SEMARANG ,TOMBAK RAKYAT.COM – Ratusan mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) Semarang yang memadati depan Gedung DPRD Jawa Tengah pada Jumat (12/6/2026) sore, membawa narasi kemarahan atas kondisi ekonomi nasional yang kian memprihatinkan.
Mengenakan jaket almamater biru khas Undip, massa aksi menyoroti tajam nilai tukar rupiah yang terus anjlok hingga berdampak langsung pada daya beli masyarakat.Dalam orasinya, para mahasiswa menegaskan bahwa kondisi negara saat ini sedang “tidak karuan”.
Gejolak ekonomi yang dipicu lemahnya kurs rupiah telah memicu kenaikan harga berbagai komoditas, termasuk BBM non-subsidi, yang dinilai menjadi beban ganda bagi rakyat kecil.
“Di saat masyarakat harus berpikir keras untuk memenuhi kebutuhan hidup karena harga-harga naik, pemerintah justru sibuk mengurus regulasi yang tidak mendesak,” seru Michele (19), salah satu peserta aksi di lokasi.
Ekonomi Terpuruk dan Kebijakan Kontroversial
Koordinator Aksi BEM Undip, Dika Kusuma, menjelaskan bahwa anjloknya rupiah memiliki efek domino yang nyata.
Kenaikan biaya distribusi akibat naiknya harga BBM non-subsidi diprediksi akan memicu kelangkaan bahan pokok dan peralihan konsumsi ke bahan bakar subsidi, yang justru akan menambah beban APBN.Selain persoalan ekonomi, massa aksi juga membawa tiga tuntutan utama sebagai bentuk kritik atas prioritas pemerintah yang dinilai keliru:

- Evaluasi Ekonomi: Mendesak langkah konkret menstabilkan nilai tukar rupiah dan membatalkan kenaikan BBM non-subsidi.
- Penolakan Revisi UU Polri: Menolak poin-poin perluasan kewenangan kepolisian di ruang sipil dan perpanjangan masa jabatan Kapolri yang dinilai mencederai semangat reformasi.
- Evaluasi Program MBG: Menuntut transparansi dan efektivitas Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dianggap belum tepat sasaran di tengah krisis anggaran.
Aksi Simbolik di Pagar Parlemen
Pantauan di lokasi menunjukkan situasi sempat memanas saat sejumlah mahasiswa memanjat pagar Gedung DPRD Jateng sebagai simbol matinya pendengaran wakil rakyat terhadap jeritan ekonomi masyarakat.
Poster-poster bertuliskan kritik tajam terhadap kondisi rupiah dan kebijakan pemerintah tampak diacungkan tinggi-tinggi di tengah kerumunan massa.
“Negara sedang genting, rupiah anjlok, Pertamax naik, pemerintah malah sahkan RUU Polri,” teriak salah satu orator dari atas mobil komando.Hingga menjelang malam, aksi yang dikawal ketat oleh aparat kepolisian ini berjalan dengan tertib.
Mahasiswa mengancam akan kembali membawa massa yang lebih besar jika tuntutan mereka terkait perbaikan ekonomi dan pembatalan revisi UU Polri tidak segera digubris oleh pemerintah pusat maupun daerah.












