BERITA

Tatkala Dua Babi di Tengah Jamaah Sholat

102
×

Tatkala Dua Babi di Tengah Jamaah Sholat

Sebarkan artikel ini

Tatkala Dua Babi di Tengah Jamaah Sholat

 

Siang itu, matahari lagi semangat-semangatnya menyengat, tapi suasana di dalam masjid seharusnya adem—adem di hati, adem di pikiran, dan adem juga di wajah yang pura-pura khusyuk padahal sempat kepikiran “nanti makan siang apa, ya?”

Tapi di Masjid Raya Al-Abror Kota Padangsidimpuan, pada Minggu (05/04/2026) siang itu ada yang beda. Bukan karena imamnya bacaannya terlalu cepat atau saf-nya mendadak miring. Bukan juga karena sandal hilang (ini klasik, tapi kali ini bukan itu). Yang bikin suasana sedikit “getar” justru datang dari sesuatu yang… ya, menempel di baju seseorang.

Sebuah kaos hitam. Dengan tulisan yang cukup membuat dahi berkerut sambil tetap berusaha menjaga iman tetap lurus:

DUA BABI MARSIBERENGAN.

Kalau diterjemahkan kira-kira “dua babi saling melirik.”

Entah ini puisi modern, kritik sosial, atau sekadar hasil sablon tengah malam yang lagi kehabisan ide.

Baca Juga  Presiden Prabowo Tinjau Banjir Langkat

Yang jelas, tulisan itu mendadak jadi “penceramah kedua” di dalam masjid. Tanpa mic, tanpa izin, tapi pesannya terbaca jelas… dan agak sulit diabaikan.

Bayangkan situasinya. Jamaah berdiri rapi. Imam mulai takbir. Semua ikut khusyuk. Tapi beberapa detik kemudian, ada “gangguan visual” yang tidak masuk jadwal. Mata yang harusnya fokus ke sajadah, pelan-pelan naik. Bukan untuk dunia—tapi untuk membaca sesuatu yang… ya, agak membingungkan secara spiritual.

Manusia memang begitu. Kadang bukan suara keras yang mengganggu, tapi tulisan santai yang muncul di waktu yang salah.

Bisik-bisik pun mulai beredar. Versi low volume.

“Eh, kau lihat itu?”

“Iya… aku kira tadi aku salah baca…”

“Itu kaos apa ceramah terselubung?”

Sampai akhirnya, kegaduhan kecil ini naik level. Bukan jadi ribut, tapi cukup untuk membuat sebagian orang merasa, “Ini perlu diluruskan… atau minimal dipindahkan.”

Laporan pun masuk ke polisi. Sekitar pukul 13.20 WIB, Call Centre 110 berbunyi—mungkin operatornya juga sempat mikir, “Ini laporan serius atau salah kirim status WA?”

Baca Juga  Digerebek Saat Asyik Main Dadu, Enam Pelaku Judi Digulung Polisi di Pekalipan

Tak butuh waktu lama, personel dari Polres Padangsidimpuan datang ke lokasi. Pria itu diamankan, bukan dengan dramatis ala film aksi, tapi lebih ke gaya, “Mari, Bang… kita ngobrol sebentar ya.”

Namanya kemudian diketahui: Yenri Hakim P.B. Manurung, 38 tahun, dari Medan. Dan yang bikin cerita ini berubah arah—dia ternyata seorang mualaf. Baru sekitar satu tahun memeluk Islam.

Di titik ini, cerita yang tadinya terasa “lucu campur heran,” pelan-pelan berubah jadi “oh… ternyata begini.”

Saat diperiksa, Yenri bisa melafalkan syahadat. Bisa membaca Al-Fatihah. Bahkan Al-Falaq juga lancar. Artinya, yang “di dalam” sebenarnya sudah jalan. Hanya saja, yang “di luar”—dalam hal ini sablon kaos—belum sempat ikut update.

Petugas pun mengamankan beberapa barangnya. Dari KTP, SIM, kartu ATM, sampai kartu Timezone—yang entah kenapa selalu ikut dalam momen serius, seolah hidup butuh jeda main juga.

Baca Juga  Formades Kendal Audiensi ke Kantor Dispermades, Hasilkan Rekomendasi penting

Masalah ini tidak dibawa panjang. Tidak ada drama. Tidak ada suara meninggi. Semua diselesaikan secara kekeluargaan. Ada pembinaan, ada pemahaman, lalu ia dikembalikan.

Sederhana. Selesai dengan baik.

Dan dari kejadian ini, ada satu hal yang pelan-pelan terasa: bahwa dalam perjalanan seseorang menuju pemahaman, tidak semua hal datang bersamaan. Kadang niat sudah sampai duluan. Hati sudah condong. Tapi detail kecil—seperti tulisan di kaos—masih tertinggal di belakang.

Sore pun datang. Masjid kembali tenang. Jamaah pulang membawa cerita masing-masing. Mungkin sambil senyum kecil.

Dan dari kejadian itu, ada satu hal yang terasa:

Bahwa menjaga kekhusyukan itu bukan cuma soal hati… tapi juga soal apa yang kita pakai.

Karena di zaman sekarang, bahkan sablon kaos pun bisa ikut “berdakwah.”

Meski kadang… salah tempat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *