BERITA

Negeri KHOCHIWA : Antara Narasi dan Kenyataan yang Disembunyikan

63
×

Negeri KHOCHIWA : Antara Narasi dan Kenyataan yang Disembunyikan

Sebarkan artikel ini

OPINI

Di sebuah negeri yang kita sebut saja “KHOCHIWA”, realitas sering kali terasa seperti sandiwara panjang yang diputar tanpa jeda. Segalanya tampak baik-baik saja di permukaan, namun di baliknya, ada banyak hal yang sengaja dibiarkan kabur—bahkan dilupakan.

Di negeri ini, sebagian “abdi dalem” tak lagi bekerja dalam sunyi untuk melayani, melainkan tampil mencolok, memamerkan kemewahan seolah kekuasaan adalah panggung pribadi. Jabatan bukan lagi amanah, melainkan akses menuju gaya hidup yang sulit dijelaskan oleh logika publik. Kelompok oknum punggawa begitu jumawa dengan zirrah kebesarannya.

Baca Juga  Makin Solid! STN Jawa Timur Gelar Penyegaran dan Halal Bihalal

Lebih jauh lagi, para “prajurit” dan “panglima”—yang seharusnya menjadi penjaga keadilan—justru tampak sibuk mengejar keuntungan. Keadilan tak lagi menjadi tujuan utama, melainkan sekadar jargon yang diucapkan saat dibutuhkan. Hukum memang berdiri, tetapi sering terasa seperti boneka: bisa digerakkan, diarahkan, bahkan dipermainkan oleh mereka yang memiliki kendali.

Ironisnya, di tengah kondisi seperti itu, sikap tanpa rasa malu justru menjadi hal yang lumrah. Kejujuran dipelintir, kebohongan dipoles, dan simbol-simbol moral seperti agama dijadikan tameng untuk menutupi praktik yang bertolak belakang dengan nilai yang diklaim. Serat mulut religi dengan narasi surgawi terdengar begitu lembut, namun di saat yang sama merampok di balik dalih dan ilmu kalam langit.

Baca Juga  Respon Cepat Tim Urai Polres Majalengka, Amankan Benda Berbahaya di Jalur A KM 147 Tol Cipali Demi Keselamatan Pemudik

Sementara itu, rakyat memilih tersenyum. Bukan karena semuanya baik-baik saja, tetapi karena lelah, atau mungkin sudah terbiasa. Luka disimpan rapat-rapat, kritik dipendam, dan harapan perlahan digeser oleh rasa pasrah.

Di luar sana, negeri ini tetap dipuji: disebut subur, aman, jujur, taat hukum, dan agamis. Sebuah citra yang terus diulang, diperkuat, dan disebarkan. Namun pertanyaannya sederhana—apakah itu cermin kenyataan, atau hanya narasi yang terus diproduksi agar publik berhenti bertanya?

Baca Juga  Presiden Prabowo Tinjau Banjir Langkat

Opini ini bukan untuk menjatuhkan, melainkan mengajak berpikir. Sebab sebuah negeri tidak runtuh karena kritik, tetapi justru karena kehilangan keberanian untuk jujur pada dirinya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *