Kupang, NTT Tombak Rakyat.com – Semangat literasi kembali menyala dari dunia pendidikan Nusa Tenggara Timur. Seorang siswi muda dari SMAN 3 Kupang, Atalya Lana Syalom Toepoe (Kelas XG), berhasil menunjukkan bahwa usia bukanlah batas untuk berkarya. Melalui novel perdananya yang berjudul “Erlanya”, Atalya mengajak generasi muda untuk berani menulis, berimajinasi, dan mencintai literasi sejak dini.
Novel Erlanya lahir dari ketertarikan Atalya dalam merangkai kata dan menyusun cerita. Ia mengungkapkan bahwa menulis bukan sekadar hobi, tetapi juga ruang untuk menyalurkan ide, perasaan, serta mengembangkan daya imajinasi. Karya ini menjadi bukti bahwa siswa-siswi NTT memiliki potensi besar untuk bersaing dan berkontribusi dalam dunia literasi.
“Melalui tulisan, saya bisa menuangkan apa yang saya rasakan dan pikirkan. Saya berharap karya ini bisa menjadi langkah awal untuk terus berkembang,” ungkap Atalya.

Dukungan terhadap karya ini juga datang dari Ketua Forum Guru NTT, Jusup KoeHoea, S.Pd., CPA (JK). Ia menegaskan bahwa kehadiran karya seperti Erlanya merupakan bukti konkret bahwa gerakan literasi di sekolah tidak boleh hanya berhenti pada slogan, tetapi harus melahirkan karya nyata dari peserta didik.
“Ini adalah contoh hidup bahwa literasi itu bukan teori, tetapi praktik. Apa yang dilakukan Atalya harus menjadi inspirasi bagi seluruh siswa di NTT bahwa menulis adalah kekuatan. Dari tulisan, lahir pemikiran, dari pemikiran, lahir perubahan,” tegas JK.
Lebih lanjut, JK juga mengajak seluruh sekolah di NTT untuk menjadikan literasi sebagai gerakan bersama yang terstruktur dan berkelanjutan. Menurutnya, sekolah harus memberi ruang, panggung, dan apresiasi kepada siswa yang memiliki minat dan bakat menulis.
“Kami mendorong agar setiap sekolah tidak hanya mewajibkan membaca, tetapi juga memfasilitasi siswa untuk menulis dan menerbitkan karya. Gerakan literasi sekolah harus melahirkan penulis-penulis muda dari NTT,” tambahnya.
Ia juga memberikan motivasi khusus kepada seluruh pelajar di NTT agar tidak ragu untuk memulai.
“Jangan takut menulis. Tidak perlu menunggu sempurna. Mulailah dari apa yang ada dalam pikiran dan hati kalian. Setiap tulisan adalah jejak keberanian dan langkah menuju masa depan,” pesan JK.
Momentum ini diharapkan menjadi pemantik bagi seluruh siswa-siswi di NTT untuk bangkit dan mengambil peran dalam gerakan literasi sekolah. Setiap pelajar memiliki cerita, gagasan, dan suara yang layak untuk dituangkan dalam tulisan. Dari ruang kelas, perpustakaan, hingga komunitas belajar, literasi harus menjadi gerakan bersama.
Kisah Atalya adalah bukti nyata: dari satu karya, lahir inspirasi untuk banyak orang. Dari satu siswa, tumbuh harapan untuk masa depan literasi NTT yang lebih maju.
Mari bergerak bersama. Menulis hari ini, menginspirasi masa depan.












