TOMBAKOPINI: IAB
Baru beberapa hari Piala Dunia 2026 berjalan, tetapi suasananya sudah ramai seperti pasar malam menjelang Lebaran. Di mana-mana orang sibuk membuat kesimpulan. Ada tim yang baru menang sekali langsung dijuluki calon juara dunia. Ada juga yang baru seri sekali sudah dianggap calon penumpang pesawat pulang paling cepat. Padahal turnamen masih panjang dan koper para pemain bahkan mungkin belum sempat dibuka sepenuhnya.
Begitulah sepak bola. Kadang logikanya berjalan lurus. Kadang belok mendadak tanpa lampu sein, tanpa klakson, dan tanpa pemberitahuan kepada siapa pun yang sedang ikut menumpang.
Sampai hari ini, 16 Juni 2026, berbagai model AI, superkomputer, dan simulasi statistik masih sibuk menghitung peluang. Setelah jutaan data diputar, ribuan pertandingan disimulasikan, dan entah berapa miliar angka diproses, nama yang paling sering muncul di posisi teratas tetap Spanyol.
Padahal pada laga pembuka mereka hanya bermain imbang 0-0 melawan Tanjung Verde. Hasil yang membuat sebagian penonton mengernyitkan dahi sambil bertanya, “Ini calon juara atau masih pemanasan?”
Namun AI punya cara berpikir yang berbeda. Komputer tidak mudah panik seperti netizen yang kadang membuat kesimpulan lebih cepat daripada wasit meniup peluit. AI melihat data jangka panjang. Ia tidak terlalu peduli pada satu hasil pertandingan. Bagi komputer, Spanyol masih memiliki banyak alasan untuk dijagokan.
Skuad mereka muda, energik, dan penuh talenta. Energinya seperti baterai baru keluar dari pabrik. Lini tengah mereka terkenal sabar menguasai bola. Kalau tim lain menyerang seperti pengendara motor yang terlambat masuk kerja, Spanyol lebih mirip orang yang sedang memilih mangga di pasar. Diputar dulu, diperiksa dulu, baru diputuskan mau dibawa ke mana.
Tepat di belakang mereka berdiri Prancis. Kalau Spanyol ibarat restoran mewah yang menyajikan hidangan dengan elegan, Prancis adalah prasmanan raksasa yang menunya bintang semua. Mau pemain cepat? Ada. Mau pemain kuat? Ada. Mau pemain kreatif? Ada. Bahkan pemain cadangannya sering membuat negara lain iri sambil menatap daftar skuad sendiri.
Argentina juga belum pergi ke mana-mana. Sang juara bertahan datang membawa pengalaman dan mental juara. Mereka seperti murid teladan yang sudah hafal pola soal ujian. Nilainya mungkin tidak selalu sempurna, tetapi hampir selalu tahu cara lolos saat keadaan mulai sulit.
Brasil pun masih nongkrong di daftar favorit meski ditahan imbang Maroko. Lagipula, mencoret Brasil hanya karena satu hasil seri sama saja seperti melihat seekor singa menguap lalu menyimpulkan bahwa ia sudah pensiun berburu. Brasil tetap Brasil. Negara yang menganggap sepak bola bukan sekadar olahraga, melainkan bahasa sehari-hari.
Inggris juga kembali hadir membawa koper penuh optimisme. Ini sudah menjadi tradisi yang hampir sama rutin dengan munculnya diskon akhir tahun. Setiap Piala Dunia mereka datang dengan keyakinan besar. Kadang pulang membawa kebanggaan, kadang pulang membawa kalimat legendaris, “Mungkin empat tahun lagi.”
Sementara itu, beberapa kuda hitam mulai mengintip dari tikungan. Jerman baru saja menggulung Curacao 7-1 dan membuat dunia melongo. Belanda tetap rapi seperti pegawai yang tidak pernah terlambat masuk kantor. Portugal juga diam-diam membawa skuad yang cukup menakutkan. Mereka bergerak tenang, tetapi lawan tetap harus waspada.
Namun kalau AI dipaksa menunjuk satu nama hari ini, pilihannya masih Spanyol.
Meski begitu, ada satu hal yang tidak bisa dihitung komputer secanggih apa pun. Piala Dunia dimainkan oleh manusia, bukan angka. Ada rasa gugup, ada keberuntungan, ada kartu merah, ada tiang gawang, ada keputusan wasit, dan kadang ada gol yang tercipta setelah bola memantul ke tiga pemain, satu sepatu, dua lutut, lalu entah bagaimana masuk ke gawang.
Kalau semuanya bisa ditebak komputer, kita cukup menyuruh superkomputer bermain melawan superkomputer dan hasilnya diumumkan lewat email. Tidak perlu stadion, tidak perlu suporter, dan tidak perlu komentator yang suaranya naik tiga oktaf setiap kali bola mendekati gawang.
Karena itulah favorit hanyalah status sementara. Trofi tidak diberikan kepada tim yang paling sering diprediksi juara. Trofi diberikan kepada tim yang masih berdiri tegak ketika yang lain mulai kehabisan napas.
Dan seperti biasa, bola tetap menjadi benda paling nakal di dunia olahraga. Bentuknya bundar, jalannya sulit ditebak, dan hobi utamanya adalah membuat para peramal, statistikawan, superkomputer, dan netizen terlihat salah di depan televisi.












