tombakrakyat.com – Karanganyar – Produk arang briket produksi warga Desa Sewurejo, Alastuwo, Kecamatan Kebakkramat, perlahan naik daun dan menjadi primadona baru bagi kebutuhan energi rumah tangga maupun industri di Karanganyar dan wilayah sekitarnya. Di tengah meningkatnya kesadaran terhadap energi bersih, arang briket lokal ini justru semakin diburu pembeli.
Arang briket dikenal sebagai bahan bakar padat yang terbuat dari limbah organik seperti serbuk kayu, serbuk tempurung kelapa, hingga sisa hasil pertanian. Bahan-bahan itu kemudian dipadatkan menjadi bentuk briket yang lebih solid dan memiliki daya bakar tinggi. Tak heran jika produk ini mulai dipilih sebagai alternatif pengganti arang kayu konvensional.
Secara teknis, arang briket memiliki sejumlah keunggulan. Selain bentuknya yang lebih padat dan menghasilkan panas stabil, briket juga minim asap sehingga lebih nyaman digunakan, terutama untuk kegiatan memasak dan memanggang. Briket pun lebih ramah lingkungan karena memanfaatkan limbah organik dan tidak mengandalkan penebangan kayu.

Warga Sewurejo sudah memproduksi arang briket dalam skala rumahan sejak beberapa waktu terakhir. Proses pembuatannya cukup panjang, mulai dari pengumpulan bahan baku, penghancuran menjadi serbuk halus, pencampuran dengan bahan pengikat, pemadatan menggunakan cetakan, hingga proses pengkarbonan dalam kondisi minim udara. Hasil akhirnya adalah briket hitam pekat dengan kualitas bakar yang optimal.
Tak hanya memberi manfaat lingkungan, produksi arang briket juga membawa dampak ekonomi bagi warga. Limbah-limbah organik yang sebelumnya tidak termanfaatkan kini justru menjadi barang bernilai jual tinggi. Beberapa pekerja mengaku pesanan arang briket terus mengalami peningkatan, terutama dari rumah makan, pelaku UMKM, hingga pembeli dari luar kecamatan.
“Kebutuhan arang briket sekarang sangat tinggi. Banyak pembeli datang langsung ke tempat produksi untuk mengambil barang. Jadi kami tidak kesulitan memasarkan,” ujar salah seorang pekerja saat ditemui di lokasi produksi.
Permintaan yang terus naik membuat para produsen mulai mempertimbangkan peningkatan kapasitas produksi. Sebagian pelaku usaha bahkan mulai menjajaki kerja sama dengan distributor untuk memperluas jangkauan pemasaran.

Dengan harga terjangkau, kualitas stabil, dan proses produksi yang ramah lingkungan, arang briket dari Sewurejo diprediksi bakal menjadi komoditas unggulan desa. Warga berharap dukungan pemerintah daerah dapat membantu pengembangan peralatan produksi agar kapasitas dan mutu briket semakin meningkat.
Arang briket kini bukan sekadar “si hitam” semata, tetapi juga simbol inovasi warga desa dalam mengolah limbah menjadi energi bersih yang bermanfaat luas












