KENDAL ,TOMBAK RAKYAT.COM — Suasana hangat menyelimuti halaman Savva Coffee and Eatery, Weleri, pada Sabtu malam (27/6/2026).
Di bawah pendar layar putih besar yang membelah kegelapan malam, komunitas film Silent Candle Production (SCP) merayakan pencapaian penting mereka: satu dekade berkarya sekaligus pemutaran perdana film panjang pertama di Kendal berjudul “Sandiwara Pelangi”.Sebuah momen simbolis terekam di atas panggung sederhana malam itu.
Di depan set drum bermerek Rolling dan layar yang menampilkan visual film, para penggerak komunitas berkumpul untuk melakukan prosesi potong tumpeng.
Mengenakan kaus hitam bertuliskan “Guns N’ Roses”, perwakilan komunitas tampak menyerahkan sepiring tumpeng kepada rekan lainnya sebagai tanda syukur atas rampungnya proses produksi panjang yang dimulai sejak 2023 tersebut.
Acara bertajuk “Dari Layar ke Ruang Temu” ini tidak hanya menjadi ajang pamer karya, tetapi menjelma menjadi ruang diskusi lintas disiplin.
Dipandu oleh Fahrurrozi M Ilham dan Rina Chyntia, suasana semakin hidup dengan penampilan musik dari ESLAS sebelum layar utama menyala.
Regenerasi dan Konsistensi
Dalam sesi diskusi bertema “Konsistensi dalam Berkesenian”, sutradara Himada Kumara menekankan bahwa kekuatan SCP terletak pada keterbukaannya.
Pelibatan siswa-siswi SMA Negeri 1 Rowosari dalam produksi “Sandiwara Pelangi” dipandang sebagai langkah nyata regenerasi perfilman di Kendal.
“Keterlibatan pelajar bukan sekadar membantu kreatif, tapi membuka akses belajar bagi generasi baru untuk menemukan potensi mereka,” ujar Himada.

Senada dengan itu, Riki Himawan selaku pendiri SCP, mengibaratkan komunitasnya sebagai sebuah kapal. “Ibarat kapal, SCP itu siapapun boleh turut serta.
Terlepas ada bakat atau tidak, yang penting mau dulu, belajar bersama,” ungkapnya di hadapan para penikmat seni yang hadir.
Ruang Temu Lintas Disiplin
Diskusi malam itu juga menghadirkan perspektif dari tokoh seni lain, seperti Akhmad Sofian Hadi (Teater Atmosfer Kendal) yang bicara soal adaptasi seni terhadap kearifan lokal, serta Giandra Febrian (Malang Art Movement) yang menyoroti pentingnya jejaring lintas disiplin agar ekosistem seni tidak berjalan sendiri-sendiri.
Perayaan sepuluh tahun ini menjadi bukti bahwa konsistensi bukan sekadar soal umur panjang, melainkan soal keberanian untuk terus hadir dan menyelesaikan apa yang telah dimulai.
Sebagaimana kutipan penutup dari Dewa (Ngapawed) malam itu: “Konsistensi besar tidak bisa dilakukan selama konsistensi kecil tidak dilakukan.”
Bagi Silent Candle Production, tayangnya “Sandiwara Pelangi” bukanlah akhir, melainkan awal dari babak baru dalam menjaga napas kesenian di Kabupaten Kendal.












