TOMBAKOPINI: IAB
Kalau mendengar kata “Pesta Babi”, sebagian orang mungkin langsung bereaksi spontan. Ada yang mengernyitkan dahi. Ada yang bertanya-tanya. Ada pula yang mungkin refleks membuka YouTube sambil mengetik judulnya dengan penuh rasa penasaran.
Padahal tunggu dulu, Bang.
Yang bikin heboh kali ini bukan soal haram atau halal. Bukan soal resep masakan warisan leluhur. Bukan pula lomba bakar babi terbesar se-Papua.
Yang bikin ribut justru film dokumenternya.
Makanya sebelum lanjut membaca, silakan seruput kopi dulu. Kopi masih aman. Sampai hari ini belum ada kontroversi nasional tentang secangkir kopi hitam. Walaupun melihat suasana negeri yang makin kreatif dalam berdebat, bukan tidak mungkin suatu hari nanti muncul diskusi panjang tentang cara mengaduk kopi yang paling nasionalis dan sesuai nilai-nilai kebangsaan.
Nah, film dokumenter berjudul Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita mendadak menjadi bahan pembicaraan di mana-mana. Film ini mengangkat kehidupan masyarakat adat Papua Selatan, berbicara tentang tanah adat, hutan, pembangunan besar-besaran, serta berbagai perubahan yang dirasakan masyarakat setempat.
Awalnya mungkin hanya ditonton kalangan tertentu. Penontonnya tidak terlalu ramai. Suasananya tenang. Tidak ada keributan berarti.
Tapi seperti banyak kejadian di negeri ini, semakin ramai diperdebatkan, semakin banyak orang penasaran.
Ini hukum alam internet yang sampai sekarang belum bisa dijelaskan para ilmuwan.
Kalau sesuatu dilarang, orang ingin tahu.
Kalau sesuatu dibatasi, orang penasaran.
Kalau disuruh jangan menonton, netizen mendadak berubah menjadi peneliti profesional dengan semangat yang bahkan tidak pernah muncul saat mengerjakan skripsi.
Akhirnya film itu malah semakin viral.
Orang-orang yang kemarin belum pernah membahas Papua tiba-tiba menjadi pengamat Papua dadakan. Yang biasanya sibuk membahas hasil pertandingan sepak bola mendadak menjadi analis sosial. Yang sehari-hari berdebat soal transfer pemain tiba-tiba membicarakan kolonialisme, hak masyarakat adat, pembangunan, dan kebebasan berekspresi.
Internet memang tempat yang ajaib.
Di sana seseorang bisa menjadi ahli apa saja dalam waktu tiga puluh menit dan bermodal kuota internet.
Lalu muncullah berbagai diskusi, nobar, komentar media sosial, hingga perdebatan yang panjangnya bisa mengalahkan antrean loket pelayanan publik.
Ada yang memuji film tersebut karena dianggap berani mengangkat suara masyarakat adat yang selama ini jarang terdengar.
Ada juga yang mengkritik karena dinilai terlalu sensitif dan berpotensi memicu ketegangan.
Belum selesai sampai di situ.
Kontroversi semakin ramai ketika sejumlah acara pemutaran dan diskusi dilaporkan dibatalkan atau dibubarkan.
Hasilnya?
Ya seperti biasa.
Efeknya justru berlawanan.
Semakin dibatasi, semakin dicari.
Semakin dilarang, semakin viral.
Kadang netizen Indonesia memang seperti detektif. Kalau ada tulisan “jangan dibuka”, justru itu yang pertama kali dibuka.
Di tengah perdebatan tersebut muncul pula polemik lain. Tokoh masyarakat adat Papua, Mama Yasinta, menyampaikan kekecewaannya karena merasa tidak memahami sepenuhnya bagaimana dirinya akan ditampilkan dalam film tersebut.
Nah, di titik ini diskusinya menjadi lebih rumit.
Bukan lagi sekadar soal setuju atau tidak setuju terhadap isi film.
Bukan lagi soal siapa yang benar dan siapa yang salah.
Tetapi juga soal etika dokumenter, persetujuan narasumber, dan bagaimana masyarakat adat direpresentasikan dalam sebuah karya.
Karena kamera memang benda kecil.
Namun dampaknya bisa luar biasa besar.
Sekali gambar direkam dan tersebar ke internet, jutaan mata bisa melihatnya. Dan setelah masuk internet, kadang jejaknya lebih susah hilang daripada mantan yang masih suka muncul di beranda media sosial.
Lalu bagaimana dengan adegan makan babi yang ramai dibicarakan?
Nah, ini yang sering disalahpahami.
Dalam konteks masyarakat adat Papua, babi bukan sekadar makanan yang disajikan saat lapar. Babi memiliki makna budaya yang sangat penting. Ia menjadi simbol kebersamaan, simbol hubungan sosial, simbol penghormatan, dan bagian dari tradisi yang telah hidup turun-temurun.
Jadi maknanya jauh lebih dalam daripada sekadar menu makan siang.
Film ini mencoba menunjukkan bahwa ketika tanah, hutan, dan lingkungan berubah, yang terdampak bukan hanya soal ekonomi masyarakat.
Tradisi juga ikut berubah.
Cara hidup ikut berubah.
Identitas budaya pun bisa ikut terpengaruh.
Pada akhirnya, kontroversi film ini sebenarnya bukan benar-benar tentang babi.
Ini tentang Papua.
Ini tentang pembangunan.
Ini tentang hak masyarakat adat.
Ini tentang kebebasan berekspresi.
Ini tentang bagaimana kritik disampaikan dan bagaimana kritik diterima.
Dan seperti biasa, di negeri yang gemar berdebat ini, setiap orang punya pendapat masing-masing.
Sementara itu, kalau babi dalam film tersebut bisa bicara, mungkin ia hanya akan berkata:
“Bang, saya cuma simbol budaya. Kenapa malah saya yang paling banyak dibahas?”
Begitulah hidup di era media sosial.
Kadang isi pembicaraannya sangat serius, tetapi judulnya yang paling ramai diperbincangkan.
Filmnya berbicara tentang banyak hal. Namun yang terdengar paling keras justru suara kontroversinya.
Sekarang kopinya sudah habis?
Kalau belum, tambah lagi secangkir.
Sebab di Indonesia, kadang secangkir kopi memang diperlukan untuk mencerna berita yang jauh lebih rumit daripada judulnya.












