Jakarta TombakRakyat.com Survei terhadap 1.090 mahasiswa Universitas Terbuka (UT) Luar Negeri menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa menginginkan sistem ujian yang lebih fleksibel dan sesuai dengan kondisi nyata mereka sebagai pekerja.
Sebanyak 94,7% responden merupakan pekerja penuh waktu, sementara 53,5% tidak memiliki hari libur tetap. Kondisi ini membuat pelaksanaan Ujian Akhir Semester (UAS) dengan skema Automated Online Proctoring (AOP) dinilai belum sepenuhnya mengakomodasi kebutuhan mahasiswa luar negeri.
Dari sisi kesiapan teknis, 60,3% mahasiswa mengaku belum siap mengikuti AOP, 35,8% belum memiliki perangkat yang sesuai, dan 76,8% menghadapi kendala kualitas internet.
Selain itu, 41,4% responden tidak memiliki tempat ujian yang kondusif, sedangkan 67% menilai biaya perubahan jadwal ujian cukup memberatkan.
Yang paling menonjol, hanya 18,9% mahasiswa yang memilih AOP sebagai satu-satunya skema ujian, sementara 81,1% menginginkan pilihan skema lain atau sistem yang lebih fleksibel.
Hampir seluruh responden, yakni 97,6%, menyatakan perlunya kebijakan ujian yang lebih adaptif terhadap kondisi mahasiswa UT di luar negeri.
Poin Penting Survei
- 1.090 mahasiswa menjadi responden.
- 94,7% adalah pekerja penuh waktu.
- 53,5% tidak memiliki hari libur tetap.
- 60,3% belum siap secara teknis mengikuti AOP.
- 67% merasa biaya reschedule memberatkan.
- 81,1% tidak setuju AOP menjadi satu-satunya skema ujian.
- 97,6% menginginkan kebijakan ujian yang lebih fleksibel.












