BERITADAERAH

Ironi Sampah di Klaten Selatan: Visi “Lingkungan Asri” Terganjal Tumpukan Sampah di Desa Trunuh

80
×

Ironi Sampah di Klaten Selatan: Visi “Lingkungan Asri” Terganjal Tumpukan Sampah di Desa Trunuh

Sebarkan artikel ini

TOMBAKRAKYAT.COM — KLATEN – Masalah pengelolaan sampah di Kecamatan Klaten Selatan kini tengah berada di persimpangan jalan. Di tengah upaya pemerintah kecamatan mendorong program pemilahan sampah dan TPS3R, realitas pahit justru terlihat di Desa Trunuh, di mana tumpukan sampah menggunung hingga mengganggu akses publik dan sektor pertanian.

Visi Kecamatan: Pemilahan dari Rumah Tangga

Camat Klaten Selatan, Ir. Anna Fajria Hidayati, M.Si, menegaskan bahwa pengelolaan sampah menjadi tema besar dalam Musrenbang RKPD 2027. Pemerintah kecamatan fokus pada penguatan fasilitas TPS3R (Reduce, Reuse, Recycle) di desa-desa seperti Sumberrejo dan Karanglo.

Baca Juga  Warga Blok Kayen Desa Dukuhjati Sambut Hangat Kunker dan Reses Anggota DPRD Indramayu

“Tantangan terbesar kami adalah kesadaran masyarakat. Kami menggandeng PKK dan Dasawisma untuk mengedukasi ibu-ibu sebagai produsen utama sampah rumah tangga,” ujar Anna dalam wawancara baru-baru ini. Ia juga mendorong desa-desa untuk segera merampungkan Peraturan Desa (Perdes) tentang sampah agar memiliki dasar hukum untuk memberikan sanksi bagi pelanggar.

Kondisi Kritis di Desa Trunuh

Namun, visi tersebut berbanding terbalik dengan pantauan lapangan di Desa Trunuh pada Jumat (6/2). Sampah rumah tangga tampak meluap hingga menutupi akses jalan umum dan menimbulkan bau menyengat.

Kepala Desa Trunuh, M. Sulaiman, menyatakan keprihatinannya karena tumpukan sampah tersebut mulai mengancam produktivitas sawah di sekitarnya.
“Sarana prasarana jalan berhenti, tidak bisa lewat. Itu yang paling penting. Kedua, itu juga mengganggu sawah yang lain,” keluh Sulaiman.

Baca Juga  H-7 Lebaran: Pemudik Mulai Padati Stasiun Pasar Senen Menuju Kampung Halaman

Kendala Logistik dan Sampah “Kiriman”

Menurut Sulaiman, pihak desa bukan tanpa upaya. Pemilahan di tingkat RT dan RW sudah diinstruksikan. Namun, kendala muncul dari dua faktor utama:

1. Warga Luar Desa: Banyak orang dari luar wilayah Desa Trunuh yang sengaja membuang sampah di lokasi tersebut secara sembarangan.
2. Komitmen Dinas Terputus: Janji pengangkutan sampah secara rutin menggunakan truk hanya berjalan selama tiga hari setelah koordinasi tingkat kecamatan, sebelum akhirnya berhenti total.

Baca Juga  Final Debat Hukum Nasional Integrity Scholarship V, Angkat Isu Reformasi Polri dan Masa Depan Demokrasi

Menanti Solusi Sinkron

Kesenjangan antara kebijakan strategis kecamatan dengan kendala teknis di lapangan memerlukan penanganan segera. Sambil menunggu penyusunan Perdes di Desa Trunuh rampung, warga berharap ada langkah nyata dari dinas terkait untuk mengaktifkan kembali armada pengangkut sampah guna mengosongkan titik-titik tumpukan yang sudah kritis.

Warga dan pemerintah desa berharap, sinergi antara edukasi masyarakat dan ketersediaan sarana prasarana dapat benar-benar mewujudkan lingkungan Klaten Selatan yang sehat dan asri, bukan sekadar rencana di atas kertas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *