Indramayu, TombakRakyat.com — Tradisi tahunan masyarakat agraris, Mapag Sri, kembali digelar dengan meriah pada Senin (18/05/2026) di halaman Kantor Kuwu Desa Kertamulya. Kegiatan ini tidak sekadar menjadi perayaan panen, tetapi juga sarana edukasi nilai-nilai kebersamaan, spiritualitas, serta pelestarian budaya lokal.
Mapag Sri sendiri merupakan tradisi turun-temurun masyarakat Jawa, khususnya di wilayah Indramayu, yang mengandung makna “menjemput rezeki” atau menyambut hasil panen sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tradisi ini mencerminkan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Acara diawali dengan doa bersama yang diikuti oleh Kuwu Kertamulya, unsur kecamatan, Babinsa, Bhabinkamtibmas, perangkat desa, tokoh agama, tokoh adat, RT/RW, serta masyarakat luas. Keterlibatan lintas elemen ini menunjukkan kuatnya nilai gotong royong dan solidaritas sosial dalam kehidupan masyarakat desa.
Sebagai bagian dari pelestarian budaya, kegiatan ini juga menghadirkan pagelaran wayang kulit oleh kelompok “Karya Budaya” dengan dalang H. Suwarno. Wayang kulit bukan hanya hiburan, tetapi juga media edukasi yang sarat pesan moral, filosofi kehidupan, serta ajaran tentang kebaikan, kejujuran, dan kepemimpinan.
Menariknya, dalam perayaan Mapag Sri tahun ini, Kuwu Kertamulya H. Oyo turut memberikan santunan kepada anak yatim piatu. Langkah ini menjadi bukti bahwa nilai sosial dan kepedulian terhadap sesama menjadi bagian penting dalam tradisi tersebut, sehingga kebahagiaan panen dapat dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat.
Dalam keterangannya, Kuwu H. Oyo yang didampingi Ketua BPD menegaskan bahwa Mapag Sri merupakan warisan budaya yang harus dijaga keberlangsungannya. Ia menekankan pentingnya rasa syukur sebagai fondasi kehidupan masyarakat. “Dengan bersyukur, kita terhindar dari sikap kufur, dan insya Allah masyarakat akan hidup lebih sejahtera dan makmur,” ujarnya.
Lebih jauh, kegiatan ini juga mencerminkan harmonisasi antara nilai adat dan nilai agama. Keduanya tidak dipertentangkan, melainkan berjalan berdampingan sebagai kekuatan utama dalam membangun masyarakat yang rukun, damai, dan berkeadaban.
Antusiasme masyarakat terlihat tinggi, terutama karena tradisi ini sempat vakum dalam beberapa tahun terakhir. Kembalinya Mapag Sri di bawah kepemimpinan Kuwu H. Oyo menunjukkan pendekatan kepemimpinan yang inklusif dan berbasis kebersamaan, sehingga mampu menggerakkan partisipasi aktif masyarakat.
Ke depan, Pemerintah Desa Kertamulya berencana mengembangkan kegiatan ini dengan menambahkan program sosial lainnya, seperti santunan yang lebih luas serta kegiatan kemasyarakatan yang berdampak langsung bagi warga.
Dengan demikian, Mapag Sri tidak hanya menjadi simbol rasa syukur atas hasil panen, tetapi juga menjadi media edukasi budaya, penguatan nilai sosial, serta momentum membangun kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.












