BERITA

Upacara Bendera, Seragam Adat, Tanpa Seremoni: Cara SD Gempolsewu 1 Memaknai Hari Kartini

16
×

Upacara Bendera, Seragam Adat, Tanpa Seremoni: Cara SD Gempolsewu 1 Memaknai Hari Kartini

Sebarkan artikel ini
Siswa siswi Kelas 2 SDN 1-Gempolsewu foto bersama Kepala Sekolah dan Wali Guru, seusai upacara, sebelum memulai proses belajar mengajar.
Siswa siswi Kelas 2 SDN 1-Gempolsewu foto bersama Kepala Sekolah dan Wali Guru, seusai upacara, sebelum memulai proses belajar mengajar.

KENDAL, TOMBAKRAKYAT.com Upacara Bendera memperingati Hari Kartini pada 21 April 2026 di SD Gempolsewu 1, Desa Gempolsewu, Kecamatan Rowosari, Kabupaten Kendal. Berlangsung sederhana tanpa seremoni besar.

Meski tidak digelar acara khusus, nuansa penghormatan terhadap sosok R.A. Kartini tetap terasa di lingkungan sekolah.

Sejak pagi, para siswa hadir dengan mengenakan seragam tradisional sesuai imbauan sekolah. Ragam busana adat yang dikenakan menciptakan suasana berbeda dari hari biasanya, meskipun kegiatan belajar mengajar tetap berjalan normal di dalam kelas.

Tidak ada panggung perayaan, lomba, atau kegiatan seremonial lain yang biasa identik dengan peringatan Hari Kartini. Para siswa, setelah melaksanakan upacara bendera, tetap mengikuti mata pelajaran sesuai jadwal harian.

Baca Juga  Jawa Tengah Memulai Budaya Baru: Gubernur Ahmad Luthfi Pimpin Gerakan "Bike to Work" Menuju Kantor

Namun, sebagai bentuk penghormatan, seluruh siswa kembali diminta menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya serta lagu “Ibu Kita Kartini” sebelum memulai kegiatan belajar.

Wali guru kelas 2, Ibu Sarnense, menjelaskan bahwa peringatan tahun ini memang dikemas secara sederhana. Fokus utama tetap pada proses pembelajaran, dengan tambahan sentuhan simbolik untuk mengenalkan nilai perjuangan Kartini kepada siswa.

“Tidak ada acara khusus, anak-anak tetap belajar seperti biasa. Hanya saja mereka memakai pakaian tradisional dan menyanyikan lagu Indonesia Raya serta Ibu Kita Kartini,” ujarnya.

Baca Juga  Tanpa Hukuman Mati, Pasal Korupsi KUHP Digugat ke MK : Mahasiswa Minta Ditambah Pidana Mati atau Dicabut

Sementara itu, Kepala SD Gempolsewu 1, Ibu Intiyati, menegaskan bahwa kesederhanaan bukan berarti mengurangi makna peringatan. Menurutnya, esensi Hari Kartini justru terletak pada penanaman nilai, bukan sekadar kemeriahan acara.

“Kami ingin anak-anak memahami makna Hari Kartini, bukan hanya merayakannya secara seremonial. Dengan tetap belajar seperti biasa, tetapi mengenakan pakaian tradisional dan menyanyikan lagu perjuangan, itu sudah menjadi bentuk penghormatan yang relevan,” jelasnya.

Baca Juga  Kapolres Majalengka Sambut Wakapolda Jabar, Tinjau Kesiapan Arus Balik di Tol Cipali

Ia juga menambahkan bahwa pendekatan sederhana ini diharapkan lebih membumi dan mudah dipahami oleh siswa sekolah dasar.

Nilai-nilai perjuangan Kartini, seperti semangat belajar, kesetaraan, dan keberanian menyuarakan gagasan, menurutnya perlu ditanamkan melalui kebiasaan sehari-hari, bukan hanya dalam satu hari perayaan.

Peringatan Hari Kartini di SD Gempolsewu 1 menunjukkan bahwa penghormatan terhadap tokoh nasional tidak selalu harus diwujudkan dalam kegiatan besar.

Di tengah keterbatasan dan kesederhanaan, sekolah tetap berupaya menghadirkan makna melalui cara yang lebih substansial—yakni pendidikan itu sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *