OPINI & ANALISIS

Kisah Jalan Rusak di Tapanuli Selatan: Jalan Seribu Lubang dan Sejuta Kesabaran

8
×

Kisah Jalan Rusak di Tapanuli Selatan: Jalan Seribu Lubang dan Sejuta Kesabaran

Sebarkan artikel ini

TOMBAKOPINI: IAB

 

Kemarin saya iseng jalan-jalan ke Kecamatan Saipar Dolok Hole, Kabupaten Tapanuli Selatan. Jaraknya sekitar 40 kilometer dari Sipirok. Kedengarannya dekat, ya? Iya, kalau jalannya bersahabat. Kalau yang terjadi malah sebaliknya—itu bukan perjalanan, Bang… itu ujian hidup versi darat.

 

Dari awal berangkat, niatnya cuma refreshing. Angin sepoi-sepoi, pemandangan hijau, pikiran rileks. Tapi begitu roda mulai menghantam aspal, eh… bukan aspal deng, lebih cocok disebut “koleksi lubang edisi terbatas”—langsung sadar: ini bukan wisata biasa, ini survival mode.

 

Ngomong-ngomong soal jalan, kita sering nganggep dia cuma hamparan hitam yang setia diinjak ban. Padahal, jalan itu ibarat urat nadi. Kalau dia sehat, hidup lancar. Kalau dia bermasalah… ya beginilah, badan ikut goyang, emosi ikut terguncang, dan dompet siap-siap berduka.

 

Masuk ke wilayah Arse, kondisinya makin “artistik”. Lubangnya bukan satu dua—ini kayak galeri seni rupa tiga dimensi. Ada yang kecil, ada yang besar, ada yang dalamnya bikin kita mikir ulang dosa-dosa masa lalu. Warga lokal? Wah, mereka sudah naik level. Hafal lubang lebih detail daripada hafal tanggal ulang tahun mantan.

Baca Juga  Parkir Masuk STNK : Solusi atau Cara Halus Nambah Beban Rakyat dibungkus Kebijakan

“Abang, nanti lurus aja, tapi pelan ya… habis pohon mangga itu ada lubang yang suka menjebak orang baik.”

 

Google Maps? Kalah jauh. Di sini navigasi bukan soal jarak, tapi soal insting dan pengalaman spiritual.

 

Jalan provinsi yang menghubungkan Sipirok–Arse sampai ke Saipar Dolok Hole dan Aek Bilah sekarang lebih dikenal dengan julukan “jalan seribu lubang”. Kedengarannya puitis, hampir romantis. Tapi begitu dijalani, romantisnya hilang, yang ada cuma bunyi “duk-dak-duk-dak” dari bawah motor, diiringi doa dalam hati yang makin khusyuk.

 

Yang bikin makin miris, jaraknya cuma sekitar 8 kilometer dari pusat Kabupaten, Sipirok. Delapan kilo, Bang. Secara teori, itu jarak yang bisa ditempuh sambil nyanyi satu lagu. Tapi di sini, satu lagu bisa jadi album penuh. Bahkan sempat mikir: ini dekat secara peta, tapi jauh secara perhatian.

Baca Juga  Bupati Cilacap Memeras Demi THR: Ketika Syahwat Politik Tak Kenal Puasa

 

Ironinya tebal banget. Biasanya kita dengar daerah pelosok yang tertinggal. Ini? Dekat pusat pemerintahan, tapi rasanya seperti jalur off-road yang belum diresmikan. Gratis pula. Tinggal tambah helm full face dan mental baja.

 

Dampaknya jelas bukan sekadar goyang-goyang di atas motor. Anak sekolah bisa terlambat, petani kesulitan bawa hasil panen, bahkan urusan kesehatan bisa ikut terhambat. Bayangkan orang sakit harus melewati “roller coaster” versi jalan darat—niatnya berobat, malah nambah keluhan.

 

Soal janji perbaikan? Warga sudah seperti pelanggan setia yang sering dikasih harapan. Proyek multiyears sempat jadi cahaya di ujung jalan—eh, ternyata cahaya itu bukan solusi, cuma pantulan genangan air.

 

Sekarang harapan disimpan rapi untuk tahun 2027 lewat APBD Provinsi Sumatera Utara. Kedengarannya menjanjikan, tapi warga sudah belajar: janji itu seperti hujan di musim kemarau—kadang datang, kadang cuma lewat di awan.

Baca Juga  Berburu Ikan Lampam di Danau Siais: Lebih Dari Sekedar Memancing

 

Padahal permintaannya sederhana. Nggak minta jalan tol, nggak juga jalan berlapis emas. Cukup jalan yang layak. Yang bisa dilalui tanpa harus siap mental tiap berangkat.

Karena begini, Bang. Jalan rusak itu bisa diperbaiki. Aspal bisa ditambal, lubang bisa ditutup. Tapi kalau kepercayaan masyarakat sudah retak, itu tambalannya nggak cukup pakai semen—harus pakai bukti.

 

Jadi semoga saja, 2027 nanti bukan cuma angka cantik di kalender atau bahan pidato yang penuh semangat. Semoga itu benar-benar jadi titik balik. Saat jalan di Arse dan sekitarnya kembali jadi urat nadi kehidupan, bukan lagi arena uji nyali.

 

Kalau tidak? Ya… warga mungkin akan terus bertahan. Tapi jangan heran kalau suatu hari nanti, yang paling mulus di sana justru bukan jalannya—melainkan kesabaran warganya yang sudah terlatih luar biasa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *