KENDAL, TOMBAKRAKYAT.com — Rencana Pemerintah Kabupaten Kendal dalam proses pengisian jabatan perangkat desa dengan menggunakan metode Computer Assisted Test (CAT) mendapat perhatian dari masyarakat dan kalangan aktivis. Penggunaan sistem berbasis komputer dinilai dapat menjadi langkah positif dalam menciptakan proses seleksi yang lebih terukur, sepanjang pelaksanaannya dibarengi dengan transparansi, pengawasan, serta jaminan integritas hasil.
Ketua PMN (Pejuang Marhaenis Nusantara) Kabupaten Kendal, Moh Roji atau yang akrab disapa Dhe Roji, meminta Pemerintah Kabupaten Kendal memastikan seluruh tahapan seleksi perangkat desa berlangsung secara profesional, transparan, objektif, dan terbebas dari segala bentuk intervensi. Hal tersebut disampaikan Dhe Roji kepada media, Senin 2 November 2026.
“Seleksi perangkat desa dengan CAT itu bagus karena berbasis sistem komputer. Tetapi yang harus diperhatikan itu bukan hanya pelaksanaan tesnya menggunakan komputer. Yang lebih penting lagi adalah kepastian dan keamanan hasil atau skor peserta benar-benar valid, transparan dan tidak diintervensi dari pihak mana pun,” ujar Dhe Roji.
Menurutnya, penggunaan teknologi dalam proses seleksi tidak otomatis menjamin sebuah proses terbebas dari persoalan. Justru, menurut dia, perlu dipastikan adanya mekanisme pengamanan data, pencatatan hasil, serta rekam digital yang memungkinkan setiap nilai peserta dapat ditelusuri apabila di kemudian hari muncul keberatan atau sengketa.
“Kalau profesional menggunakan sistem CAT, maka panitia harus bisa memastikan setiap nilai memiliki rekam digital dan dapat dipertanggungjawabkan. Misalnya kemudian ada peserta merasa mendapatkan skor tertentu, tetapi hasil akhirnya berbeda, itu harus bisa diverifikasi. Jangan sampai ada gugatan nilai yang berdampak sosial berkepanjangan,” tegasnya.
Dhe Roji menilai transparansi menjadi salah satu kunci penting untuk membangun kepercayaan masyarakat terhadap proses pengisian perangkat desa. Menurutnya, peserta maupun masyarakat perlu mengetahui mekanisme seleksi secara jelas, mulai dari tahapan pelaksanaan, sistem penilaian, pengamanan data, hingga mekanisme apabila terjadi keberatan terhadap hasil.
Ia juga menyoroti pentingnya memastikan tidak adanya tekanan maupun intervensi dari pihak tertentu yang berpotensi memengaruhi hasil seleksi.
“Kalau prosesnya bersih, profesional, transparan dan tidak ada intervensi, maka tidak perlu ada yang ditutup-tutupi. Dengan semakin terbuka mekanismenya, maka semakin kecil ruang munculnya kecurigaan,” katanya.
Lebih lanjut, Dhe Roji menegaskan bahwa apabila proses seleksi benar-benar menggunakan CAT dan melibatkan pihak independen, maka seluruh pihak harus menghormati hasil yang diperoleh berdasarkan kemampuan peserta.
“Kalau sudah menggunakan CAT dan melibatkan pihak independen, jangan sampai ada tekanan atau intervensi untuk mengarahkan siapa yang harus lulus. Biarkan hasil seleksi berbicara berdasarkan kemampuan peserta,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa kesempatan untuk menduduki jabatan perangkat desa semestinya diberikan kepada peserta yang memenuhi persyaratan dan memperoleh hasil terbaik sesuai mekanisme yang telah ditetapkan.
“Siapa pun pesertanya, kalau memang mendapatkan nilai terbaik dan memenuhi persyaratan, itulah yang harus mendapatkan kesempatan. Pastikan tidak ada faktor lain di luar kompetensi yang menentukan hasil akhir,” pungkasnya.
Penggunaan Computer Assisted Test pada dasarnya dapat membantu proses seleksi menjadi lebih terukur karena penilaian dapat dilakukan secara sistematis. Namun, menurut perspektif tata kelola seleksi yang baik, teknologi hanyalah alat. Integritas proses tetap bergantung pada bagaimana sistem tersebut dirancang, diawasi, diamankan, dan dipertanggungjawabkan.
Karena itu, sejumlah aspek penting perlu menjadi perhatian dalam pelaksanaan seleksi, antara lain kejelasan aturan, validitas soal dan penilaian, keamanan sistem, rekam digital hasil ujian, transparansi mekanisme pengawasan, serta tersedianya prosedur keberatan atau verifikasi apabila peserta mempertanyakan hasil.
Dengan demikian, penggunaan CAT tidak berhenti pada klaim bahwa proses sudah modern karena menggunakan komputer. Yang jauh lebih penting adalah memastikan bahwa teknologi tersebut benar-benar menjadi instrumen untuk menjaga keadilan, objektivitas dan akuntabilitas.
Seleksi perangkat desa juga memiliki dimensi sosial yang cukup kuat karena hasilnya berkaitan langsung dengan pemerintahan di tingkat desa. Apabila proses seleksi menimbulkan ketidakpercayaan, persoalannya tidak hanya menyangkut peserta yang dinyatakan lulus atau tidak lulus, tetapi berpotensi memengaruhi hubungan sosial dan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan desa.
Karena itu, harapan agar seluruh tahapan dilakukan secara profesional, transparan, objektif dan bebas intervensi patut menjadi perhatian bersama. Hasil seleksi yang dapat dijelaskan, diverifikasi, dan dipertanggungjawabkan akan jauh lebih mudah diterima masyarakat, siapa pun peserta yang akhirnya dinyatakan lolos.












