HIBURAN & WISATABERITADAERAHEdukasi

Benteng Pendem Cilacap, Saksi Bisu Sejarah Pertahanan Kolonial

110
×

Benteng Pendem Cilacap, Saksi Bisu Sejarah Pertahanan Kolonial

Sebarkan artikel ini

Tombaktakyat.com – Cilacap – 01 Februari 2026 – Benteng Pendem Cilacap menjadi salah satu peninggalan sejarah kolonial Belanda yang hingga kini masih berdiri kokoh dan menjadi daya tarik wisata sejarah di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Benteng ini menyimpan nilai historis tinggi sebagai bagian dari sistem pertahanan Hindia Belanda pada abad ke-19.

Benteng Pendem, yang memiliki nama asli Kustbatterij op de Landtong te Tjilatjap, dibangun sekitar tahun 1861 hingga 1879. Lokasinya yang strategis di pesisir selatan Pulau Jawa menjadikan benteng ini sebagai pusat pertahanan untuk mengamankan Pelabuhan Cilacap dari ancaman musuh, khususnya melalui jalur laut.

Baca Juga  Kodim 0723/Klaten Selenggarakan Upacara Peringatan Hari Juang TNI Angkatan Darat Tahun 2025

Sesuai dengan namanya, sebagian besar bangunan Benteng Pendem berada di bawah permukaan tanah. Struktur ini dirancang untuk mengelabui musuh serta melindungi pasukan dan persenjataan dari serangan langsung. Di dalam kawasan benteng terdapat berbagai ruangan seperti barak prajurit, ruang amunisi, terowongan, hingga penjara bawah tanah.

Seiring berjalannya waktu, Benteng Pendem tidak lagi difungsikan sebagai fasilitas militer. Saat ini, benteng tersebut dikelola sebagai objek wisata sejarah yang terbuka untuk umum. Pengunjung dapat melihat langsung arsitektur bangunan kuno, merasakan suasana sejarah, sekaligus menikmati kawasan pantai di sekitarnya.
Pemerintah daerah setempat terus mendorong pelestarian Benteng Pendem sebagai aset budaya dan sejarah daerah.

Baca Juga  Rais Aam PBNU: Muktamar ke-35 NU Direncanakan 1-5 Agustus 2026, Lokasi Masih Menunggu Musyawarah

Selain menjadi sarana edukasi bagi generasi muda, keberadaan Benteng Pendem juga diharapkan mampu meningkatkan sektor pariwisata dan perekonomian masyarakat sekitar.
Benteng Pendem Cilacap bukan sekadar bangunan tua, melainkan saksi bisu perjalanan sejarah bangsa yang patut dijaga dan dilestarikan bersama.

Hisam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *