OPINI & ANALISIS

Jejak Willem Iskander: Dari Tanah Mandailing, Menyalakan Api Pendidikan

36
×

Jejak Willem Iskander: Dari Tanah Mandailing, Menyalakan Api Pendidikan

Sebarkan artikel ini

TOMBAKOPINI: IAB

 

Karena besok tanggal 2 Mei kita ngerayain Hari Pendidikan Nasional alias Hardiknas, hari ini kita pemanasan dulu, Bang—ngopi sambil cerita tokoh pendidikan dari Sumatera Utara. Biar nggak cuma ikut upacara, tapi juga ikut “melek cerita”.

 

Ngomongin tokoh pendidikan, kita tuh kayak punya “playlist tetap”: begitu ditanya, langsung jawab Ki Hajar Dewantara. Nggak salah sih—beliau memang top tier. Tapi jujur aja, masa iya sejarah kita cuma punya satu bintang utama?

 

Padahal, di Mandailing sana, ada satu tokoh yang kalau hidup di zaman sekarang, mungkin sudah jadi konten inspirasi tiap hari, Bang! Namanya: Willem Iskander.

 

Seruput dulu kopinya, Bang… biar ceritanya lebih nendang.

 

Lahir dengan nama Sati Nasution dan diberi nama Sutan Iskandar di Pidoli Lombang, Sumatera Utara, pada Maret 1840, dan meninggal di Amsterdam, Belanda, pada 8 Mei 1876, pada usia 36 tahun.Beliau tumbuh di lingkungan yang keras. Pendidikan? Barang langka. Bahkan, praktik perbudakan masih jadi pemandangan biasa. Di saat banyak orang menerima keadaan sebagai takdir, Sati justru mikir beda: “Masa iya hidup harus begini terus?”

Baca Juga  TombakOpini

 

Dari situlah semuanya dimulai.

 

Kesempatan langka datang ketika ia berangkat ke Belanda pada 1857. Bayangkan—dari kampung sederhana ke pusat peradaban Eropa. Bukan cuma pindah tempat, tapi seperti loncat ke dunia yang sama sekali baru. Di sana, ia belajar menjadi guru. Tapi yang lebih penting, ia belajar cara melihat dunia.

 

Mungkin di titik itu, ia sadar: ketertinggalan bukan takdir, tapi akibat dari kurangnya akses dan kesempatan.

 

Tahun 1861, dia pulang. Bukan cuma bawa ilmu, tapi juga bawa niat. Niat yang nggak kecil: pengen bikin perubahan di tempat asalnya.

Baca Juga  Infokom yang ditumpulkan : Ironi Sebuah Organisasi?

 

Tahun 1862, dia mendirikan Kweekschool di Tano Bato. Sekolah guru pertama di daerah itu. Bangunannya sederhana—bambu, rumbia, jauh dari kata mewah. Tapi ya namanya juga awal, yang penting jalan dulu.

 

Masalahnya, bikin sekolah itu satu hal. Ngajak orang buat sekolah? Nah, ini bagian yang lumayan “drama”.

 

Orang tua waktu itu mikir praktis: “Sekolah bisa bikin kenyang nggak?” Dan ya… itu pertanyaan yang susah dibantah. Willem ngerti itu. Makanya dia nggak cuma duduk nunggu murid datang.

 

Dia keliling.

 

Dari rumah ke rumah. Ngobrol, jelasin, meyakinkan. Kadang ditolak, kadang dicuekin. Tapi dia jalan terus. Pelan-pelan, orang mulai percaya. Murid mulai nambah. Sekolah mulai hidup.

 

Yang menarik, dia juga suka nulis. Bukan sekadar cerita biasa, tapi tentang kondisi masyarakat, tentang ketimpangan, tentang harapan. Jadi dia bukan cuma ngajarin orang baca, tapi juga ngajarin cara melihat dunia.

Baca Juga  Gagalnya Perjuangan Rakyat Pati: Pengkhianatan Wakil Rakyat dan Kriminalisasi Pejuang Demokrasi

 

Dan di situ sebenarnya letak “bedanya”.

 

Sekarang kalau dipikir-pikir, kenapa ya nama Willem Iskander nggak terlalu sering kita dengar?

 

Mungkin karena dia bukan tipe yang cari sorotan. Atau mungkin juga karena kita jarang “nyari” cerita di luar yang sudah familiar.

 

Padahal, justru dari orang-orang seperti ini, perubahan sering dimulai. Pelan, nggak ribut, tapi dampaknya panjang.

 

Hari ini, kita hidup di zaman yang jauh lebih gampang. Sekolah ada di mana-mana, informasi tinggal buka HP. Tapi kadang, yang susah justru niatnya.

 

Jadi mungkin, sesekali kita perlu ingat: dulu ada orang yang rela keliling kampung cuma buat ngajakin orang belajar.

Sekarang, kita yang sudah punya akses… tinggal mau jalan atau nggak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *