CIREBON, TombakRakyat.com –
Di balik layar ponsel yang menyala, sebuah percakapan penuh pujian mulai terbentuk.
“Kamu berbeda dari yang lain,” tulisnya. Kalimat sederhana ini sering kali menjadi pintu masuk bagi fenomena psikologis yang berbahaya : Love Grooming.
Meski terdengar seperti romansa biasa, love grooming sebenarnya adalah taktik manipulasi yang dilakukan secara sistematis, di mana pelaku membangun kepercayaan dan ikatan emosional yang kuat dengan korban untuk tujuan eksploitasi—baik secara seksual, finansial, maupun emosional.
Apa yang dimulai dengan perhatian yang berlebihan sering kali berujung pada kehancuran yang mendalam. Di balik deretan pesan manis dan janji-janji masa depan, tersembunyi sebuah agenda gelap yang disebut love grooming. Ini bukan sekadar romansa yang gagal, melainkan serangan yang dirancang untuk merusak kewarasan dan kemandirian seseorang.
Berbeda dengan kekerasan fisik yang meninggalkan bekas yang tampak, love grooming beroperasi seperti racun yang meresap perlahan. Pelaku tidak datang dengan ancaman terang-terangan, melainkan dengan pesona dan pemujaan. “Mereka membuat Anda merasa seperti pusat dunia,” ungkap Siti Nur Aisah, seorang ahli psikologi.
“Namun, pemujaan itu hanyalah umpan. Tujuannya adalah untuk membuat korban merasa tidak dapat hidup tanpa pelaku. Sehingga, saat eksploitasi dimulai—baik berupa permintaan uang atau bahkan pelecehan—korban sudah terlalu lemah untuk menolaknya.”
Menyadari bahwa Anda terjebak dalam jerat love grooming adalah langkah pertama yang paling sulit. Luka mental yang ditinggalkan sering kali memerlukan waktu bertahun-tahun untuk sembuh, karena yang dihancurkan bukan hanya hati, melainkan juga rasa percaya diri dan kemandirian.
Para ahli mendesak masyarakat untuk tidak lagi menganggap fenomena ini sebagai “masalah percintaan biasa.” Love grooming adalah bentuk manipulasi serius yang membutuhkan perhatian hukum dan dukungan psikologis yang lebih besar.
“Jika cinta mulai terasa seperti sebuah penjara, atau jika perhatian pasangan membuat Anda merasa terisolasi dari dunia luar, berhentilah sejenak. Jangan-jangan, Anda bukan sedang dicintai, melainkan sedang dikendalikan.”












