TOMBAKOPINI: IAB
Awal Juni 2026. Secangkir kopi panas mengepul di depan saya. Suasana pagi tenang. Burung berkicau. Angin berembus pelan. Dunia seharusnya damai.
Tapi ternyata tidak.
Karena bahkan sebelum kopi menyentuh bibir, dari meja sebelah terdengar seseorang bersenandung,
“MBG… Mas Bahlil Ganteng… Buah apa yang paling manis? Buahlil…”
Saya langsung sadar. Mei memang sudah berakhir, tetapi lagu itu belum selesai menghantui Indonesia.
Entah siapa yang pertama kali menemukan resep keviralannya. Yang jelas, pada akhir Mei 2026, jutaan ponsel di seluruh Nusantara mendadak mengeluarkan nada yang sama. Dari warung kopi di Merauke, gubuk sawah di Sipirok, hingga kafe di Sabang, orang-orang mendadak hafal lirik yang bahkan mungkin tidak mereka minta untuk hafal.
Inilah salah satu misteri terbesar internet modern.
Kita bisa menghabiskan berminggu-minggu menyusun proposal, membuat presentasi, menulis laporan ratusan halaman, lalu hasilnya hanya dibaca oleh tiga orang dan satu printer.
Sebaliknya, sebuah lagu yang lahir dari kolom komentar netizen bisa menembus puluhan juta telinga hanya dalam hitungan hari.
Kalau dipikir-pikir, algoritma media sosial memang makhluk yang aneh. Ia tidak peduli siapa profesor, siapa menteri, siapa mahasiswa, atau siapa tukang kopi. Yang ia cari hanya satu: apa yang membuat orang berhenti menggulir layar selama beberapa detik.
Dan rupanya, “My Little Bolu Ketan” memenuhi syarat itu dengan sempurna.
Yang lebih lucu lagi, lagu ini bukan lahir dari studio musik mewah dengan biaya miliaran rupiah. Ia lahir dari tempat yang sangat sakral bagi masyarakat Indonesia modern: kolom komentar.
Dulu lagu-lagu besar lahir dari patah hati, perjuangan hidup, atau kerinduan kepada kampung halaman. Sekarang lagu bisa lahir dari netizen yang sedang rebahan sambil mengetik komentar iseng sebelum tidur.
Kemajuan teknologi memang luar biasa.
Dari komentar-komentar absurd seperti “Buahlil” dan “My Little Bolu Ketan”, lahirlah sebuah karya yang kemudian berkeliling Indonesia lebih cepat daripada surat undangan resmi.
Yang menarik, sebagian orang menganggap lagu ini sekadar hiburan. Sebagian lagi melihatnya sebagai satire politik. Ada pula yang menilainya sebagai kritik sosial yang dibungkus dengan humor.
Namun seperti banyak hal di internet, niat awal sering kali kalah oleh kenyataan.
Mungkin ada yang bermaksud menyindir. Mungkin ada yang hanya bercanda. Tetapi setelah jutaan orang menyanyikannya berulang kali, hasil akhirnya justru membuat nama ‘BAHLIL’ semakin dikenal.
Ini seperti seseorang yang berniat mengejek temannya dengan membuat poster wajahnya. Lalu karena poster itu dipasang di mana-mana, seluruh kampung malah hafal wajah orang tersebut.
Di titik inilah internet berubah menjadi makhluk yang sulit dipahami.
Apa yang dimaksud sebagai sindiran bisa berubah menjadi promosi.
Apa yang dimaksud sebagai lelucon bisa berubah menjadi fenomena budaya.
Apa yang dimaksud sebagai candaan semalam bisa berubah menjadi bahan diskusi para akademisi.
Netizen Indonesia memang punya bakat istimewa dalam urusan ini.
Yang lebih menarik lagi, sosok yang menjadi pusat lagu ini justru tidak terlihat marah. Alih-alih tersinggung, ia malah dikabarkan penasaran dengan penciptanya dan ingin bertemu.
Bayangkan.
Di beberapa negara lain mungkin sudah muncul rapat darurat, konferensi pers, atau surat keberatan sepanjang tiga halaman.
Di Indonesia?
Yang muncul malah kemungkinan makan bareng antara objek lagu dan pembuat lagu.
Kadang-kadang di negeri ini memang sulit dijelaskan menggunakan logika biasa.
Sambil menghabiskan kopi di awal Juni ini, saya akhirnya sampai pada satu kesimpulan sederhana.
Kadang-kadang sejarah tidak ditulis oleh politisi, akademisi, atau pengamat media.
Kadang sejarah ditulis oleh netizen yang sedang gabut, direkam oleh algoritma, disebarkan oleh jutaan pengguna ponsel, lalu dihafalkan oleh orang-orang yang awalnya hanya berniat membuka TikTok lima menit sebelum tidur.
Dan ketika semua itu terjadi, tidak banyak yang bisa kita lakukan.
Selain menyeruput kopi, menggeleng pelan, lalu tanpa sadar ikut bernyanyi,
“Buah apa yang paling manis?”
Lalu seseorang dari meja sebelah menjawab,
“BUAHLIL!”
Dan seluruh warung kopi pun tertawa.












