Kembalikan Orientasi: Kualitas Pendidikan, Bukan Beban Administratif
TOMBAKOPINI: Emhape
Setiap 2 Mei, kita merayakan Hari Pendidikan Nasional. Namun peringatan ini seharusnya bukan sekadar seremoni, melainkan momentum untuk bertanya jujur: apakah arah pendidikan kita masih berpusat pada kualitas, atau justru tersesat dalam tumpukan administrasi dan beban di luar esensi?
Hari ini, banyak guru tidak lagi sepenuhnya menjadi pendidik. Waktu dan energi mereka terkuras oleh laporan berlapis, pengisian data yang berulang, hingga keterlibatan dalam urusan yang bukan ranahnya—mulai dari perencanaan pembangunan fisik sekolah hingga menjadi “perantara” pengumpulan sumbangan dari orang tua. Ini bukan hanya salah arah, tapi juga berisiko menyeret guru ke wilayah abu-abu yang bersinggungan dengan larangan pungutan.
Kita perlu tegas: guru bukan tenaga administrasi, bukan panitia proyek, dan bukan kolektor dana.
Guru adalah pendidik—titik.
Ketika guru dipaksa memikul tugas di luar peran utamanya, yang dikorbankan bukan hanya waktu, tapi kualitas pembelajaran itu sendiri. Kelas menjadi formalitas, interaksi kehilangan kedalaman, dan proses pendidikan berubah menjadi rutinitas tanpa makna.
Lebih jauh lagi, apa yang dilakukan guru akan menjadi cermin bagi siswa. Jika guru disibukkan oleh hal-hal administratif dan praktik yang tidak sehat, maka itulah yang secara tidak langsung diajarkan kepada generasi berikutnya.
Di sinilah kita perlu kembali pada filosofi pendidikan yang telah lama menjadi fondasi:
“Ing Ngarso Sung Tulodho”
Di depan, seorang pendidik harus memberi teladan. Guru adalah figur yang dicontoh, bukan hanya dalam pengetahuan, tetapi juga integritas, etika, dan sikap hidup.
“Ing Madyo Mangun Karso”
Di tengah, guru membangun semangat. Ia hadir sebagai penggerak, membangkitkan motivasi, menciptakan suasana belajar yang hidup dan partisipatif.
“Tut Wuri Handayani”
Di belakang, guru memberi dorongan. Ia tidak mendominasi, melainkan memberi ruang bagi siswa untuk tumbuh, sambil tetap mengarahkan dengan bijak.
Filosofi ini tidak akan pernah hidup jika guru justru tenggelam dalam pekerjaan yang menjauhkan mereka dari muridnya.
Maka, jika kita serius ingin meningkatkan kualitas pendidikan, langkahnya jelas dan tidak bisa ditawar:
Pangkas beban administratif yang tidak relevan dengan pembelajaran.
Pisahkan secara tegas peran guru dari urusan pembangunan fisik sekolah.
Hentikan praktik pelibatan guru dalam pengumpulan dana yang berpotensi melanggar aturan.
Kembalikan fokus guru pada ruang kelas—tempat di mana masa depan bangsa dibentuk.
Pendidikan tidak akan maju hanya dengan kurikulum baru atau jargon perubahan. Ia akan maju ketika guru diberi ruang untuk benar-benar mengajar, membimbing, dan menginspirasi.
Jika kita terus membiarkan guru terjebak dalam peran yang bukan miliknya, maka kita sedang secara perlahan merusak fondasi pendidikan itu sendiri.
Kembalikan guru sebagai pendidik.
Karena dari tangan mereka, kualitas generasi bangsa ditentukan.
Selamat Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2026.












