Sumedang — TombakRakyat.com___ Saat banyak orang merayakan pergantian tahun dengan pesta dan kembang api, suasana berbeda justru terasa di Kompleks Makam Prabu Geusan Ulun, Sumedang. Sejak sore hingga 1 Januari 2026, ratusan peziarah datang silih berganti untuk berdoa dan menyambut tahun baru dengan tenang.

Tak ada hiruk-pikuk perayaan. Yang terdengar hanya lantunan doa dan zikir. Suasananya sunyi, sejuk, dan menenangkan—membuat siapa pun betah berlama-lama. Banyak peziarah mengaku datang karena penasaran, lalu pulang dengan hati yang lebih ringan.

Prabu Geusan Ulun dikenal sebagai raja besar Tatar Sunda yang arif dan bijaksana. Berziarah ke makamnya bukan hanya soal tradisi, tapi juga cara sederhana untuk merenung dan menata niat hidup di awal tahun.

“Datang ke sini rasanya beda. Lebih tenang dan lebih siap menjalani tahun baru,” ujar T, peziarah asal Indramayu, yang datang bersama keluarganya.
Menurut warga sekitar makam, jumlah peziarah sejak sehari sebelumnya hingga 1 Januari 2026 mencapai ratusan orang. Setiap peziarah dikenakan retribusi Rp5.000 per orang, sementara rombongan dikenakan Rp25.000 per mobil, yang digunakan untuk menjaga kebersihan dan kenyamanan area makam.

Menariknya, peziarah tidak hanya dari kalangan orang tua. Anak muda dan keluarga muda juga terlihat datang. Mereka memilih ziarah sebagai cara sederhana namun bermakna untuk mengisi malam pergantian tahun.
Dengan suasana yang asri, pepohonan rindang, dan udara sejuk khas Sumedang, kompleks makam ini terasa seperti tempat untuk “berhenti sejenak” dari kesibukan sehari-hari.
Pergantian tahun 2026 menjadi bukti bahwa Makam Prabu Geusan Ulun bukan hanya tempat ziarah, tetapi juga ruang tenang untuk refleksi. Bagi siapa pun yang ingin memulai tahun dengan hati lebih jernih dan suasana berbeda, tempat ini layak untuk dikunjungi—setidaknya sekali.












