OPINI & ANALISIS

Termul Gebal Kendal: Ketika Kritik Dijawab Fanatisme

151
×

Termul Gebal Kendal: Ketika Kritik Dijawab Fanatisme

Sebarkan artikel ini

TOMBAKOPINI: Emhape

 

Riuhnya Gebal Kendal di sosial media akhir-akhir ini dikhawatirkan memancing tampilnya “termul”, “Termul Gebal Kendal”. Istilah tersebut bukan ditujukan kepada seluruh pendukung Bupati Kendal, melainkan sebagai kritik sosial terhadap sebagian kelompok yang menunjukkan gejala fanatisme berlebihan dalam merespons kritik kepada pemimpinnya.

 

Istilah “termul” sendiri bukanlah hal baru dalam percakapan politik Indonesia. Di tingkat nasional, istilah itu sering digunakan untuk menggambarkan kelompok pendukung yang membela tokoh panutannya secara membabi buta, menolak kritik, dan lebih sibuk menyerang pengkritik daripada menjawab substansi persoalan yang dikritik.

 

Fenomena serupa kini mulai terlihat di Kendal.

 

Saat media sosial ramai membahas persoalan galian C yang diduga menyebabkan jalan rusak, debu, hingga kecelakaan lalu lintas, muncul berbagai kritik kepada pemerintah daerah. Kritik tersebut pada dasarnya merupakan bentuk kegelisahan masyarakat yang merasakan dampak langsung aktivitas tambang.

 

Namun yang menarik, sebagian pendukung justru memilih menyerang balik para pengkritik. Tidak sedikit yang mencoba mengalihkan pembahasan, menyerang pribadi, atau membangun narasi seolah-olah setiap kritik terhadap bupati adalah bentuk kebencian.

Baca Juga  Ketika Stok Susu Selalu “Kosong”: Siapa yang Bertanggung Jawab atas Gizi Anak Bangsa

 

Padahal dalam demokrasi, kritik terhadap pejabat publik adalah sesuatu yang lumrah.

 

Jika dibandingkan dengan apa yang pernah dialami Presiden Jokowi selama dua periode pemerintahannya, kritik yang diterima Bupati Kendal saat ini sesungguhnya masih sangat ringan. Presiden menghadapi demonstrasi, kritik keras, tuduhan, hingga serangan politik hampir setiap hari. Namun ruang kritik tetap menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan demokrasi.

 

Karena itu, tidak ada alasan bagi siapa pun untuk bereaksi secara berlebihan terhadap kritik yang ditujukan kepada kepala daerah.

 

Justru yang perlu dipahami, kritik bukanlah serangan pribadi. Kritik adalah bentuk kepedulian masyarakat terhadap kondisi daerahnya.

 

Ketika Fanatisme Menjadi Ancaman

 

Fenomena “Termul Gebal Kendal” menjadi berbahaya ketika para pendukung kehilangan kemampuan untuk membedakan antara kritik dan fitnah.

 

Kritik terhadap kerusakan jalan akibat lalu lintas kendaraan tambang bukanlah fitnah.

 

Kritik terhadap lambannya respons pemerintah terhadap keluhan masyarakat bukanlah fitnah.

 

Kritik terhadap kebijakan publik bukanlah fitnah.

 

Jika setiap kritik selalu dianggap serangan, maka ruang dialog akan mati. Yang tersisa hanyalah pertengkaran tanpa ujung di media sosial.

Baca Juga  Guru Honorer Dianaktirikan, Pegawai SPPG Diistimewakan: Negara Sedang Tidak Adil?

 

Lebih jauh lagi, kondisi ini berpotensi menciptakan polarisasi berkepanjangan di tengah masyarakat Kendal. Warga akan terbelah menjadi kelompok pendukung dan kelompok pengkritik, sementara persoalan utama yang dikeluhkan rakyat justru terlupakan.

 

Padahal masyarakat tidak membutuhkan perang komentar. Masyarakat membutuhkan solusi.

 

Galian C dan Keberanian Politik Kepala Daerah 

 

Memang benar bahwa kewenangan perizinan pertambangan saat ini banyak berada di tangan pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat.

 

Namun fakta tersebut tidak menghapus tanggung jawab moral seorang bupati.

 

Seorang kepala daerah dipilih untuk melindungi kepentingan rakyatnya, bukan sekadar menjadi penonton ketika rakyat menghadapi dampak kebijakan yang dibuat pihak lain.

 

Apabila aktivitas galian C terbukti lebih banyak menimbulkan kerusakan jalan, kecelakaan, pencemaran lingkungan, dan keresahan sosial dibanding manfaat yang diterima masyarakat sekitar, maka pemerintah daerah harus berani menyampaikan penolakan atau keberatan secara resmi kepada pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat.

 

Kepala daerah tidak boleh bersembunyi di balik alasan keterbatasan kewenangan.

Baca Juga  Outing Class: Pendidikan Kontekstual atau Ujian Psikologis?

 

Rakyat tidak memilih seorang bupati hanya untuk mendengar kalimat, “itu bukan kewenangan saya.”

 

Rakyat memilih pemimpin yang bersedia memperjuangkan kepentingan mereka, bahkan ketika harus berhadapan dengan pemerintah di level yang lebih tinggi.

 

Pendukung Terbaik Adalah Pengingat, Bukan Penjilat 

 

Seorang pemimpin tidak membutuhkan pasukan yang selalu mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja.

 

Pemimpin membutuhkan orang-orang yang berani mengingatkan ketika ada masalah.

 

Sejarah menunjukkan bahwa banyak pemimpin kehilangan kepekaan karena terlalu lama dikelilingi orang-orang yang hanya pandai memuji dan membenarkan semua kebijakannya.

 

Karena itu, pendukung yang baik bukanlah mereka yang menyerang setiap kritik. Pendukung yang baik adalah mereka yang membantu pemimpinnya melihat kenyataan secara utuh.

 

Kendal membutuhkan lebih banyak warga yang berani berbicara jujur, dan lebih sedikit “Termul Gebal Kendal” yang menganggap kritik sebagai musuh.

 

Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan seorang pemimpin bukanlah seberapa banyak ia dipuji, melainkan seberapa besar keberaniannya mendengar kritik dan memperbaiki keadaan.

 

Emhape

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *