OPINI & ANALISIS

Mayoritas Warga Indonesia adalah Petani—Lalu Siapa yang Sebenarnya ‘Mati Akal”?

14
×

Mayoritas Warga Indonesia adalah Petani—Lalu Siapa yang Sebenarnya ‘Mati Akal”?

Sebarkan artikel ini

“sempurna akal jadilah petani atau nelayan, banyak akal jadilah pedagang, dan mati akal jadilah pegawai.”

 

TOMBAKOPINI: IAB

 

Seruput dulu kopinya, Bang—biar obrolan kita nggak kalah hangat sama perdebatan di warung sebelah. Soalnya hari ini kita mau bahas pepatah diatas yang kedengarannya bijak, tapi kalau dipikir-pikir… agak nyelekit juga.

 

Kalau benar begitu, berarti sebagian besar rakyat Indonesia ini jenius… atau jangan-jangan kita semua lagi salah paham berjamaah?

 

Coba bayangkan, kalau pepatah itu dibikin zaman sekarang, mungkin versi revisinya begini: “sempurna akal jadi petani, banyak akal jadi pedagang, dan kepepet akal jadi karyawan… tapi tetap lanjut, karena cicilan belum lunas.” Nah, itu baru terasa lebih relevan dan sedikit lebih jujur.

 

Sekarang kita intip data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2026 biar nggak cuma debat pakai perasaan. Jumlah orang yang bekerja di Indonesia mencapai 147,67 juta orang. Dan yang paling banyak? Sektor pertanian—sekitar 28,78% atau kira-kira 42 jutaan orang. Jadi kalau ada yang bilang petani itu “sempurna akal”, ya masuk akal juga. Soalnya jadi petani itu bukan sekadar nanam terus panen. Itu paket lengkap: ahli cuaca, ahli strategi, plus kadang jadi motivator diri sendiri.

Baca Juga  Rp16,9 Triliun dan Perdamaian yang Dipertaruhkan: Indonesia di Persimpangan Hukum Internasional

 

Bangun pagi bukan karena alarm, tapi karena ayam yang bahkan belum tentu digaji. Ngurus sawah, lawan hama, mikir pupuk, sampai nebak harga panen yang sering berubah-ubah lebih cepat dari mood orang nunggu chat dibalas. Kalau itu belum disebut pakai akal tingkat dewa, ya kita perlu definisi baru.

 

Di posisi kedua ada perdagangan, sekitar 17,95%. Nah ini cocok sama pepatah “banyak akal”. Pedagang itu bukan cuma jualan barang, tapi juga jual strategi. Harga bisa lentur kayak niat diet: tergantung situasi. Kadang kita dikasih harga “saudara”… walaupun saudara jauhnya sudah beda pulau.

 

Pedagang itu bisa jadi psikolog dadakan. Tahu kapan pembeli cuma lihat-lihat, kapan serius, dan kapan pura-pura pergi biar dipanggil balik. Mereka paham satu hal penting: kadang yang dijual itu bukan barangnya, tapi rasa “diperhatikan”. Bonusnya? Sedikit drama biar transaksi terasa lebih berwarna.

 

Lalu ada industri dan para karyawan yang jumlahnya juga nggak sedikit. Bahkan dari status pekerjaan, yang paling banyak justru karyawan—sekitar 36,99%. Jadi kalau dibilang “mati akal”, kok ya yang milih jalan ini malah paling ramai? Jangan-jangan bukan mati akal, tapi lagi nyicil mimpi… plus cicilan beneran.

Baca Juga  Negeri Bergelar Panjang, Tapi Pendek dalam Membersamai

 

Karyawan itu hidupnya kayak sinetron episode panjang. Bangun pagi lawan alarm, berangkat kerja lawan macet, di kantor lawan deadline, pulang lawan capek, malam lawan kenyataan isi rekening. Tapi tetap jalan. Tetap bangun besoknya. Itu bukan mati akal, Bang… itu akal yang lagi kerja lembur tanpa tanda jasa.

 

Kadang mereka juga punya mimpi besar. Tapi sementara mimpi itu ditaruh dulu di laci, diganti sama target bulanan dan cicilan yang lebih galak dari bos. Dan hebatnya, mereka tetap bisa ketawa. Walau kadang ketawanya tipis-tipis, kayak saldo akhir bulan.

 

Sebenarnya, mungkin pepatah itu lahir di zaman yang hidupnya belum seribet sekarang. Dulu pilihan hidup mungkin cuma beberapa, jalannya lurus. Sekarang? Pilihan banyak, tapi jalannya bercabang-cabang kayak gang tikus. Mau jadi apa pun tetap butuh akal.

 

Petani butuh strategi. Pedagang butuh kreativitas. Karyawan butuh ketahanan mental. Semua mikir. Semua berjuang. Bedanya cuma medan tempurnya.

Baca Juga  Gelar Tinggi, Nyali Rendah — Ketika Organisasi Guru Kehilangan Keberanian Moral

 

Jadi mungkin yang keliru bukan orang-orangnya, tapi cara kita memahami pepatahnya. Kita terlalu sibuk kasih label: ini pintar, itu kurang pintar. Padahal hidup nggak pernah sesederhana itu. Nggak ada akal yang lebih tinggi atau lebih rendah—yang ada cuma cara berbeda buat tetap bertahan.

 

Akhirnya, kita balik lagi ke warung kopi ini. Tempat di mana semua gelar dilepas, semua label dibiarkan parkir di luar. Di sini, petani, pedagang, karyawan, semua sama: sama-sama pesan kopi, sama-sama nunggu gorengan, sama-sama punya cerita.

 

Dan di tengah obrolan santai ini, kita sadar satu hal: hidup itu memang ribet. Tapi anehnya, selalu ada cara buat tetap jalan. Entah dengan akal sempurna, banyak akal, atau akal yang lagi ngos-ngosan.

 

Karena pada akhirnya, Bang—hidup ini bukan soal siapa yang paling pintar atau paling kehabisan akal. Tapi soal siapa yang masih mau bangkit, masih mau nyoba lagi, dan masih punya tenaga buat bilang, “ya sudahlah… besok kita lanjut lagi.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *