OPINI & ANALISIS
10
×

Sebarkan artikel ini

TOMBAKOPINI: IAB

 

Seruput dulu kopinya, Bang. Jangan buru-buru. Soalnya cerita kali ini cukup unik.

 

Bayangkan saja. Di tengah perkembangan teknologi, kecerdasan buatan, roket, satelit, dan berbagai inovasi canggih, seluruh negeri mendadak sibuk menghitung bulu seekor burung.

 

Bukan burung merpati. Bukan burung hantu. Apalagi burung dalam sangkar tetangga.

 

Melainkan Garuda Pancasila.

 

Awalnya suasana Hari Lahir Pancasila berjalan seperti biasa. Instansi pemerintah mengunggah ucapan, masyarakat memasang poster, media sosial dipenuhi pesan kebangsaan. Semua tampak tenang dan normal.

 

Lalu muncullah sebuah poster ucapan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang kemudian menjadi bahan perbincangan warganet.

 

Pada pandangan pertama, tidak ada yang terlihat aneh. Garudanya tampak gagah. Sayapnya terbentang. Perisainya lengkap. Pita Bhinneka Tunggal Ika juga masih terpasang dengan baik. Pokoknya kalau dilihat sambil menyeruput kopi atau sambil menunggu nasi goreng matang, semuanya terlihat baik-baik saja.

 

Namun internet adalah tempat yang ajaib.

 

Entah siapa yang pertama kali menghitung, tiba-tiba muncul komentar mengenai jumlah bulu Garuda yang dianggap tidak sesuai dengan ketentuan resmi.

Baca Juga  Pindang dan Panggang Hilang dari Tawang: Perubahan Struktur Ekonomi dan Budaya Masyarakat.

 

Dan sejak saat itu, bangsa Indonesia mendadak berubah menjadi tim penghitung bulu nasional.

 

Yang biasanya menghitung cicilan, kini menghitung sayap.

 

Yang biasanya menghitung sisa saldo rekening, kini menghitung ekor.

 

Yang biasanya lupa jumlah kontak di telepon, tiba-tiba hafal jumlah bulu Garuda sampai ke pangkal ekornya.

 

Ternyata kritik tersebut bukan tanpa alasan. Dalam ketentuan resmi, jumlah bulu Garuda mengandung makna tanggal kemerdekaan Indonesia, yaitu 17 Agustus 1945.

 

Masing-masing sayap memiliki 17 helai bulu.

 

Ekor memiliki 8 helai bulu.

 

Pangkal ekor memiliki 19 helai bulu.

 

Leher memiliki 45 helai bulu.

 

Kalau dirangkai menjadi 17-8-1945.

 

Sebuah kode sejarah yang setiap hari sebenarnya terpampang di depan mata kita.

 

Masalahnya, pada desain yang dipersoalkan, beberapa jumlah bulu tersebut tidak sesuai. Ada yang menemukan sayap hanya berjumlah 15 dan 16 helai. Ekor yang seharusnya berjumlah 8 helai juga disebut hanya berjumlah 7 helai.

 

Media sosial pun langsung bergemuruh.

 

Komentar-komentar lucu pun bermunculan.

 

Ada yang bercanda bahwa Garuda sedang terkena program efisiensi anggaran.

Baca Juga  MAKAM PALSU: Diantara Politik, Bisnis, Kesesatan dan Distorsi Sejarah

 

Ada yang mengatakan beberapa bulu mungkin sedang cuti tahunan.

 

Ada pula yang berseloroh bahwa bulu-bulu tersebut mungkin tertinggal saat proses unggah.

 

Kalau dipikir-pikir, mungkin hanya di Indonesia seekor burung bisa menjadi topik nasional karena kehilangan beberapa helai bulu.

 

Di tengah ramainya perdebatan, muncul pula dugaan bahwa gambar tersebut dibuat menggunakan teknologi kecerdasan buatan atau AI.

 

Tentu tidak ada yang salah dengan penggunaan AI. Saat ini teknologi itu memang membantu banyak pekerjaan. AI bisa membuat gambar, membantu menulis, bahkan menjawab pertanyaan.

 

Namun kejadian ini mengingatkan kita bahwa secanggih apa pun teknologi, tombol terakhir tetap berada di tangan manusia.

 

AI bisa menghasilkan gambar dalam hitungan detik.

 

Tetapi manusia tetap harus memeriksa hasilnya.

 

Karena AI kadang masih suka berimajinasi.

 

Kalau disuruh menggambar rumah, kadang jendelanya ada tujuh belas.

 

Kalau disuruh menggambar tangan, kadang jarinya enam.

 

Dan rupanya kalau diminta menggambar Garuda, ada kemungkinan beberapa bulu memilih kabur dari tugas kenegaraan.

 

Di balik semua candaan itu, sebenarnya ada pelajaran yang cukup menarik.

Baca Juga  Menelisik Rekayasa Politik Dalam Sajian Pembangunan Kendaĺ Masa Depan

 

Ternyata masyarakat masih peduli terhadap simbol negara.

 

Mungkin selama bertahun-tahun banyak dari kita melihat Garuda hampir setiap hari tanpa pernah menghitung bulunya satu per satu. Namun ketika muncul gambar yang berbeda, masyarakat langsung menyadarinya.

 

Artinya, Garuda bukan sekadar gambar penghias dinding kantor atau sampul dokumen. Di dalamnya ada sejarah, makna, dan identitas bangsa yang masih melekat di ingatan masyarakat.

 

BRIN sendiri kemudian menyampaikan permohonan maaf dan mengganti desain tersebut dengan versi yang sesuai. Persoalan pun perlahan mereda.

 

Namun ada satu hal yang tersisa dari kejadian ini.

 

Hari Lahir Pancasila tahun ini mungkin bukan hanya diingat karena upacaranya, tetapi juga karena satu fakta yang sangat unik.

 

Bangsa Indonesia berhasil membuktikan bahwa mereka masih hafal jumlah bulu Garuda.

 

Siapa sangka, beberapa helai bulu mampu mengingatkan satu negeri tentang arti ketelitian.

 

Karena kadang-kadang, pelajaran besar memang datang dari hal kecil.

 

Termasuk dari seekor Garuda yang membuat seluruh bangsa mendadak menjadi ahli hitung bulu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *