OPINI & ANALISIS

Kisah Pahit Kiai Ashari: Saat Kepercayaan Retak di Balik Pagar Pesantren

29
×

Kisah Pahit Kiai Ashari: Saat Kepercayaan Retak di Balik Pagar Pesantren

Sebarkan artikel ini
Kisah Pahit Kiai Ashari: Saat Kepercayaan Retak di Balik Pagar Pesantren (Ilustrasi foto Tombakrakyat: Istimewa)
Kisah Pahit Kiai Ashari: Saat Kepercayaan Retak di Balik Pagar Pesantren (Ilustrasi foto Tombakrakyat: Istimewa)

Pondok Pesantren Ndholo Kusumo di Desa Tlogosari, Kecamatan Tlogowungu, selama ini dikenal sebagai tempat belajar agama dan harapan banyak keluarga sederhana. Di mata warga, pesantren itu seperti “pabrik kebaikan”. Santri mengaji, kegiatan sosial jalan, ceramah ramai, tamu datang silih berganti, dan nama lembaga makin naik daun.

 

TOMBAKOPINI: IAB

 

Di negeri ini, banyak persoalan besar justru paling gampang dibahas di warung kopi. Dari harga cabai yang naiknya lebih cepat dari gaji, timnas Indonesia yang bikin jantung rakyat naik-turun, sampai urusan yang katanya “sensitif”. Dan lucunya, kadang obrolan warung kopi jauh lebih jujur daripada rapat resmi yang notulensinya setebal skripsi tapi ujung-ujungnya cuma menghasilkan kalimat: “akan segera ditindaklanjuti.”

 

Nah, sebelum ceritanya dimulai… minum dulu kopinya, Bang.

 

Karena cerita ini agak pahit. Mirip kopi tanpa gula yang diminum sambil baca berita viral tengah malam.

 

Di balik pagar bambu, kitab kuning, suara ngaji subuh, dan sandal santri yang berserakan seperti puzzle kehidupan, ada satu hal yang sering kita lupa: tidak semua yang terlihat suci otomatis bebas dari rumitnya urusan dunia. Kadang yang paling membuat orang lengah justru reputasi yang terlalu harum. Kalau sudah terlalu harum, orang jadi takut curiga. Takut dianggap kurang iman. Takut dibilang “jangan suuzon, Bang.”

 

Pondok Pesantren Ndholo Kusumo di Desa Tlogosari, Kecamatan Tlogowungu, selama ini dikenal sebagai tempat belajar agama dan harapan banyak keluarga sederhana. Di mata warga, pesantren itu seperti “pabrik kebaikan”. Santri mengaji, kegiatan sosial jalan, ceramah ramai, tamu datang silih berganti, dan nama lembaga makin naik daun.

Baca Juga  Bencana,Sains,dan Hikmah : Sebuah Narasi Terintegrasi

 

Sosok Kyai Ashari pun dikenal sebagai figur yang dihormati. Dan di negeri kita, kalau seseorang sudah terlalu dihormati, kadang levelnya naik dari “tokoh masyarakat” menjadi “manusia yang tidak enak dipertanyakan.”

Nah, biasanya masalah mulai tumbuh justru ketika kritik dianggap gangguan.

 

Budaya kita memang unik. Kalau ada yang terlalu kritis, kadang langsung dicap kurang sopan. Kalau ada yang bertanya aneh sedikit, suasana langsung berubah seperti grup WhatsApp keluarga habis kirim berita politik. Semua mendadak sensitif.

 

Akhirnya banyak orang memilih diam. Karena diam terasa lebih aman daripada dicurigai macam-macam.

 

Sampai akhirnya kasus dugaan kekerasan seksual itu mencuat ke publik.

 

Penetapan tersangka dilakukan pada akhir April 2026, meski laporan awal sudah masuk sejak September 2025. Setelah beberapa kali tidak memenuhi panggilan dan sempat tidak berada di tempat, aparat akhirnya mencari keberadaannya seperti emak-emak mencari tutup toples yang hilang di dapur.

