OPINI & ANALISIS

Indonesia Raja HP: Layar di Tangan, Nalar di Persimpangan

96
×

Indonesia Raja HP: Layar di Tangan, Nalar di Persimpangan

Sebarkan artikel ini

Oleh : Irwan Alimuddin Batubara, S.Sos.

 

Tombakrakyat.com ~  Indonesia, Raja Layar dan Negeri yang Mudah Terpesona Wajarlah kalau ada yang bilang orang Indonesia gampang tertipu. Bukan karena kita bodoh, tapi karena jempol kita sering lebih cepat dari logika. Notifikasi bunyi sedikit, hati bergetar. Link datang, langsung diklik. Promo lewat, dompet ikut refleks.

 

Sambil seruput kopi, mari kita lihat data dulu. Sepanjang 2025, warga Indonesia menghabiskan 414 miliar jam di depan aplikasi HP. Empat ratus empat belas miliar jam, Lae. Secara global kita duduk manis di posisi kedua, cuma kalah dari India yang tembus 1,2 triliun jam. Bahkan Amerika Serikat ada di bawah kita. Di Asia Tenggara? Kita rajanya. Malaysia dan Singapura bahkan tak masuk 20 besar.

 

Pertanyaannya bukan lagi “sering buka HP atau tidak”, tapi “kapan kita tidak buka HP?”

 

Yang paling sering dijajal? Media sosial. TikTok nomor satu. Lalu short drama—Melolo naik 329% unduhan dalam setahun. Belum lagi utilitas, dompet digital, pinjol, OTT, e-commerce. Dari bangun tidur sampai mau tidur lagi, layar jadi teman paling setia. Kadang lebih setia dari pasangan.

Baca Juga  Parkir Masuk STNK : Solusi atau Cara Halus Nambah Beban Rakyat dibungkus Kebijakan

 

Di sinilah letak ironi yang pelan-pelan jadi tragedi kecil. Kita hidup di zaman informasi berlimpah, tapi literasi sering tertinggal. Kita baca judul, langsung percaya. Lihat testimoni, langsung transfer. Dengar suara meyakinkan di WA, langsung panik. Jempol lari, otak masih loading.

 

Algoritma memang dirancang bikin betah. Scroll tanpa ujung. Video satu menit terasa satu detik. Kita merasa sedang memakai aplikasi, padahal diam-diam perhatian kitalah yang sedang dipanen. Waktu kita jadi komoditas. Data kita jadi dagangan.

 

Tak heran kalau budaya “gampang percaya” makin subur di negeri yang warganya akrab sekali dengan notifikasi. Ini bukan cuma soal mentalitas, tapi soal paparan yang datang tanpa jeda—dari bangun tidur sampai mata hampir terpejam, timeline terus menyodorkan yang lagi viral. Fear of Missing Out alias FOMO pelan-pelan jadi “agama baru”; takut ketinggalan tren lebih menegangkan daripada takut ketinggalan bus. Like dan view terasa seperti oksigen sosial—sedikit saja seret, hati ikut sesak. Kalau sehari tak update, rasanya seperti bukan bagian dari zaman. Padahal kadang yang kita kejar cuma ilusi ramai, sementara akal sehat duduk di pojok, menunggu diajak bicara.

Baca Juga  Buah Anti Kiamat Ternyata Tumbuh di Indonesia, Namanya Sukun

 

Tapi mari jujur sebentar, Lae. HP itu netral. Dia cuma benda. Yang bikin repot itu cara kita memperlakukannya. HP-nya pintar, yang pakai jangan sampai kalah pintar.

 

Kalau 414 miliar jam itu dikumpulkan, entah berapa juta tahun umur manusia yang habis hanya untuk menatap layar. Bayangkan kalau separuhnya dipakai untuk membaca buku, belajar keahlian baru, atau sekadar ngobrol serius dengan keluarga tanpa distraksi notifikasi. Mungkin ranking literasi kita ikut naik, bukan cuma ranking durasi layar.

Baca Juga  Bupati Cilacap Memeras Demi THR: Ketika Syahwat Politik Tak Kenal Puasa

 

Solusinya sebenarnya sederhana, meski tak selalu mudah. Jangan scroll sambil nyetir—nyawa bukan paket COD. Batasi waktu, bukan cuma kuota. Kalau lagi ngobrol, simpan HP; tatap muka itu bukan fitur premium. Buat zona bebas gadget: kamar tidur jangan jadi kantor cabang TikTok. Coba puasa notifikasi sehari. Rasakan sunyinya, mungkin di situ akal sehat kembali terdengar.

Anak-anak pun perlu didampingi. Jangan sampai mereka lebih kenal swipe daripada sopan santun. Teknologi boleh maju, tapi karakter jangan mundur.

 

Kita boleh saja jadi ranking dua dunia urusan layar. Tapi semoga jangan ranking atas juga dalam urusan ketipu hoaks, pinjol ilegal, dan iming-iming palsu. Ngopi boleh lama, Lae. Scroll boleh sesekali. Tapi jangan sampai hidup kita yang di-scroll oleh algoritma.

 

Seruput lagi kopinya. Lalu tanya pelan-pelan ke diri sendiri: hari ini, siapa yang mengendalikan siapa?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *