BERITA

PELAJARAN INTEGRITAS DARI ALVIN LIE: KETIKA KETELADANAN BERBICARA LEBIH KERAS DARI JABATAN

23
×

PELAJARAN INTEGRITAS DARI ALVIN LIE: KETIKA KETELADANAN BERBICARA LEBIH KERAS DARI JABATAN

Sebarkan artikel ini

Catatan: Darius Beda Daton

Kupang NTT, Tombak Rakyat.com – Di tengah derasnya arus pragmatisme dan menurunnya kepercayaan publik terhadap lembaga negara, sosok-sosok yang mampu menjaga integritas dan independensi layak dikenang dan dijadikan teladan. Salah satu figur yang menurut saya pantas dicatat dalam sejarah keteladanan pelayanan publik adalah Alvin Lie Ling Piao, yang lebih dikenal sebagai Alvin Lie.

Sudah lama saya ingin menulis tentang beliau. Seorang tokoh yang pernah bekerja bersama kami selama kurang lebih lima tahun ketika menjabat sebagai anggota Ombudsman Republik Indonesia. Namun baru kali ini niat itu terwujud. Mungkin karena momennya tepat, ketika banyak pihak sedang mempertanyakan makna kepemimpinan, pengawasan, dan integritas dalam penyelenggaraan negara.

Bagi saya, pengalaman bersama Alvin Lie bukan sekadar kenangan, melainkan pelajaran hidup yang sangat berharga tentang bagaimana seorang pejabat negara seharusnya menempatkan diri.

Tokoh Nasional dengan Integritas yang Teruji

Alvin Lie bukanlah figur biasa. Ia merupakan mantan anggota DPR RI selama dua periode, yakni 1999–2004 dan 2004–2009. Pada masanya, ia dikenal sebagai anggota parlemen yang vokal, kritis, dan berani menyuarakan kepentingan publik.

Memiliki pengalaman tinggal di Singapura, Inggris, dan Skotlandia, Alvin Lie kemudian dipercaya menjadi anggota Ombudsman Republik Indonesia periode 2016–2021. Selain itu, ia juga dikenal sebagai instruktur penerbang dan pengamat penerbangan yang memiliki pengetahuan mendalam mengenai dunia aviasi.

Baca Juga  Satres Narkoba Polres Metro Jakarta Utara Bongkar Home Industry “Happy Water”, Sita 100 Gram Sabu dan 1.156 Kemasan Siap Edar

Meski bukan putra daerah Nusa Tenggara Timur, perhatian Alvin Lie terhadap NTT tidak pernah surut. Hingga kini, setiap kali muncul persoalan yang menjadi perhatian publik di NTT, beliau masih sering menghubungi saya melalui WhatsApp untuk memastikan persoalan tersebut mendapatkan penyelesaian yang baik. Pesannya selalu sama: jadilah pengawas yang independen dan berintegritas.

Ketika Seorang Pejabat Menolak Fasilitas VIP

Pelajaran paling berkesan saya dapatkan saat beliau mendampingi kunjungan kerja Komisi II DPR RI ke NTT.

Sebagai tuan rumah, saya menunggu di ruang VIP Bandara Eltari Kupang. Saya berpikir, tentu saja seorang mantan anggota DPR RI dan anggota Ombudsman akan keluar melalui jalur kehormatan bersama rombongan pejabat negara lainnya.

Namun saya tidak menemukan beliau di sana.

Setelah mencari ke area kedatangan umum, saya melihat sosok Alvin Lie berjalan santai seorang diri sambil menarik koper tanpa ajudan, tanpa staf, tanpa pengawalan.

Saya meminta maaf karena terlambat menjemputnya.

Jawaban beliau masih saya ingat hingga hari ini.

“Kita ini pengawas independen. Kita tidak perlu ikut rombongan mereka. Sekalipun mereka teman-teman saya di DPR. Kita menggunakan kendaraan kantor sendiri dan bertemu mereka sesuai agenda kegiatan.”

Kalimat sederhana itu ternyata mengandung makna yang sangat dalam.

Baca Juga  Babinsa Koramil 04/Banyuurip Dampingi Program Ketahanan Pangan di Desa Tegalrejo

Beliau sedang menunjukkan bahwa independensi bukan hanya slogan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata.

Menolak Jamuan dan Menjaga Jarak dari Konflik Kepentingan

Pelajaran berikutnya terjadi saat makan siang.

Ketika saya hendak membayar makanan beliau, Alvin Lie langsung menolak.

“Pak Darius, gaji saya lebih besar dari Anda. Selama saya di Kupang, jangan membayar makanan saya dan jangan memberikan apa pun kepada saya. Semua perjalanan saya sudah dibiayai negara.”

Saya terdiam.

Di tengah budaya yang sering menganggap pemberian fasilitas sebagai hal lumrah, Alvin Lie justru menjaga dirinya dari segala bentuk potensi konflik kepentingan, sekecil apa pun.

Dua peristiwa sederhana itu meninggalkan kesan yang sangat kuat dalam diri saya.

Beliau tidak hanya berbicara tentang integritas. Beliau mempraktikkannya.

Pengawas Harus Terlihat Independen

Belakangan saya mendengar cerita serupa dari rekan-rekan di berbagai provinsi.

Bahkan dalam banyak kunjungan kerja, Alvin Lie memilih menyewa kendaraan sendiri dan menggunakan sopir profesional tanpa merepotkan instansi yang dikunjungi.

Prinsipnya sederhana: pengawas harus independen, dan yang lebih penting, harus terlihat independen.

Sikap seperti inilah yang sesungguhnya menjaga marwah lembaga negara.

Karena kepercayaan publik tidak hanya dibangun melalui keputusan yang benar, tetapi juga melalui perilaku yang menunjukkan bahwa seorang pejabat bebas dari pengaruh dan kepentingan pihak mana pun.

Baca Juga  Aneh Bin Ajaib Ada Aroma Tak Sedap Rp 17,7 Miliar Temuan BPK RI di Dinas Kesehatan Aceh Tenggara Diduga Aparat Penegak Hukum  Tutup Mata Dan Tutup Telinga

Integritas yang Langka di Era Modern

Pada kunjungannya yang lain ke NTT sebagai instruktur dalam kegiatan PT Angkasa Pura, saya kembali melihat sisi lain dari Alvin Lie.

Dengan gaya khasnya yang santai namun penuh perhatian, ia meminta sejumlah pilot maskapai menjelaskan sistem keselamatan penerbangan kepada saya karena mengetahui saya masih memiliki ketakutan saat naik pesawat.

Bagi sebagian orang, itu mungkin hal kecil.

Namun bagi saya, itu menunjukkan karakter seorang pemimpin yang tidak pernah berhenti mendidik dan berbagi pengetahuan.

Teladan yang Perlu Diwariskan

Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi bangsa ini, menjaga independensi lembaga negara, menegakkan prinsip non-diskriminasi, serta menghindari konflik kepentingan bukanlah pekerjaan mudah.

Diperlukan keberanian, konsistensi, dan integritas yang kuat.

Alvin Lie telah menunjukkan bahwa semua itu bukan sesuatu yang mustahil.

Ia mengajarkan bahwa jabatan tidak membuat seseorang dihormati. Integritaslah yang membuat seseorang dikenang.

Terima kasih, Pak Alvin Lie, atas semua pelajaran yang telah diberikan. Semoga sehat selalu dan terus menjadi pembeda di mana pun berada.

Karena bangsa ini masih sangat membutuhkan lebih banyak pejabat yang memilih keteladanan daripada pencitraan, dan lebih mengutamakan integritas daripada kenyamanan jabatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *