BERITANASIONAL

Miing Bagito Apresiasi Panji Pragiwaksono: Komedian Kalahkan Partai Politik Soal Mobilisasi Massa

312
×

Miing Bagito Apresiasi Panji Pragiwaksono: Komedian Kalahkan Partai Politik Soal Mobilisasi Massa

Sebarkan artikel ini
Foto Miing dan Panji, koleksi dokumen Tombakrakyat
Foto Miing dan Panji, koleksi dokumen Tombakrakyat

JAKARTA, TOMBAKRAKYAT.com ~ Miing Bagito melontarkan pernyataan tajam sekaligus apresiatif terhadap Panji Pragiwaksono dalam sebuah program di TV One. Komedian senior yang nama aslinya Tubagus Dedi Suwandi Gumelar tersebut pernah menjabat sebagai anggota DPR-RI (2014-2019).

Miing menyoroti kemampuan Panji yang dinilainya luar biasa dalam mengumpulkan massa dalam jumlah besar tanpa embel-embel kekuasaan politik. Menurut Miing, Panji mampu menghadirkan sekitar 10 ribu penonton dalam sebuah pertunjukan komedi, dengan harga tiket mencapai Rp1 juta per orang. Fakta ini dianggapnya sebagai bukti kuat bahwa kepercayaan publik dan kekuatan gagasan jauh lebih efektif dibandingkan sekadar mobilisasi struktural.

Baca Juga  Dari Sawit ke Multi Komoditas: FoKSBI Tapanuli Selatan Perkuat Kolaborasi dalam Pertemuan Tahunan 2026

“Partai politik untuk memobilisasi 10 ribu orang bisa menghabiskan ratusan miliar rupiah,” ujar Miing. Pernyataan ini sekaligus menjadi sindiran keras terhadap praktik politik elektoral yang boros biaya, penuh transaksi, namun belum tentu menghadirkan antusiasme tulus dari masyarakat.

Miing menilai, keberhasilan Panji bukan hanya soal popularitas, tetapi juga soal legitimasi moral dan intelektual di mata publik. Di tengah krisis kepercayaan terhadap institusi politik, fenomena ini menjadi cermin bahwa rakyat masih mau datang, membayar mahal, dan berkumpul—asal ada gagasan yang jujur, relevan, dan disampaikan dengan keberanian.

Baca Juga  Mantapkan Penguatan Organisasi, Formades Kendal Gelar Rapat koordinasi dan Sosialisasi Program Strategis DPP

Ucapan Miing adalah tamparan telak bagi politik elektoral kita. Ketika seorang komedian mampu menggerakkan publik secara sukarela, sadar, dan membayar mahal, partai politik justru hanya mampu memobilisasi dengan uang dan tekanan struktural. Ini bukan lagi soal hiburan, melainkan krisis kepercayaan publik.

Panji menjual gagasan, kritik, dan keberanian berbicara. Partai politik menjual janji yang sering basi bahkan sebelum pemilu usai. Publik memilih mana yang layak didengar—dan hasilnya terlihat jelas di tribun penonton.
Jika komedian bisa mengumpulkan rakyat dengan ide, sementara partai politik harus membeli kehadiran rakyat, maka pertanyaannya sederhana: siapa sebenarnya yang sudah ditinggalkan publik?

Baca Juga  Livinglaw Gelar Rangkaian USHP 2026: Dari Turnamen Futsal Hingga Aksi Sosial

Nn.jkt.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *