HIBURAN & WISATA

Jejak Kesadaran Wisata Pantai Sendang Asih: Dari Putra Daerah untuk Desanya

306
×

Jejak Kesadaran Wisata Pantai Sendang Asih: Dari Putra Daerah untuk Desanya

Sebarkan artikel ini

TOMBAKADVERTORIAL

Di banyak desa pesisir, potensi alam sering kali dikuasai oleh “orang jakarta” seperti salah satu pantai di desa Sendang Sikucing. Namun di desa tersebut ada satu putra daerah yang menolak pasrah menjadi penonton. Ia memilih bergerak, merintis, membangun dan merawat dari kesadaran sendiri. Sosok itu adalah H. M. Kardiyantomo, SE., atau yang akrab disapa Mas Kardi.

Bagi Mas Kardi, pantai bukan sekadar hamparan pasir dan ombak. Pantai adalah masa depan desa, sumber penghidupan warga, dan warisan yang harus dijaga oleh orang-orang yang lahir dan besar di sekitarnya. Dari kegelisahan itulah, benih kesadaran wisata Pantai Sendang Asih mulai tumbuh. Beliau sejak awal menyadari bahwa garis pantai desanya menyimpan potensi besar.

Akses jalan dari Jalan Utama hingga masuk Pintu Gerbang area wisata Pantai Sendang Asih
Akses jalan dari Jalan Utama hingga masuk Pintu Gerbang area wisata Pantai Sendang Asih

Pada tahun 2005–2006, saat dirinya dipercaya menjadi penanggung jawab Objek Wisata Pantai Sendang Sikucing yang dikelola Disporapar Kabupaten Kendal. Sebagai putra daerah yang tidak mau hanya dipandang sebelah mata, tidak rela tempat wisata milik daerah di nomor dua-kan, beliau mengusulkan perluasan area wisata agar potensi pantai bisa dikembangkan lebih maksimal. Namun, usulan tersebut tak kunjung mendapat respons dari pimpinan. Alih-alih menyerah, kegelisahan itu justru menjelma menjadi kesadaran yang lebih konkret: jika bukan orang desa sendiri yang bergerak, merintis, membangun dan merawat potensi itu akan terus diambil alih “orang jakarta”.

Baca Juga  Ribuan Warga Padati Lebaran Betawi, di lapangan banteng

 

Merawat Tanah Terisolir, Membuka Harapan Baru

Pada tahun 2007, H. M. Kardiyantomo, S.E., mengambil langkah yang tak biasa. Ia mulai merawat tanah negara yang terisolir di sepanjang pesisir pantai— lahan yang selama itu terabaikan, namun menyimpan potensi besar.

Air laut yang tenang dan hamparan pasir pantai yang dijaga ribuan pohon cemara, harmonisasi alam yang meneduhkan mata
Air laut yang tenang dan hamparan pasir pantai yang dijaga ribuan pohon cemara, harmonisasi alam yang meneduhkan mata

Dengan niat memanfaatkannya sebagai kawasan wisata baru, kawasan tersebut perlahan dibuka dan ditata. Tak berhenti di situ, demi membuka akses masuk yang layak, Mas Kardi bahkan membeli dua bidang lahan sawah hak milik perorangan, agar wisatawan dapat mencapai kawasan pantai dengan mudah. Dari proses panjang yang penuh perjuangan itulah, Pantai Sendang Asih mulai beroperasi dan dikenal publik.

Baca Juga  Benteng Pendem Cilacap, Saksi Bisu Sejarah Pertahanan Kolonial

 

Lebih dari Sekadar Bisnis Wisata

Pantai Sendang Asih bukan sekadar destinasi wisata berbasis ekonomi. Secara geografis, keberadaannya sangat strategis. Terletak di antara dua breakwater yang di bangun Kementrian Kelautan dan Perikanan (2009-2013) yakni di Muara Sungai Turunsih Sendang Sikucing dan di Muara Kali Kuto  Gempolsewu, kawasan ini justru memperoleh keuntungan ekologis.

Sunrise diufuk Timur Sendang Asih menandai awal hari
Sunrise diufuk Timur Sendang Asih menandai awal hari

Alih-alih tergerus abrasi, Pantai Sendang Asih relatif aman dari hempasan langsung gelombang laut. Bahkan, kawasan ini mengalami penambahan aluvial (endapan pasir) yang luar biasa—sebuah fenomena alam yang memperkuat garis pantai sekaligus membuka peluang penataan kawasan wisata yang berkelanjutan.

 

Kelebihan Pantai Sendang Asih : Keamanan dan Kenyamanan Wisatawan. 

Selain keuntungan ekologi. Keberadaan dua break water di sebelah timur dan sebelah barat Pantai Sendang Asih, mampu meredam gelombang yang membuat ombak di area wisata tersebut relatif kecil dan pantainya landai, sehingga aman dan nyaman buat bermain air para wisatawan.

Sendang Asih yang cuma 10 menit dari Exit Tol Weleri ini, memiliki nilai lebih yang nyaris tak ditemui di destinasi wisata pantai lain sepanjang pesisir Jawa Tengah, dari Brebes hingga Rembang.

Baca Juga  Libur Idulfitri Dimanfaatkan, Belasan Pelajar Indramayu Gelar Pendakian di Gunung Papandayan
Sunset, ketika Matahari tenggelam di ufuk barat Pantai Sendang Asih
Sunset, ketika Matahari tenggelam di ufuk barat Pantai Sendang Asih

Double view ; panorama ganda nan eksotik. Di sisi utara, pengunjung disuguhi hamparan pasir pantai yang menyapa birunya laut jawa yang luas terbuka, sementara di sisi selatan, terbentang hamparan sawah hijau milik warga, yang berubah menjadi kuning keemasan saat musim panen, menghadirkan perpaduan suasana desa yang menenangkan

 

Kesadaran Lokal, Pondasi Wisata Berdaulat

Kisah Pantai Sendang Asih adalah cermin bahwa kesadaran lokal dan keberanian mengambil inisiatif dapat menjadi pondasi kuat pembangunan desa. Bukan sekadar soal wisata, tetapi tentang kedaulatan desa atas sumber dayanya sendiri.

H. M.Kardiyantomo, S.E., dan baliho Sendang Asih dengan latar belakang hamparan sawah yang menghijau
H. M.Kardiyantomo, S.E., dan baliho Sendang Asih dengan latar belakang hamparan sawah yang menghijau

Apa yang dilakukan H. M. Kardiyantomo, S.E., menunjukkan bahwa pembangunan tidak selalu harus menunggu kebijakan dari atas. Kadang, perubahan justru lahir dari kegelisahan seorang putra daerah yang mencintai tanah kelahirannya

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *