BerandaDAERAHSuara Inklusi Kendal Dorong Awareness Kolektif Melalui Diskusi Pemantik Pra Jagongan Sinok: Deteksi Dini Toxic Relationship dan Child Grooming dalam Pacaran
Suara Inklusi Kendal Dorong Awareness Kolektif Melalui Diskusi Pemantik Pra Jagongan Sinok: Deteksi Dini Toxic Relationship dan Child Grooming dalam Pacaran
Suara Inklusi Kendal Dorong Awareness Kolektif Melalui Diskusi Pemantik Pra Jagongan Sinok: Deteksi Dini Toxic Relationship dan Child Grooming dalam Pacaran
Sebarkan artikel ini
TOMBAK RAKYAT.COM, KENDAL — Suara Inklusi Kendal menggelar Diskusi Pemantik Pra Jagongan Sinok pada Selasa, 20 Januari 2026, di Teras Budaya Prof. Mudjahirin Thohir, Kabupaten Kendal.
Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Jagongan Sinok sebagai upaya membangun kesadaran kolektif masyarakat terhadap isu toxic relationship dan child grooming dalam relasi pacaran, khususnya di kalangan remaja.
Diskusi bertema “Deteksi Dini Toxic Relationship dan Child Grooming dalam Pacaran” ini dihadiri masyarakat Kendal dan sekitarnya dari berbagai latar belakang usia.
Antusiasme peserta terlihat dari keterlibatan aktif dalam sesi diskusi, yang mencerminkan tingginya kepedulian publik terhadap isu kekerasan dalam relasi.
Dalam kegiatan ini, Suara Inklusi Kendal menghadirkan dua narasumber, yakni Emma Wijayanti dan Danang Afi Kurniawan, S.Psi., yang membedah persoalan dari perspektif sistem sosial dan psikologi.
Foto : Acara Diskusi bertema”Deteksi Dini Toxic Relationship dan Child grooming dalam pacaran.(Teras Budhaya Prof.mudjahirin Thohir kendal).
Emma Wijayanti menyoroti ketimpangan sistem dan fenomena politik perhatian dalam penanganan kasus kekerasan.
Menurutnya, respons publik dan aparat sering kali bergantung pada tingkat viralitas atau privilese korban.
Ia juga menekankan bahwa kegagalan sistem pendidikan dan lemahnya perlindungan institusional kerap membuat korban semakin rentan.
Sementara itu, dari perspektif psikologi perkembangan dan relasi interpersonal, Danang Afi Kurniawan menjelaskan bahwa toxic relationship kerap berakar pada pengalaman traumatis sejak masa kanak-kanak.
Ia menambahkan bahwa Indonesia adalah negara dengan tingkat fatherless tinggi, di mana ketiadaan atau lemahnya peran ayah menjadi salah satu faktor kerentanan emosional yang sering dimanfaatkan pelaku melalui pola manipulasi seperti love bombing.
Merujuk pada buku Broken Strings, Danang juga memaparkan tanda-tanda relasi manipulatif dan adanya “4 Tangga Keretakan” yang menjadi tanda bahaya dalam sebuah hubungan:
1) Kritik,
2) Merendahkan,
3) Defensif, dan
4) Stone Wall (silent treatment).
Diskusi ini menyimpulkan bahwa peran masyarakat menjadi sangat penting ketika sistem dan lingkungan belum sepenuhnya mampu melindungi korban kekerasan.
Suara Inklusi Kendal mendorong penguatan peran komunitas melalui penyediaan ruang aman bagi korban untuk bercerita tanpa penghakiman.
Melalui Diskusi Pemantik Pra Jagongan Sinok, Suara Inklusi Kendal berharap kesadaran publik terhadap isu kekerasan dalam relasi dapat meningkat, dengan tujuan untuk memutus rantai manipulasi dan kekerasan di lingkungan sekitar.