Kupang, 8 Mei 2026, TombakRakyat.com -Gubernur Emanuel Melkiades Laka Lena menerima kunjungan Wakil Bupati Apremoi Dudelusy Dethan bersama Diaspora for Rote Ndao di Rumah Jabatan Gubernur NTT, Jumat (8/5/2026).
Pertemuan tersebut membahas pengembangan Kabupaten Rote Ndao sebagai sentra sorgum di Provinsi Nusa Tenggara Timur guna memperkuat ketahanan pangan, mendukung program penanganan stunting, serta mendorong pengembangan ekonomi masyarakat berbasis pertanian.
Turut hadir dalam pertemuan tersebut Ketua Kadin Rote Ndao, Simson Polin yang juga merupakan anggota DPRD Provinsi NTT. Kehadiran unsur pemerintah daerah, legislatif, dan diaspora dinilai menjadi kekuatan kolaboratif dalam mendorong percepatan pembangunan sektor pertanian di Rote Ndao.
Ketua Diaspora for Rote Ndao yang juga Ketua Tim Bupati untuk Percepatan Pembangunan Kabupaten Rote Ndao serta mantan Sekretaris Daerah Kabupaten Rote Ndao, Alfred H.J. Zacharias menyampaikan sejumlah hasil penting dari pertemuan tersebut.
Menurut Alfred, Pemerintah Provinsi NTT tahun ini menyiapkan bantuan bibit sorgum untuk pengembangan lahan seluas 200 hektare yang akan dikelola bersama Diaspora for Rote Ndao. Selain itu, panen perdana sorgum dari demplot milik Pemerintah Provinsi NTT seluas 15 hektare yang ditanam pada awal Januari 2026 dijadwalkan berlangsung pada 22–28 Mei 2026.
“Gubernur NTT memberikan perhatian serius terhadap pengembangan sorgum sebagai komoditas strategis daerah. Ini bukan hanya soal pertanian, tetapi juga tentang ketahanan pangan, pengentasan stunting, dan penguatan ekonomi masyarakat,” ujar Alfred.
Dalam pertemuan itu, Wakil Bupati Rote Ndao juga meminta agar kunjungan Gubernur ke Rote Ndao nantinya tidak hanya untuk menghadiri panen sorgum, tetapi juga meninjau tambak garam dan panen padi masyarakat.

Pemerintah Provinsi NTT juga memastikan bahwa sorgum akan menjadi bagian dari program penanganan stunting serta mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG). Untuk wilayah yang memiliki sumber air aktif, penanaman akan dimulai sejak Juni 2026 dan terus berlanjut hingga musim penghujan.
Gubernur NTT juga menekankan pentingnya akuntabilitas program. Karena itu, seluruh lahan yang masuk dalam program pengembangan sorgum wajib memiliki data CPCL (Calon Petani Calon Lokasi) yang jelas dan terverifikasi.
Di sisi lain, Diaspora for Rote Ndao didorong untuk mulai membangun sistem usaha profesional melalui pembentukan badan usaha berbentuk Perseroan Terbatas (PT) yang dimiliki bersama anggota diaspora dan dikelola oleh tenaga profesional.
Target pengembangan lahan sorgum pun diproyeksikan meningkat secara bertahap, dari 200 hektare menuju 1.000 hektare dalam beberapa tahun ke depan.
Pertemuan ini menjadi langkah awal yang strategis dalam membangun Rote Ndao sebagai pusat pengembangan sorgum di NTT sekaligus memperkuat posisi daerah sebagai salah satu lumbung pangan alternatif di Indonesia Timur












