatan Pulokulon, kian menipis. Jalan penghubung yang dijanjikan akan dibetonisasi hingga kini belum juga tersentuh pembangunan, meski sudah lebih dari dua tahun berlalu sejak komitmen itu disampaikan pemerintah desa.
Jalan yang dimaksud merupakan akses penting yang menghubungkan Dusun Nanggungan dengan wilayah Dusun Gangen, Desa Jetaksari. Akses ini bukan sekadar jalur lalu lintas biasa, tetapi menjadi urat nadi aktivitas warga—mulai dari mobilitas harian hingga distribusi hasil pertanian. Namun realitas di lapangan menunjukkan ketimpangan: wilayah Gangen telah lebih dulu menikmati betonisasi, sementara sisi Nanggungan masih tertinggal dalam kondisi jalan yang memprihatinkan.
Kepala Desa Jatiharjo, Eko Agus Prasetyo, sebelumnya disebut telah menjanjikan pembangunan jalan tersebut. Janji itu bahkan diperkuat dengan adanya kesepakatan antara pemerintah Desa Jatiharjo dan Desa Jetaksari. Dalam kesepakatan tersebut, warga—khususnya para petani—diminta merelakan sebagian lahan sawah mereka untuk dijadikan akses jalan umum yang menghubungkan kedua dusun.
“Dulu kami diminta ikhlas memberikan lahan untuk jalan. Katanya mau dibangun beton supaya akses lebih mudah. Tapi sampai sekarang belum ada realisasi,” ungkap salah satu warga Nanggungan yang enggan disebutkan namanya.
Pengorbanan warga yang telah melepas sebagian lahannya kini terasa seperti janji yang menggantung tanpa kepastian. Di satu sisi, pembangunan di wilayah Gangen telah rampung, sementara di sisi lain, warga Nanggungan harus terus berjibaku dengan jalan yang sulit dilalui, terutama saat musim hujan tiba.
Kondisi ini memicu keresahan dan kekecewaan. Warga menilai adanya ketimpangan dalam pelaksanaan pembangunan, sekaligus mempertanyakan komitmen pemerintah desa terhadap kesepakatan yang telah dibuat bersama.
“Kalau memang sudah direncanakan sejak awal, seharusnya dibangun secara merata. Jangan hanya sebelah saja yang jadi, sementara kami yang sudah berkorban justru ditinggalkan,” lanjut warga tersebut.
Desakan pun mulai menguat. Warga berharap pemerintah desa segera memberikan kejelasan sekaligus realisasi konkret atas janji betonisasi jalan tersebut. Selain demi kenyamanan, akses jalan yang layak juga menjadi faktor penting dalam menunjang keselamatan dan perekonomian warga setempat.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi terbaru dari pihak Pemerintah Desa Jatiharjo terkait alasan keterlambatan pembangunan maupun kepastian waktu pelaksanaannya.
Jika janji pembangunan terus berlarut tanpa realisasi, yang dipertaruhkan bukan hanya akses jalan, tetapi juga kepercayaan publik terhadap pemerintah desa. Sebab dalam pembangunan desa, yang paling dibutuhkan bukan sekadar rencana—melainkan bukti nyata di lapangan. lapangan.












