EdukasiOPINI & ANALISISTECHNOLOGI & PENDIDIKAN

Gelar Tinggi, Nyali Rendah — Ketika Organisasi Guru Kehilangan Keberanian Moral

214
×

Gelar Tinggi, Nyali Rendah — Ketika Organisasi Guru Kehilangan Keberanian Moral

Sebarkan artikel ini
Oleh : M. Fathurahman
OPENING 
Ada ironi pahit yang hari ini berdiri tegak di tengah riuh rendah dunia pendidikan kita.
Di ruang-ruang rapat yang dipenuhi pemilik gelar akademik mentereng—mulai dari S.Pd, M.Pd, hingga gelar doktor—justru ditemukan sebuah kelangkaan yang mengkhawatirkan : keberanian moral.
Gelar tersedia, sertifikat pendidik dikantongi, NIP aman, dan rekening rutin terisi.
Namun, di mana suara mereka saat ketidakadilan terjadi di depan mata? Lembaga yang seharusnya menjadi benteng nurani kini tampak lebih mirip gedung sunyi yang sibuk menjaga kenyamanan birokrasi ketimbang memperjuangkan martabat profesi.

 

Paradoks Kesejahteraan dan Ketakutan

Fakta di lapangan menunjukkan pola yang menyedihkan. Mereka yang telah mapan secara finansial dan berstatus ASN cenderung memilih jalan “aman” dengan cara diam.
  • Diam saat rekan sejawat (honorer) terkatung-katung nasibnya tanpa kejelasan NIP.
  • Diam ketika ketidakadilan administratif terjadi secara terang-terangan.
  • Diam saat kebijakan pusat hingga daerah justru mereduksi marwah guru menjadi sekadar buruh administrasi.Ketakutan ini bukan tanpa alasan, namun sangat tidak bisa dibenarkan.
Ada kecenderungan kolektif untuk memprioritaskan “keamanan rekening” di atas solidaritas profesi adalah realitas yang menyakitkan bagi para guru honorer yang selama bertahun-tahun menggantungkan nasib pada ujung pena pejabat, sementara rekan mereka yang sudah “nyaman” hanya menonton dari balik seragam gagah.
Kalah dari Pekerja Informal
Sebuah tamparan keras muncul jika kita membandingkan solidaritas guru dengan kelompok pekerja informal.
Di banyak sektor, mulai dari buruh lapangan hingga tenaga layanan kecil, kekompakan mereka dalam memperjuangkan hak administratif jauh lebih solid.
Mereka yang mungkin tidak memiliki gelar akademik berderet, justru memiliki nyali untuk menekan otoritas dan menuntut keadilan secara kolektif.
Sementara itu, di lingkungan yang penuh dengan titel intelektual, keberanian itu seolah menjadi barang mewah yang langka.
Seragam profesi yang dikenakan sering kali hanya menjadi casing—bungkus luar yang tampak terhormat namun kosong secara keberpihakan.
Pendidikan adalah Teladan, Bukan Sekadar Administrasi
Masalah utama kita hari ini bukanlah kurangnya intelektualitas, melainkan krisis integritas. Pendidikan bukan hanya soal mentransfer rumus atau teori di dalam kelas; pendidikan adalah tentang teladan.
“Bagaimana mungkin kita mengajarkan siswa tentang kejujuran dan keberanian, jika di ruang guru sendiri nilai-nilai itu digadaikan demi rasa aman?”
Ketika organisasi guru lebih sibuk menjaga relasi kekuasaan ketimbang menjaga marwah anggotanya, maka organisasi tersebut telah kehilangan fungsi moralnya.
Gelar “Pendidik” pun mengalami devaluasi nilai, berubah dari simbol perjuangan menjadi sekadar hiasan administratif.
Mengembalikan Nyali ke Institusi Pendidikan
Kritik ini bukanlah serangan personal, melainkan refleksi atas mentalitas kolektif yang harus segera dibenahi.
Jika organisasi guru ingin kembali dihormati, maka keberanian moral harus diletakkan sebagai fondasi utama.
Solidaritas tidak boleh berhenti pada slogan di spanduk atau status di media sosial.
Kita harus menyadari tiga hal mendasar :
  1. Gelar tinggi tidak otomatis melahirkan martabat.
  2. Status ASN tidak otomatis melahirkan kepemimpinan moral.
  3. Seragam tidak otomatis melahirkan kehormatan.
Kehormatan hanya lahir dari keberanian berdiri di sisi yang benar, meski penuh risiko.
Tanpa nyali, pendidikan hanya akan menjadi mesin administrasi yang dingin. Dan tanpa keberanian, gelar mentereng di belakang nama hanyalah deretan huruf tanpa makna.
Sudah saatnya guru kembali bersuara, karena diamnya seorang pendidik adalah lonceng kematian bagi keadilan di masa depan.
Baca Juga  Terkoyak di Ujung Brangsong: Saat Galian C Menggugat Hidup Warga Tunggulsari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *