SURABAYA — “BUMI”: Pameran yang Mengajak Kita Mengingat Tanah, Menyadari Kosmos, dan Mendengar Yang Retak
Pameran seni BUMI, yang dibuka di Galeri Dewan Kesenian Surabaya pada 1 Desember 2025, dan berlangsung hingga 7 Desember 2025 menghadirkan bukan hanya karya visual, tetapi sebuah ruang kesadaran: perjumpaan antara tubuh manusia, luka ekologis, dan ingatan paling purba tentang tanah tempat kita berpijak. Di tengah kota yang kian keras, pameran ini hadir sebagai jeda, sebuah ruang menghela napas untuk melihat kembali bagaimana bumi dalam seluruh keretakannya berbicara.
Namun sebelum memasuki ruang apresiasi, ada realitas yang perlu dicatat: tidak semua perupa yang tertera dapat turut berpameran. Beberapa menghadapi kendala teknis, persoalan pendanaan, jarak, pekerjaan yang menumpuk, hingga faktor kesehatan. Sebuah gambaran kecil tentang betapa perjuangan berkarya di ranah seni rupa daerah sering kali berlangsung jauh dari panggung sorotan. Namun, absensi fisik bukan berarti absennya suara; beberapa tetap hadir melalui jejak praksis yang konsisten dan berumur panjang.
Seni sebagai Medan Keterhubungan
Pameran BUMI tidak berangkat dari estetika dekoratif, tetapi dari gagasan bahwa seni adalah medan keterhubungan sebuah relational field yang menggabungkan arsip suara tanah, teks terfragmentasi, tubuh performer, hingga senyap yang sengaja dihadirkan. Tidak ada medium yang menonjol sendiri; semuanya bergerak sebagai simpul-simpul yang saling melengkapi.
Pendekatan ini tak bermaksud menambah moralitas baru atas isu lingkungan.
Sebaliknya, kuratorialnya tegas: ekologi sebagai kesadaran, bukan doktrin.
Ketika tanah diretas menjadi visual, ketika bunyi-bunyian menyuarakan gesekan yang tak harmonis, penonton tak sedang dinasihati melainkan diajak mengalami.
Manusia sebagai Stardust
Di balik pameran ini, ada gagasan kosmologis yang lebih dalam: bahwa manusia, tanah, air, udara, tumbuhan, dan seluruh entitas ekologis merupakan materi kosmik yang sama. Debu dari debu bintang.
Pemikiran ini menggeser posisi seni dari sekadar ekspresi personal menuju getaran yang lebih luas getaran yang mengingatkan bahwa kita tak pernah benar-benar terpisah dari yang kita sebut “bumi”.
Perupa yang Konsisten Menyuarakan Retakan
Dalam arus besar gagasan itu, hadir nama-nama yang dalam beberapa tahun terakhir konsisten bekerja dalam semangat keberpihakan pada lingkungan, tubuh, dan keterhubungan manusia dengan tanah.
Uret Pariono, misalnya, yang kerap mengajak penonton memasuki ruang-ruang antara: antara ingatan dan geologi, antara puing dan tubuh. Karyanya, meski kadang tampak muram, selalu menjadi semacam sonar kecil yang menangkap denyut bumi.
Ibob, dengan pendekatan visual yang keras namun jujur, menghadirkan retakan-retakan ekologis sebagai bahasa. Setiap goresannya adalah bentuk kesaksian: bahwa kerusakan ekologis bukan tema, tapi pengalaman yang menempel di tubuh manusia modern.
Pun Roby, Dhani dan yang lain menuangkan kekhasan yang menyuarakan segala keterkaitan manusia, alam dan kerusakannya.
Nama-nama seperti mereka menguatkan struktur pameran ini bahwa seni bukan hanya hiasan, tetapi kesaksian hidup.
Keterbatasan Kehadiran, Kelengkapan Suara
Absennya beberapa perupa bukan kekurangan, melainkan pengingat bahwa ruang seni kita masih penuh tantangan. Ada yang karyanya tertahan di perjalanan, ada yang terhambat biaya produksi, ada pula yang harus mendahulukan hidup sehari-hari. Tetapi suara mereka tetap mengendap dalam gagasan besar pameran ini: bahwa bumi bukan hanya medan krisis, tetapi medan kesadaran.
Mengajak Kembali Menyadari Keberadaan
Dengan menautkan teori tanah sebagai materi kosmik, ekofenomenologi, dan estetika ekologis, pameran BUMI tidak sekadar memamerkan karya. Ia membuka ruang bagi pertanyaan yang lebih mendasar:
Bagaimana keberadaan kita di dunia ini?
Siapa kita ketika tanah retak?
Apa yang masih ingin kita dengar dari bumi sebelum semuanya terlambat?
Pameran ini, pada akhirnya, adalah ajakan untuk menyaksikan kembali diri kita sebagai bagian dari sesuatu yang lebih besar. Bahwa menginjak tanah berarti mengingat asal-usul kita, mengingat tubuh kita sendiri, dan mengingat bahwa keberadaan bukanlah sesuatu yang terpisah, tetapi terhubung secara terus-menerus.
Dan dari Surabaya, suara kecil itu kembali bergetar.












