SOLO, TOMBAKRAKYAT.com — Upaya memperkuat pendidikan yang inklusif dan menghargai keberagaman terus didorong melalui kegiatan Hybrid Upgrading Workshop Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) Solo yang berlangsung pada 8–10 Mei 2026 di Solia Zigna Kampung Batik Laweyan. Kegiatan ini mengangkat tema “Penguatan Kompetensi Guru Pendidikan Dasar dan Menengah untuk Implementasi Literasi Keagamaan Lintas Budaya dalam Pembelajaran Kurikulum Nasional.”
Workshop yang dilaksanakan secara hybrid tersebut diikuti guru pendidikan dasar dan menengah dari berbagai daerah. Kegiatan ini bertujuan memperkuat kapasitas pendidik dalam mengintegrasikan nilai-nilai toleransi, keberagaman, dan dialog lintas budaya ke dalam pembelajaran di sekolah.
Narasumber utama dalam kegiatan ini adalah Dra. Yayah Khisbiyah, M.A. dan Listia Suprobo, S.Ag., M.Hum.. Keduanya menyoroti pentingnya peran guru sebagai penggerak pendidikan yang humanis, inklusif, dan berorientasi pada penguatan karakter kebangsaan.
Dalam pemaparannya, Yayah Khisbiyah menegaskan bahwa literasi keagamaan lintas budaya menjadi kebutuhan penting di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk. Menurutnya, pendidikan tidak hanya berfungsi mentransfer pengetahuan, tetapi juga membangun empati, penghargaan terhadap perbedaan, serta kemampuan hidup berdampingan secara damai.
“Guru memiliki posisi strategis untuk membentuk peserta didik yang mampu menghargai keberagaman dan membangun relasi sosial yang harmonis di tengah masyarakat multikultural,” ujarnya.
Sementara itu, Listia Suprobo menjelaskan bahwa Kurikulum Nasional memberikan ruang bagi guru untuk mengintegrasikan nilai-nilai LKLB ke dalam proses pembelajaran melalui pendekatan yang kontekstual dan berbasis aktivitas. Menurutnya, pendidikan yang memanusiakan manusia harus mampu menghadirkan ruang belajar yang aman, terbuka, dan menghargai setiap peserta didik.
“Literasi keagamaan lintas budaya dapat diinsersikan dalam berbagai mata pelajaran intrakurikuler, kokurikuler, ekstra kurikuler maupun Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), sehingga peserta didik tidak hanya memahami materi pelajaran, tetapi juga belajar hidup bersama dalam keberagaman,” jelasnya.
Tidak hanya menerima materi di ruang workshop, para peserta juga mengikuti kegiatan kunjungan lintas iman ke Gereja Kristen Kalam Kudus Solo dan Pura Indra Prasta.
Kunjungan ini menjadi bagian penting dalam penguatan kompetensi pribadi dan kompetensi komparatif peserta untuk memahami tradisi dan praktik keagamaan lain secara langsung dari para pemeluknya.
Melalui kunjungan tersebut, peserta memperoleh pengalaman personal untuk bertemu, berdialog, dan merasakan secara langsung lingkungan keagamaan penganut agama lain. Peserta juga diberi kesempatan untuk berinteraksi secara terbuka, mengajukan pertanyaan dengan rasa aman dan nyaman, serta mendengarkan penjelasan langsung dari perwakilan rumah ibadah dan komunitas keagamaan yang dikunjungi.
Suasana dialog berlangsung hangat dan penuh penghormatan. Para peserta tampak antusias menggali pengetahuan mengenai nilai-nilai keagamaan, praktik ibadah, hingga pengalaman hidup dalam keberagaman.
Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang pembelajaran nyata tentang pentingnya empati, komunikasi lintas iman, dan penghargaan terhadap perbedaan dalam kehidupan bermasyarakat.
Selama tiga hari pelaksanaan, peserta mengikuti sesi diskusi, refleksi pembelajaran, penyusunan modul ajar, hingga praktik implementasi LKLB dalam pembelajaran Kurikulum Nasional. Antusiasme peserta terlihat dari tingginya partisipasi dalam sesi berbagi pengalaman dan praktik baik antarpendidik.
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari penguatan program Literasi Keagamaan Lintas Budaya yang dikembangkan untuk mendorong terciptanya pendidikan yang menghargai kebhinekaan, memperkuat toleransi, dan membangun kolaborasi lintas iman di lingkungan sekolah.
Berdasarkan modul penguatan kompetensi guru LKLB, program ini bertujuan meningkatkan pemahaman dan toleransi antarumat beragama serta mendorong dialog konstruktif dalam masyarakat majemuk.
Melalui workshop ini, para peserta diharapkan mampu menjadi agen perubahan di sekolah masing-masing dengan menghadirkan pembelajaran yang lebih inklusif, reflektif, dan relevan dengan tantangan kehidupan masyarakat Indonesia yang beragam.