 

Kyai Ashari akhirnya ditangkap di wilayah Wonogiri, Jawa Tengah, lalu dibawa untuk pemeriksaan lebih lanjut.

 

Jumlah korban diduga mencapai sekitar 50 santriwati. Sebagian besar masih usia remaja tingkat SMP. Dugaan perbuatannya pun bukan cuma pelecehan seksual, tapi juga manipulasi psikologis berkedok ajaran spiritual. Dan di sinilah masyarakat mulai tersadar bahwa kadang kalimat “demi kebaikan” bisa dipakai seperti bungkus apa saja.

Baca Juga  Kolaborasi antara Pers Masyarakat Sipil dan Tokoh Bangsa Wujudkan Penguatan Demokrasi.

 

Dan seperti kebanyakan drama sosial di negeri +62, semuanya berubah cepat setelah viral.

 

Sebelum ramai, isu cuma muter-muter pelan dari mulut ke mulut. Masuk grup WhatsApp, keluar lagi. Dibahas di warung kopi sambil nunggu gorengan matang, lalu tenggelam oleh obrolan harga pupuk dan pertandingan bola.

 

Tapi begitu suara korban mulai terdengar lebih luas, publik seperti baru bangun dari tidur panjang. Media datang. Spanduk protes muncul. Aksi massa berdatangan. Orang-orang yang tadinya diam mendadak punya pendapat panjang lebar. Yang biasanya cuma kirim “selamat pagi” di grup keluarga mendadak berubah jadi analis sosial.

 

Satirenya memang pahit: di negeri ini, kadang sistem baru bergerak ketika suara sudah terlalu keras untuk diabaikan.

 

Sebelum viral, semuanya terasa lambat. Sesudah viral, semua mendadak sigap.

 

Pengurus dinonaktifkan. Operasional dihentikan. Izin diperiksa. Situasinya mirip orang baru sibuk mencari ember setelah dapur penuh asap. Niat memadamkan api memang ada, tapi kenapa alat pemadamnya baru dicari belakangan?

 

Yang paling menyisakan pertanyaan sebenarnya bukan cuma soal kasusnya, tapi pola yang terus berulang. Relasi kuasa terlalu besar. Ruang kritik terlalu sempit. Dan pengawasan sering datang setelah keadaan telanjur rusak.

Baca Juga  LSM Nasional : Transparan di Spanduk, Gelap di Rekening

 

Padahal lembaga berbasis asrama, apalagi yang menampung anak-anak dari keluarga rentan, seharusnya punya sistem kontrol yang ketat. Jangan cuma mengandalkan reputasi dan kalimat sakti: “tenang saja, di sini aman.”

 

Karena kalau dipikir-pikir, bahkan rice cooker saja punya tombol pengaman. Masa lembaga yang mengurus masa depan anak-anak cuma mengandalkan rasa sungkan untuk bertanya?

 

Di titik ini kita jadi sadar, kepercayaan memang penting. Tapi kepercayaan tanpa pengawasan kadang berubah jadi selimut terlalu tebal. Dari luar terlihat hangat, tapi di bawahnya banyak hal bisa tersembunyi.

 

Dan mungkin itu pelajaran paling mahal dari kisah ini: kritik bukan musuh lembaga baik. Kritik itu alarm.

 

Dan mungkin itu pelajaran paling mahal dari kisah ini: kritik bukan musuh lembaga baik. Justru kritik adalah alarm.

 

Memang berisik. Kadang bikin tidak nyaman. Kadang bikin orang tersinggung.

 

Tapi alarm memang tidak diciptakan untuk menenangkan. Alarm diciptakan supaya orang bangun sebelum semuanya terlambat.

 

Hari ini luka sosial itu masih terasa di Pati. Kepercayaan warga retak. Nama lembaga tercoreng. Banyak orang mulai mempertanyakan hal-hal yang dulu dianggap tabu untuk dibahas.

 

Namun harapannya tetap sederhana: semoga tempat belajar tetap menjadi ruang aman. Tempat anak-anak menuntut ilmu tanpa rasa takut. Dan semoga suara yang paling lemah tidak perlu menunggu viral dulu agar akhirnya didengar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *