DAERAH

Halal Bihalal PWI LS Jaten: Seremoni Maaf di Tengah Persoalan Nyata Warga

111
×

Halal Bihalal PWI LS Jaten: Seremoni Maaf di Tengah Persoalan Nyata Warga

Sebarkan artikel ini

KARANGANYAR, TOMBAKRAKYAT.com — Gedung IPHI Kecamatan Jaten dipenuhi jamaah, Sabtu malam (25/4/2026). Sekitar 150 orang menghadiri Pengajian dan Halal Bihalal Perjuangan Wali Songo Indonesia Laskar Sabilillah (PWI LS) Kecamatan Jaten. Suasana hangat, penuh saling sapa dan jabat tangan. Namun di luar gedung, kehidupan warga berjalan dengan persoalan yang tidak ikut selesai oleh seremoni.

Kegiatan yang dihadiri tokoh agama, unsur pemerintah kecamatan, serta perwakilan aparat ini menampilkan wajah ideal kebersamaan: agama, negara, dan masyarakat berada dalam satu ruang. Tetapi pertanyaannya sederhana—apakah kebersamaan itu berhenti di ruangan ini, atau berlanjut menjadi solusi nyata?

Baca Juga  DRONE PETROKIMIA BERAKSI di BEJI : Semprotkan Pupuk dari Udara

Di wilayah seperti Jaten dan sekitarnya, persoalan warga bukan sesuatu yang abstrak. Akses pekerjaan yang tidak merata, tekanan ekonomi keluarga, hingga isu klasik seperti infrastruktur lingkungan dan pelayanan publik masih menjadi percakapan sehari-hari. Tidak selalu besar, tetapi cukup nyata untuk dirasakan.

Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa kemiskinan dan ketimpangan masih menjadi pekerjaan rumah, bahkan di daerah yang relatif berkembang. Artinya, kegiatan keagamaan seperti halal bihalal tidak bisa lagi berdiri sebagai ritual yang terpisah dari realitas sosial di sekitarnya.

Baca Juga  Polsek Koja Gelar Patroli Skala Besar, Tekan Potensi Tawuran dan Kejahatan Malam Hari

Rangkaian acara berlangsung khidmat—tahlil, pembacaan ayat suci, hingga mauidhoh hasanah oleh K.H. Miftakhul Huda, M.S.H., Al Hafidz bersama Gus Iril dari Kudus. Pesan yang disampaikan menekankan ukhuwah dan semangat perjuangan. Tetapi di titik inilah, kata “perjuangan” diuji oleh kenyataan di lapangan.

Seperti diingatkan Abdurrahman Wahid, agama seharusnya menjadi kekuatan pembebas—bukan sekadar pelengkap suasana. Jika halal bihalal hanya menjadi ruang saling memaafkan tanpa keberanian menyentuh persoalan warga, maka yang terjadi adalah harmoni semu: terlihat rukun, tetapi tidak menyentuh akar masalah.

Baca Juga  Menelisik Rekayasa Politik Dalam Sajian Pembangunan Kendaĺ Masa Depan

Jaten tidak kekurangan kegiatan keagamaan. Yang sering kurang adalah keberanian menjadikan forum-forum tersebut sebagai ruang kejujuran sosial—tempat di mana persoalan warga diangkat, dibicarakan, dan ditindaklanjuti. Tanpa itu, acara seperti ini berisiko menjadi rutinitas tahunan: ramai, khidmat, tetapi tidak meninggalkan jejak perubahan.

Acara ditutup dengan doa. Namun pertanyaan yang tertinggal lebih penting dari penutup itu sendiri: setelah lampu gedung dimatikan, siapa yang akan memastikan bahwa “perjuangan” benar-benar hadir di tengah kehidupan warga Jaten?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *