BERITA

Dapur Umum IPDN di Aceh Tamiang Tak Hanya Penuhi Kebutuhan Satgas: Roda Ekonomi Warga Berputar, Bahan Pangan Lokal Diberdayakan

77
×

Dapur Umum IPDN di Aceh Tamiang Tak Hanya Penuhi Kebutuhan Satgas: Roda Ekonomi Warga Berputar, Bahan Pangan Lokal Diberdayakan

Sebarkan artikel ini

Tombak Rakyat.com – Aceh Tamiang – Di tengah upaya pemulihan pascabencana yang terus digenjot di wilayah Sumatra, kehadiran Dapur Umum yang dikelola oleh Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) di Aceh Tamiang tak sekadar memastikan kebutuhan konsumsi ribuan personel Satuan Tugas (Satgas) terpenuhi. Lebih dari itu, Dapur Umum IPDN turut menjadi penggerak roda ekonomi warga sekitar melalui pemanfaatan bahan pangan lokal, memberikan dampak positif ganda bagi proses pemulihan pascabencana.

Koordinator Dapur Umum, Purnomo, menjelaskan bahwa operasional dapur umum dimulai sejak 4 Januari 2026, tak lama setelah kloter pertama praja diterbangkan ke Aceh Tamiang pada 3 Januari 2026. Pada hari pertama, pelayanan dilakukan sebanyak 500 porsi. Seiring dengan pengerahan praja dan Aparatur Sipil Negara (ASN) secara keseluruhan, sejak 5 Januari 2026 Dapur Umum beroperasi penuh dengan melayani 1.141 porsi untuk setiap waktu makan, yakni pagi, siang, dan malam.

Baca Juga  WLKB Dan Sinergi : Bakti Sosial Di Rusunawa Klaten Ungkap Realitas Sosial Yang Terlupakan  

“Kami berupaya semaksimal mungkin untuk memenuhi kebutuhan konsumsi seluruh personel Satgas dengan menu yang bergizi dan bervariasi. Selain itu, kami juga berkomitmen untuk mendukung ekonomi warga sekitar dengan memanfaatkan bahan pangan lokal,” ujar Purnomo saat ditemui di Sentra Dapur Umum IPDN, Aceh Tamiang, Aceh, Sabtu (17/1/2026).

Menu Sehat Standar IPDN, Bahan Pangan Lokal Diberdayakan!

Purnomo menjelaskan, menu yang disajikan di Dapur Umum IPDN menggunakan standar pelayanan di Kesatriaan IPDN Jatinangor. Untuk makan pagi, terdiri dari karbo atau nasi, kemudian ada serat melalui sayur, pemenuhan protein. Di siang hari, ada tambahan lauk hewani dan nabati, dan juga buah. Menu serupa juga disajikan di makan malam.

“Sebagaimana arahan pimpinan, kami berupaya untuk berinteraksi atau mengambil bahan makanan tersebut dari masyarakat guna menghidupkan ekonomi masyarakat di daerah terdampak, yaitu yang saat ini kita sama-sama berada di daerah Aceh Tamiang dan sekitar,” ujarnya.

Baca Juga  Mendagri Dan Menko PMK Gelar Rapat Darurat, Bahas Kebutuhan Segera Masyarakat Aceh Tamiang & Aceh Timur Pascabencana

Bahan makanan Dapur Umum dipenuhi dari wilayah sekitar Aceh Tamiang, termasuk Langsa, Kuala Simpang, Pangkalan Brandan, hingga Medan. Bahan baku tersebut meliputi beras, minyak, bumbu, ikan, lauk-pauk, buah, dan sayuran. Upaya ini turut menghidupkan perekonomian warga di daerah terdampak bencana.

 

Tantangan di Lapangan: Improvasi Menu dengan Bahan Pangan Lokal!

Purnomo mengungkapkan, pengelolaan Dapur Umum di lapangan memiliki tantangan tersendiri dibandingkan dengan dapur permanen. Keterbatasan sarana, kebutuhan gas, harga bahan pokok yang relatif lebih tinggi, serta ketersediaan bahan di pasar menjadi kendala yang harus dihadapi.

Oleh karena itu, penyusunan menu harus menyesuaikan kondisi lapangan. Jika bahan tertentu sulit diperoleh, maka akan dilakukan penyesuaian.

“Contoh kemarin kebutuhan kol, kentang, kemudian wortel agak susah, kita ubah menggunakan sayuran yang ada di wilayah tempat, seperti contoh sayur paku atau sayur pakis. Itu khas sini. Kita coba improvisasi dan Alhamdulillah bisa diterima oleh lidah kita semua, lidah teman-teman Satgas semua,” ungkapnya.

Baca Juga  “Revolusi Literasi Hukum! FERADI WPI Cetak Generasi Pejuang Keadilan dan Jurnalis Pengawas Kekuasaan”

Saat ini, Dapur Umum IPDN didukung oleh 18 kru yang bekerja secara bergantian untuk melayani kebutuhan makan pagi, siang, dan malam. Para kru bekerja hampir tanpa jeda, memanfaatkan waktu senggang untuk beristirahat sejenak sebelum kembali bertugas.

Persiapan makan pagi dimulai sejak pukul 22.00 WIB hingga sekitar pukul 04.00 WIB dini hari. Setelah itu, dilanjutkan dengan proses penyajian, pengemasan, dan distribusi. Sekitar pukul 06.30 WIB, praja dan anggota Satgas mulai mengambil jatah makan pagi dan snack.

“Ada tim yang berangkat ke pasar untuk cari bahan baku dari subuh, kemudian jam 07.30-08.00 sudah sampai di dapur umum, langsung start, dilakukan pembersihan, peracikan, pembuatan bumbu dan lain-lain,” jelasnya.

 

 

(Desi/ Kemendagri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *