BERITA

“Alam & Manusia” Bergema di Living Law Art Stage: Kolaborasi Seni, Kritik, dan Suara Masyarakat Adat

52
×

“Alam & Manusia” Bergema di Living Law Art Stage: Kolaborasi Seni, Kritik, dan Suara Masyarakat Adat

Sebarkan artikel ini

Foto: Suasana pembacaan puisi oleh Andika Budi Saputra (nomor dua dari kanan) dengan judul “Alam & Manusia,” Selasa (12/05/2026).

YOGYAKARTA, TOMBAKRAKYAT.COM – Unit Studi Hukum Perdata Universitas Janabadra sukses gelar Living Law Art Stage pada 12 Mei 2026, sebuah panggung seni yang tidak hanya menampilkan estetika, tetapi juga menyuarakan kritik sosial yang mendalam. Salah satu penampilan yang paling menyita perhatian datang dari pembacaan puisi berjudul “Alam & Manusia,” karya Andika budi Saputra, yang dipadukan dengan kolaborasi visual bersama teman-teman USHP serta seorang alumni UJB seniman, Lidwina Riestanti.

Puisi tersebut menggambarkan relasi kompleks antara alam dan manusia, sekaligus mengkritik keras praktik eksploitasi sumber daya alam yang terus terjadi. Dalam pembacaan yang penuh penghayatan, setiap bait menghadirkan suasana sunyi, luka, dan harapan yang saling berkelindan.

Baca Juga  Ribuan warga Meriahkan Jalan Sehat HUT ke -54 KORPRI di Depan Kantor Gubernur Jateng

Kolaborasi menjadi semakin kuat ketika di atas kanvas, sang alumni melukiskan sosok badut sebagai simbol. Badut tersebut bukan sekadar figur artistik, melainkan representasi dari tiga entitas besar: negara, korporasi, dan masyarakat adat. Visual ini menggambarkan ironi bagaimana kekuasaan dan kepentingan seringkali “Memainkan peran” di atas penderitaan, sementara masyarakat adat justru menjadi pihak yang paling terdampak.

Dalam puisinya, Andika menyoroti bagaimana alam yang dahulu menjadi ruang hidup harmonis kini berubah menjadi objek eksploitasi. Ia juga menyentil peran negara yang dinilai kerap abai, serta korporasi yang lebih mengutamakan keuntungan dibanding keberlanjutan lingkungan dan kehidupan masyarakat lokal.

Baca Juga  Forum Guru NTT Desak Prabowo Ambil Alih Perlindungan Guru dari Daerah ke Pusat

“Alam bukan untuk ditaklukkan,” menjadi salah satu pesan kuat yang tersirat dalam pembacaan tersebut, mengingatkan kembali pada nilai-nilai hidup masyarakat adat yang menjunjung keseimbangan dengan alam.

Tidak hanya sebagai karya sastra, penampilan ini juga menjadi bentuk perlawanan kultural mengajak audiens untuk kembali merefleksikan posisi manusia di tengah krisis ekologis dan ketimpangan sosial.

Acara Living Law Art Stage sendiri menjadi ruang alternatif bagi mahasiswa hukum untuk mengekspresikan gagasan secara kreatif. Kegiatan ini membuktikan bahwa hukum tidak hanya hidup dalam ruang kelas dan teks normatif, tetapi juga dalam realitas sosial, budaya, dan seni.

Baca Juga  Jembatan Kuning Bongas Sebagian Ambruk, Pemdes dan Kodim0616/Indramayu Lakukan Pemeriksaan

Melalui panggung ini, pesan yang disampaikan menjadi lebih luas bahwa keadilan tidak hanya soal aturan, tetapi juga soal keberpihakan pada yang lemah termasuk alam dan masyarakat adat.

Di akhir penampilan, tepuk tangan panjang menggema. Bukan sekadar apresiasi, tetapi juga bentuk kesadaran yang perlahan tumbuh bahwa di balik keindahan seni, ada realitas yang tak boleh lagi diabaikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *