Kupang, TombakRakyat. com – Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang kembali menegaskan eksistensinya sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan di kawasan timur Indonesia dengan mengukuhkan dua Guru Besar dalam Rapat Senat Terbuka yang berlangsung khidmat di Auditorium Bahtera Artha Wacana, Rabu (8/4/2026).
Dua akademisi yang dikukuhkan yakni Prof. Dr. Jonathan Ebet Koehuan, S.T.P., M.P. sebagai Guru Besar di bidang Teknik Sumber Daya Alam dan Lingkungan, serta Prof. Dr. Beatrix Maureen Rehatta, S.Pi. sebagai Guru Besar di bidang Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut.
Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Jonathan Koehuan mengangkat tema “Produktivitas Air Tanaman: Perkembangan dan Potensi Pemanfaatannya di Wilayah Semi-Arid”. Ia menyoroti persoalan krusial keterbatasan air yang menjadi tantangan utama pertanian di wilayah kering seperti Nusa Tenggara Timur. Menurutnya, sektor pertanian merupakan pengguna terbesar air tawar, sehingga pendekatan efisiensi dan peningkatan produktivitas air menjadi kunci menjaga ketahanan pangan.
Ia menegaskan bahwa paradigma pembangunan pertanian ke depan harus berorientasi pada prinsip “more crop per drop”, yakni menghasilkan produksi yang lebih tinggi dengan penggunaan air yang lebih efisien. Penelitiannya di wilayah Timor Barat menunjukkan bahwa produktivitas air tanaman padi dan jagung masih berada di bawah standar optimal global, sehingga diperlukan inovasi teknologi, peningkatan kapasitas petani, serta integrasi pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan .
Lebih jauh, Prof. Jonathan juga menekankan pentingnya integrasi pengelolaan sumber daya alam meliputi hutan, air, energi, dan pangan sebagai satu kesatuan sistem. Ia mengingatkan bahwa alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian tanpa pengelolaan yang tepat berpotensi mengancam keberlanjutan lingkungan dan kehidupan masyarakat di masa depan .
Sementara itu, Prof. Beatrix Maureen Rehatta dalam orasi ilmiahnya yang berjudul “Merajut Tata Kelola Perikanan Lintas Batas: Dari Sains Stok ke Kebijakan Bersama” mengangkat isu strategis pengelolaan sumber daya laut lintas negara, khususnya di kawasan Selat Ombai yang berbatasan antara Indonesia dan Timor Leste.
Ia menjelaskan bahwa sumber daya ikan bersifat dinamis dan tidak mengenal batas administratif negara, sehingga memerlukan pendekatan tata kelola kolaboratif berbasis ekosistem. Penelitiannya menunjukkan bahwa sumber daya ikan di kawasan tersebut merupakan shared stock yang harus dikelola bersama untuk menghindari eksploitasi berlebihan atau tragedy of the commons .
Prof. Beatrix menawarkan model Transboundary Ecosystem Approach to Fisheries Management (T-EAFM), yang mengintegrasikan sains, kebijakan lintas negara, serta kearifan lokal seperti sasi dan tara bandu sebagai fondasi tata kelola berkelanjutan. Ia menegaskan bahwa kearifan lokal bukan sekadar tradisi, melainkan instrumen penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan keberlanjutan ekonomi masyarakat pesisir.

Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur, Johanis Asadoma, yang turut hadir dalam acara tersebut menyampaikan bahwa pengukuhan Guru Besar bukan hanya pencapaian akademik tertinggi, tetapi juga amanah besar untuk memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah.
“Kepakaran Prof. Jonathan sangat relevan dalam menjawab persoalan kekeringan dan degradasi lahan di NTT. Sementara Prof. Beatrix memiliki peran strategis dalam mendorong pengembangan ekonomi biru yang berkelanjutan,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara ilmu pengetahuan dan kearifan lokal dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan, mulai dari pengelolaan air, konservasi lingkungan, hingga tata kelola sumber daya kelautan.

Rektor UKAW Kupang, Godlief F. Neonufa, menyatakan bahwa pengukuhan ini menjadi tonggak penting dalam memperkuat kapasitas akademik institusi. Dengan bertambahnya dua Guru Besar, UKAW kini memiliki tujuh profesor aktif sebagai wujud komitmen dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan kontribusi terhadap masyarakat.
“Pengukuhan ini bukan sekadar pencapaian personal, tetapi momentum strategis bagi UKAW untuk terus berperan dalam menjawab tantangan global, khususnya di bidang ketahanan pangan dan pengelolaan sumber daya kelautan,” tegasnya.
Dengan pengukuhan ini, UKAW Kupang semakin memperkokoh perannya sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga responsif terhadap persoalan nyata masyarakat, khususnya di wilayah kepulauan dan semi-arid seperti Nusa Tenggara Timur. (jk)












