JAKARTA, TOMBAKRAKYAT.com — Kabar duka menyelimuti dunia pers nasional. Sekretaris Jenderal (Sekjen) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, Zulmansyah Sekedang, meninggal dunia pada Sabtu, 18 April 2026, pukul 00.05 WIB di RS Budi Kemuliaan. Almarhum mengembuskan napas terakhir akibat serangan jantung, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar insan pers di Indonesia.
Kepergian Zulmansyah bukan sekadar kehilangan personal bagi keluarga, tetapi juga kehilangan besar bagi ekosistem jurnalistik nasional. Sosok yang dikenal lugas, berani, dan memiliki komitmen kuat terhadap profesionalisme pers ini merupakan salah satu figur sentral dalam tubuh PWI. Dalam masa jabatannya sebagai Sekjen periode 2023–2028, ia menjadi penggerak organisasi dalam menghadapi tantangan zaman, mulai dari disrupsi digital hingga tekanan terhadap independensi media.
Sebelum menjabat di tingkat pusat, Zulmansyah dikenal luas sebagai Ketua PWI Riau. Dari daerah, ia membangun reputasi sebagai organisator yang mampu mengkonsolidasikan wartawan di tengah dinamika lokal yang tidak selalu ramah terhadap kebebasan pers. Kiprahnya di Riau menjadi fondasi kuat yang mengantarkannya ke panggung nasional. Ia bukan sekadar birokrat organisasi, tetapi juga jurnalis lapangan yang memahami denyut kerja media dari bawah.
Dalam berbagai kesempatan, Zulmansyah kerap menegaskan pentingnya menjaga marwah profesi wartawan di tengah gempuran kepentingan politik dan ekonomi. Ia mengingatkan bahwa pers bukan sekadar industri, tetapi pilar demokrasi yang tidak boleh tunduk pada kekuasaan. Pernyataan-pernyataannya sering kali tajam, bahkan terasa tidak nyaman bagi sebagian pihak, namun justru di situlah letak integritasnya.

Zulmansyah Sekedang, lahir 2 Juli 1972, adalah wartawan senior dan tokoh pers asal Aceh Tenggara yang menjabat sebagai Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) periode 2023–2028. Ia terpilih secara aklamasi melalui Kongres Luar Biasa (KLB) PWI pada 18 Agustus 2024 di Jakarta.
Berikut adalah profil singkat beliau:
Jabatan Saat Ini: Ketua Umum PWI Pusat (2023–2028).
Pengalaman Organisasi: Ketua PWI Provinsi Riau (2017–2022 dan 2022–2027).
Karier Profesional: Wartawan senior yang pernah menjabat sebagai Direktur Utama Harian Sumut Pos, Komisaris Harian Posmetro Medan, Komisaris Riau Televisi (RTV) Pekanbaru, dan Ketua Forum Pemimpin Redaksi Jawa Pos Group (JPG).
Latar Belakang: Berpengalaman luas dalam manajemen media cetak dan jaringan berita di Sumatra.
Ia dikenal sebagai figur yang aktif dalam kepengurusan organisasi profesi wartawan, khususnya dalam meningkatkan kompetensi wartawan di tingkat regional maupun nasional.
Kabar wafatnya Zulmansyah dengan cepat menyebar dan dikonfirmasi oleh jajaran pengurus PWI pusat maupun daerah. Ucapan duka dan penghormatan mengalir dari berbagai kalangan, mulai dari jurnalis, tokoh masyarakat, hingga pejabat publik. Banyak yang mengenang almarhum sebagai sosok yang tegas namun tetap membumi, keras dalam prinsip tetapi terbuka dalam dialog.
“Ini kehilangan besar bagi dunia pers. Beliau adalah penjaga nilai-nilai jurnalistik yang tidak mudah goyah,” ujar salah satu pengurus PWI daerah dalam pernyataan resminya.
Rencana pemakaman almarhum akan dilaksanakan di Pekanbaru, Riau. Jenazah dijadwalkan diterbangkan dari Jakarta menuju kampung halamannya untuk dimakamkan di sana. Keputusan ini seolah menjadi simbol kembalinya seorang pejuang pers ke tanah yang membesarkan namanya.
Namun di balik kabar duka ini, ada pertanyaan yang lebih besar yang seharusnya menggugah kesadaran kolektif: siapa yang akan melanjutkan garis keras integritas yang selama ini diperjuangkan Zulmansyah? Dunia pers Indonesia saat ini tidak sedang baik-baik saja. Di tengah banjir informasi, hoaks, dan kepentingan tersembunyi, figur-figur yang berdiri tegak menjaga etika jurnalistik justru semakin langka.
Kepergian Zulmansyah menjadi pengingat bahwa perjuangan menjaga independensi pers bukanlah pekerjaan satu atau dua orang, melainkan tanggung jawab bersama. PWI sebagai organisasi profesi kini dihadapkan pada ujian serius: apakah mampu melanjutkan semangat yang telah dibangun, atau justru terjebak dalam kompromi yang menggerus kredibilitas?
Warisan terbesar Zulmansyah bukanlah jabatan yang ia tinggalkan, melainkan sikap dan keberanian dalam mempertahankan prinsip. Ia menunjukkan bahwa menjadi wartawan bukan hanya soal menulis berita, tetapi juga soal keberpihakan pada kebenaran, meski harus berhadapan dengan risiko.
Di tengah suasana duka, refleksi menjadi hal yang tak terhindarkan. Dunia pers tidak boleh berhenti pada seremoni belasungkawa. Lebih dari itu, perlu ada keberanian untuk melanjutkan apa yang telah diperjuangkan almarhum: pers yang independen, kritis, dan tidak tunduk pada tekanan apa pun.
Selamat jalan, Zulmansyah Sekedang. Jejakmu bukan sekadar catatan organisasi, tetapi bagian dari sejarah panjang perjuangan pers Indonesia. Kini, tongkat estafet itu berpindah tangan—dan pertanyaannya sederhana namun menohok: masih adakah yang berani berjalan di jalur yang sama?












