KENDAL, TOMBAKRAKYAT.com — Curah hujan tinggi yang rutin terjadi setiap Desember hingga Februari kembali menimbulkan ancaman serius bagi warga Dukuh Tegalrejo, Desa Rowosari, Kabupaten Kendal. Pengikisan tanggul Kali Kuto yang kian parah belum juga ditangani, meski ancaman banjir selalu menghantui warga setiap musim hujan.
Bagi warga, banjir bukan sekadar kemungkinan, melainkan kejadian berulang. Setiap hujan deras turun, debit Kali Kuto meningkat drastis dan menghantam tanggul yang kondisinya terus melemah. Namun ironisnya, hingga saat ini belum terlihat langkah nyata untuk memperkuat tanggul yang menjadi benteng terakhir permukiman dan lahan pertanian warga.
“Kami seperti menunggu bencana. Setiap tahun banjir datang, bantaran sungai terus terkikis hingga tersisa semeter dari bangunan tanggul, namun penanganan tidak kunjung ada,” keluh seorang warga Tegalrejo.

Menurut warga sekitar, Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air dan Tata Ruang (PUSDA TARU) memang telah beberapa kali melakukan survei lokasi. Namun, survei demi survei tersebut belum berujung pada pekerjaan fisik. Kondisi ini menimbulkan tanda tanya di tengah masyarakat, terlebih musim hujan sudah berlangsung dan risiko bencana kian nyata.
Dalam sejumlah pemberitaan, Bupati Kendal menyampaikan telah melakukan koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah serta berkomitmen mempercepat penanganan melalui koordinasi lintas instansi. Namun di lapangan, warga belum merasakan dampak dari koordinasi tersebut.
Kali Kuto merupakan sungai dengan kewenangan pengelolaan lintas pemerintah, sehingga keterlambatan penanganan dikhawatirkan akan terus terjadi jika hanya berhenti pada level koordinasi.
Sementara itu, waktu terus berjalan dan hujan tak menunggu kesiapan birokrasi. Warga Tegalrejo berharap pemerintah tidak menunggu hingga tanggul benar-benar jebol dan bencana terjadi. Mereka menuntut langkah preventif segera dilakukan, sebelum musim hujan berubah menjadi musim petaka akibat lambannya penanganan pengikisan tanggul Kali Kuto












